Tari Srimpi Jatining Panembah, Yogyakarta

0 18

Tari Srimpi Jatining Panembah adalah sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang memberikan gambaran sebagai salah satu tarian yang merepresentasikan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan hidayat yang di berikan kepada umatnya Dalam kehidupan manusia pastilah menerima berbagai hambatan, kendala, kesedihan, kekecewaan, kebahagian yang selalu ada di seputar kehidupannya ini. Kesemuanya ini merupakan pilihan untuk memenangkan gejolak peran batin, kemana arah yang akan di jalaninya, baik dan buruk adalah pilihan di kehidupan ini.

Hanya kepasrahan dan ketulusan hati yang terdalam dalam menjalani kehidupan ini dan kita berharap kearah kebaikan kita berpijak. Diawali dengan pengharapan dan doa kepada Yang Maha Kuasa kita yakin semuanya akan berjalan lancar sesuai dengan kehendaknya. Jumlah 4 penari menunjukan makna filosofi  dalam budaya Jawa merupakan gambaran asalnya manusia yaitu tanah, air, api, dan angin atau udara. Bilangan 4 juga mewakili pengertian keberadaan sedulur papat (4 saudara yg menyertai kehidupan manusia) yaitu getih (darah), kawah (ketuban), ari-ari (plasenta) dan pusar. Angka 4 juga bisa diartikan sebagai  empat mata angin , yaitu  timur, selatan, barat, utara.

Acara ini merupakan  Program Penguatan Lembaga Seni dari Dinas Kebudayaan DIY dengan maksud dan tujuan untuk lebih menghidupkan seni budaya di DIY melalui sanggar-sanggar tari klasik agar lebih kreatif untuk menciptakan tarian-tarian klasik yang baru tapi masih mengaju pakem yang ada di dalam Kraton yang berguna untuk pelestarian tari klasik gaya Yogyakarta pada umumnya. Dalam acara ini, beliau menampilkan 7 tarian kreasi yang diciptakan pada tahun 2018 semua. Tarian-tarian tersebut antara lain Tari Topeng Asmarabangun, Tari Kijang, Tari Topeng Sekartaji, Beksan Retno Mataya, Srimpi Jatining Panembah, Kumbokarno Hanoman serta Beksan Wastra Rinakit. Ragam gerak dalam tari ini menggunakan ragam gerak tari putri gaya Yogyakarta seperti grudho, impang, encot, kicat, tawing dan ulap-ulap yang kesemuanya ini dikembangkan dan dikurangi disesuaikan dengan makna dan maksud yang mau disampaikan dalam tarian ini sesuai dengan kreator tarinya.

Hanya dengan waktu kurang lebih 12 menit tarian ini ditampilkan, makanya digunakan ragam gerak tari putri yang sederhana, karena disini lebih bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat umum agar lebih mudah dinikmati maupun dipelajari sehingga lebih popular di mata masyarakat, bahwa tarian klasik gaya Yogayakarta ini harus tetap hidup di Kraton maupun di masyarakat dalam perkembangan jaman sekarang ini. Busana yang digunakan pada Tari Srimpi Jatining Panembah menggunakan baju tanpa lengan atau biasa disebut rompi dengan hiasan bulu di kepala, jamang, slepe, kalung susun tiga, sampur, kain bawah yang menggunakan motip parang rusak barong ceplok gurdho. Iringan tarian ini menggunakan variasi dari gendhing kemanak dimana pada adegan perangnya menggunakan gendhing srepeg, yang mana pada keluar masuknya penarinya menggunakan gendhing gathi.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-srimpi-jatining-panembah/

Leave A Reply

Your email address will not be published.