Tata Cara Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

0 73

Tata Cara Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Walaupun namanya nyadran tetapi sasarannya jelas, bukan untuk makhluk halus tetapi untuk memperingati atas keberhasilan Adipati Menak Sopal membangun Dam Bagong untuk yang pertama kalinya. Pelaksanaan tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru itu dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya tradisi nyadran itu dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon di bulan Selo. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang tetap diperingati sampai sekarang ini.

Berdasarkan hasil wawancara dalam peringatan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru masyarakat harus bergotong-royong dalam mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut. Karena dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut banyak sekali perlengkapan yang harus dipersiapkan. Misalnya saja, sebelum pelaksanaan upacara tersebut masyarakat bergotong-royong membersihkan tempat atau makam yang akan digunakan untuk memperingati nyadran di Dam Bagong serta membuat panggung dan mendirikan terop.
Masyarakatlah yang mempersiapkan perlengkapan yang akan dijadikan sebagai perlengkapan nyadran dan ruwatan saat pelaksanaan upacara nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru. Karena banyak sekali bahan atau perlengkapan yang digunakan untuk sesaji dan ruwatan tersebut. Semua perlengkapan yang diperlukan untuk sesaji dan ruwatan itu harus lengkap atau dalam bahasa Jawa “Pepak”.
Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru antara lain sebagai berikut:
  • Penyembelihan kerbau (berkorban) yang dilakukan di dekat Dam Bagong yang bertujuan agar tidak terjadi banjir bandang lagi.
  • Bersesaji yang biasanya dilakukan oleh dalang ketika ruwatan. Banyak sekali perlengkapan yang digunakan untuk membuat sesaji misalnya saja, kembang telon, mule metri dan lain-lain.
  • Berdoa bersama saat melakukan sekarang di makam Adipati Menak Sopal sebagai penghormatan dan menghargai jasa-jasanya.
  • Berprosesi terlihat saat bapak bupati dan masyarakat berjalan dari makam Adipati Menak Sopal menuju Dam Bagong yang akan melemparkan kepala, kaki, kulit serta tulang kerbau ke dalam Dam Bagong.
  • Makan bersama yang dilakukan oleh para undangan dan masyarakat setelah acara larung selesai. Mereka semua makan daging kerbau yang sudah dimasak.
  • Ruwatan Wayang Kulit semalam suntuk yang bertujuan untuk keselamatan masyarakat Kabupaten Trenggalek demi menghindari bahaya dan bencana yang tidak diinginkan serta agar Dam Bagong tetap bisa mengairi sawah- sawah penduduk sehingga tetap bermanfaat.
Wayangan merupakan suatu akulturasi budaya yang sejak zaman kewalian (abad 14 oleh para wali) dijadikan sebagai hiburan dan alat dakwah. Selain itu, juga mampu menyampaikan pesan etis yang bermanfaat berupa pendidikan moral, keutamaan hidup pribadi dan masyarakat.
Source https://jelajahsejarah45.blogspot.com/ https://jelajahsejarah45.blogspot.com/2017/09/tradisi-nyadran-di-dam-bagong-kelurahan.html
Comments
Loading...