budayajawa.id

Tari Topeng Panji Asmarabangun, Yogyakarta

0 10

Tari Topeng Panji Asmarabangun adalah sebuah tarian topeng klasik gaya Yogyakarta yang menggambarkan tentang Panji Asmarabangun yang menjadi calon raja besar yang terlatih dan terdidik sebagai seorang ksatria, seorang pengabdi yang menjunjung tinggi dharma sebagai sarana penegak kewibawaan negara.

Tarian ini merupakan tarian tunggal yang dilakukan tanpa adanya dialog. Kisah ceritanya diambil dari epos panji yang diangkat dalam bentuk tari klasik gaya Yogyakarta. Kisah cerita Panji sering sekali diangkat dalam tari Klasik Jawa. Ceritanya merupakan murni cerita dari tanah Jawa bukan adopsi dari cerita Ramayana maupun Mahabarata. Bahkan kadang-kadang tidak hanya dalam bentuk tari klasik jawa saja tetapi dibuat model tari kontemporer juga.

Gerakan pada Tari Topeng Panji Asmarabangun ini menggunakan komposisi gerak ragam dari tari wayang wong, tetapi untuk lakon Panji, karena sebenarnya pakem dari wayang gedhok topeng itu, dimiliki oleh komunitas wayang topeng pedalangan. Perlu diketahui bahwa yang mengawali “wayang topeng” adalah Kridha Beksa Wirama pada tahun1918, bertempat di dalem Tejokusuman Yogyakarta. Dibawah pimpinan Pangeran Tejakusumo dan Pangeran Suryadiningrat yang membawa tari istana keluar tembok kraton bertempat di dalem Tejokusuman. Wayang topeng Kridha Beksa Wirama sesungguhnya ide dari wayang pedalangan kerakyatan, dan saling ada interaksi.

Ragam gerak pada Tari Topeng Panji Asmarabangun ini secara garis besar hampir sama dengan gerak tari klasik gaya Yogyakarta hanya ada beberapa tekanan-tekanan yang spesifik yang hanya digunakan pada tarian ini, seperti pacak gulu yang mana topengnya digerakan oleh kepala dan leher saja, kemudian gerakan obah lambung atau gerakan menggunakan gerakan perut, kemudian nendhang wiru atau gerakan menendang kain wiru yang digunakan.  dan terakhir tregelan atau gerakan patah-patah untuk menghidupkan karakter dan ekspresi topeng, karena disini topeng merupakan benda mati yang harus dihidupkan dalam tarian ini.

Busana yang dikenakan terinspirasi dari cerita Panji dari wayang gedhok dengan busana badan sampai bawahan mengambil dari inspirasi dari dalam Kraton. Pada bagian kepala menggunakan irah-irah tekes, sumping, topeng alus warna emas. Pada bagian badan menggunakan kalung susun tiga, dan jariknya menggunakan motip parang gendreh (parang 8 cm) yang dikenakan dengan system sapit urang, celana, boro, stagen (lontong) semuanya motipnya cindhe, sampur berjumlah satu dipinggang, serta klat bahu.

Iringan gendhingnya, karena pijakannya tarian klasik yang mana putra dan putri ada bedanya, walaupun dasar iringannya sama, di mana iringan tarian ini menggunakan iringan slendro, diawali dengan buko rebab, masuk ladrang irama dua, langsung masuk kejogedan (tarian). Setelah itu divariasi irama satu kemudian suwuk (selesai). Pada prinsipnya pola iringan tarian alusan itu semua sama. Kali ini iringannya diambil dari ladrang baskoro, slendro patet manuro.

Sebuah tarian yang memakai  warna topeng yang sebenarnya sangat mirip dengan ajaran dalam budaya Jawa yang menceritakan tentang nafsu manusia yang bersandar pada lima warna yaitu merah, hitam, putih, hijau dan emas. Dalam kehidupan manusia semua tergantung dari bagaimana kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara lima watak tersebut agar hidup kita menjadi lebih baik, damai secara lahir dan batin.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-topeng-panji-asmarabangun/
Comments
Loading...