Tari Tiga Kasih Pikiran Yogyakarta

0 87

Tari Tiga Kasih Pikiran yang merupakan sebuah tarian yang didalamnya menceritakan tentang penindasan, hal ini bukanlah yang lebih kuat lebih daripada yang ditindas, dalam tarian ini juga dibutuhkan pengolahan sebuah keterbatasan untuk menjadi sesuatu yang tidak terbatas.

Tarian ini diciptakan Yurika Meilani Purwaningsih yang merupakan karyanya yang on progress dari tahun 2017, dimana tarian ini terinspirasi dari pengalaman imperisnya, yang seiring berjalan waktu semuanya dilakukan dengan observasi-observasi yang didalamnya menyangkut tentang bullying (tertekan, antipati dan berontak).

Yurika Meilani Purwaningsih lahir pada tanggal 8 Mei 1996, beberapa karya tari yang telah dihasilkan diantaranya Amerta (2015), Rupo Loro (2015), Batir (2016), WA (2016), Rambu Rambut (2017), Hair Speech (2017), keSATU (2018), Min Nol (2018) dan Traffic Light (2018)Tari Tiga Kasih Pikiran ditampilkan dalam Gelar Karya Tugas Akhir Tari 2019.

  yang di selenggarakan di  Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon Bantul, tepatnya pada tanggal 11 sampai 12 Januari 2019, mulai pukul 19.30 Wib sampai selesai.

Gelar Karya Tugas Akhir Tari 2019 pada tahun ini mengangkat tema “Harmonisasi Tubuh Dalam Keberagaman Rasa” yang mempunyai makna bahwa dalam mencipta karya seni tari bisa melalui sebuah keberagaman kreatifitas yang dapat meningkatkan kualitas kepekaan seniman, yang kemudian akan mendorong hadirnya suatu karya-karya baru.

Komposisi dalam tarian ini terbagi dalam beberapa segmen, dimana pada segmen pertama bidang pada up prone yang menceritakan tentang tertekan. Dan setelah front tertinggi dibuka, ada ruang ke 2 yang menceritakan antipati (segmen kedua) dan setelah itu pada segmen ketiga ada pemberontakan dengan permainan ruang yang menjadi ciri khas dari tarian ini.

Gerak-gerak dalam tarian ini ragamnya menggunakan tari kontemporer, mulai gerak jatuh bangun, vibrasi, contra and rilis yang semuanya itu untuk penarinya, sedangkan untuk proses kreatifnya untuk segmen pertama sampai semen akhir mengadirkan tema gerak penindasan (bullying) yang sangat ekspresif.

Iringan musik yang mengiringi lebih menekankan pada makna terror kepada siapa saja yang ada dalam pertunjukan ini, mulai dari para pemainnya sampai dengan penontonnya, dengan suara iringan yang keras dan mengenai di hati tentang suasana penindasan (bullying).

Busana yang dikenakan lebih menekankan pada gambaran masalah kekuasaan pada penindasan (bullying) yang ada kekuasaan atas dan bawah. Kekuasaan atas digambarkan dengan busana berdasi dengan bawahan kolor yang menyimbulkan tentang yang di tindas.

Tari Tiga Kasih Pikiran merupakan tarian koreografi kelompok yang ditarikan oleh 6 penari perempuan dengan tubuh yang berbeda-beda. Dalam tarian ini juga menggunakan properti artistik yang mempunyai fungsi sebagai symbol untuk menerjemahkan suasana atau pesan tentang penindasan (bullying), seperti karet elastis sebagai bentuk kesakitan pada saat di bullying.

Property yang lain berupa boneka yang ada pada segmen 1, 2 dan 3 sebagai bentuk permainan antar korban dan pelaku bullying, dan ada kursi yang mengimajinasikan sebagai tempat perlindungan sehingga membuat nyaman, serta ada tangga besi di back stage yang merupakan imaginasi tangga kekuasaan.

Sebuah apresiasi pertunjukan yang ingin menampilkan bahwa manusia didunia ini mempunyai kelebihan dan kekurangan antar individu dan hendaklah kita selalu sadar janganlah melakukan penindasan (bullying) satu sama lainnya, ujar Yurika Meilani Purwaningsih.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-tiga-kasih-pikiran/
Comments
Loading...