Tari Srimpi Mondrorini, Setu Ponan ke 47

0 33

Tari Srimpi Mondrorini

Tari Srimpi Mondrorini adalah sebuah tarian klasik dari Pura Mangkunegaran Surakarta  yang menceritakan tentang pertempuran antara Raja Putri Suprobowati yang mempunyai Patih bernama Dewi Genowati dari Kerajaan Sigaluh dengan Sri Kenyo Srirajadi yang mempunyai patih bernama Dewi Nilowati dari Kerajaan Nuswro Brambang. Tarian ini ditarikan oleh Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta pada pegelaran seni tari di Dalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 47, tepatnya pada tepat tanggal 24 Maret 2018. Acara ini sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta dipimpin oleh Bapak RT Sri Hartono dan Ibu Umi, merupakan sebuah paguyuban yang terbuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin belajar maupun menari klasik Jawa khususnya gaya Mangkunegaran. Latihan diadakan dua kali seminggu setiap Rabu malam dan Minggu malam. Tari Srimpi Mondrorini merupakan tarian klasik gaya Surakarta yang diciptakan oleh Mangkunegoro VII. Tarian ini merupakan salah satu tarian srimpi yang terdapat di lingkungan Pura Mangkunegaran disamping ada satu lagi tari srimpi yang lain yaitu Srimpi Anglirmendhung.

Gerak tarian ini terbagi menjadi tiga yaitu maju beksan, inti beksan, dan mundur beksan. Awalan gerak biasanya disebut sembahan yang dilanjutkan dengan gerak sabetan, lumaksono, trisik, kemudian maju ke gawang sebelah kanan untuk peran Raja Putri Suprobowati dengan patihnya Dewi Genowati dan gawang sebelah kiri untuk peran Sri Kenyo Srirajadi dengan patihnya Dewi Nilowati. Tarian ini intinya pada adegan perang yang dimulai dengan tembang buko celuk padang bulan yang dilanjutkan dengan kembangan. Gerak kembangan terbagi dalam beberapa gerakan, yang pertama larasawit, kedua ukel angkrik, ketiga ipyek, keempat gajah-gajahan, enjer widung sampur dan terakhir leyotan.

Gendhing-gendhing pada tarian ini diiringi dengan musik gamelan klasik Jawa secara langsung dari grup Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta secara live show, dimana awalan tarian menggunakan gendhing ladrang Gondosuli yang kemudian pada adegan perangnya menggunakan gendhing srepegan. Busana yang dikenakan, pada bagian kepala menggunakan irah-irahan dan sumping, busananya menggunakan rompi warna merah yang dihiasi warna emas, klat bahu, kalung, gelang serta sampur berwarna hijau. Sedangkan jariknya menggunakan jarik samparan dengan motip parang. Riasan menggunakan riasan cantik dengan property keris dan jemparing (panahan).

Pada jaman sekarang ini, terjadi pergeseran kepemilikan jenis-jenis kesenian dalam Kraton ke arah kesenian masyarakat umum. Dimana tidak lagi menjadi kelompok elit tertentu, tapi sekarang menjadi milik komunitas yang lebih luas. Pergeseran ini disebabkan karena tuntutan jaman serta adanya penyempurnaan teknik penataan serta penyempurnaan bentuk fisikal kesenian sampai memperkaya tarian-tarian tersebut. Disamping itu juga untuk menyatukan tentang pengertian penyebarluasan wilayah dari lingkungan komunitas tertentu kearah komunitas yang lainnya.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-srimpi-mondrorini/
Comments
Loading...