Tari Srimpen Manggala Retno

0 69

Tari Srimpen Manggala Retno yang merupakan salah satu tari klasik gaya Surakarta yang didalamnya menceritakan tentang prajurit putri yang sedang berlatih perang. Tari ini diciptakan oleh S. Ngaliman Tjondropangrawit pada tahun 1973, dimana tari ini mengandung arti prajurit putri yang siap berperang dengan menggunakan konsep Tari Serimpi dengan tujuan agar Tari Serimpi lebih dikenal oleh masyarakat luas dan tarian ini tidak mempunyai fungsi yang khusus sehingga bisa di tarikan dimana saja.

Proses penciptaan Tari Srimpen Manggala Retno diawali dari adanya pelatihan Bedhaya Serimpi dan Wireng yang diadakan Pusat Kesenian Jawa Tengah 1971 di Sasanamulyo Surakarta. Pelatihan Bedhaya Serimpi dilatih oleh ibu Sulomo dan Ibu Darsosaputro.

Beberapa Tari Serimpi dipelajari, seperti Serimpi Lobong, Dempel, Anglirmendung, Sangupati, Gambirsawit, Gondokusumo, Ludiromadu, Tamenggit, Glondong-pring, dan Sukarsih. Sebelum menciptakan Tari Srimpen Manggala Retno, terlebih dahulu beliau S. Ngaliman Tjondropangrawit memadatkan beberapa Tari Serimpi, seperti  Serimpi Gondokusumo, Anglirmendung, Gambirsawit, dan Dempel.

Pemadatan tersebut dilakukan untuk mempersingkat durasi pertunjukan yang semula 1 jam menjadi 15 menit tanpa merubah esensi didalamnya. Adanya tanggapan positif dari berbagai pihak, akhirnya S. Ngaliman Tjondropangrawit berkeinginan mencipta Tari Srimpen Manggala Retno.

Kali ini Tari Srimpen Manggala Retno di tarikan oleh Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada hari kedua pada Pagelaran Tari 100 Thn S. Ngaliman Tjondropangrawit yang digelar di Pendopo SMKI (SMKN 8) Surakarta selama dua hari dari tanggal 26-27 Maret 2019 mulai pukul 19.00 wib sampai selesai, dimana hari itu bertepatan dengan HUT yang ke 16 Langen Beksan Nemlikuran.

Ragam gerak tarian ini mengambil dari ragam gerak tari klasik gaya Surakarta yang intinya terbagi dalam tiga bagian, yaitu maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Bagian maju beksan ditandai dengan penari berjalan masuk menuju tempat menari (gawang pokok).

Bagian beksan pertama terdiri dari sekaran-sekaran gerak seperti : sembahan, laras, glebagan, ngunus keris. Perangan terdiri dari perang kenser ukel adu manis tusukan dan tangkisan serta perang trek keris. Beksan kedua terdiri dari gerakan enjer, memasukkan keris. Sedangkan bagian mundur beksan penari berjalan keluar meninggalkan gawang pokok.

Pola lantai dalam Tari Srimpen Manggala Retno mengacu padsa tari Serimpi. Pada bagian maju beksan pola lantai yang digunakan adalah urut kacang. Pada bagian beksan terdiri dari (1) paju-pat belah ketupat yang sehadap dan saling berhadapan, (2) paju-pat kubus dua-dua adu kanan dan dua dua adu kiri, (3) jejer wayang saling berpasangan adu kanan. Empat penari dari depan berturut-turut ke belakang dinamakan batak, gulu, dada, dan buncit.

Tata busana yang dikenakan ada dua alternatif terutama pada bagian hiasan kepala. Pertama menggunakan sanggul kadal menek, dan yang kedua menggunakan jamang. Busana dengan hiasan kepala gelung kadal menek, bisa menggunakan mekak, kain atau jarit model samparan dan beberapa ricikan seperti klat bahu sebagai  asesoris.

Selain mekak bisa juga menggunakan model dodotan ditambah asesoris tanpa klat bahu. Sedangkan untuk hiasan kepala yang menggunakan jamang bisa menggunakan mekak atau rompi, kain samparan, dengan ricikan klat bau, sumping sebagai asesoris. Sedangkan properti yang digunakan dalam tari ini adalah dadap dan cundrik.

Tari Srimpen Manggala Retno diiringi oleh beberapa gending, yaitu  Pathetan Slendro 9, Ladrang Kembang Tanjung slendro 9, Ketawang Sumedang slendro 9, dan Ladrang Kagok Madura slendro 9. Irama yang digunakan adalah irama dadi dan irama tanggung. Maju beksan diiringi Pathetan Slendro 9, beksan 1 diiringi Ladrang Kembang Tanjung Slendro 9 dengan menggunakan irama dadi.

Pada bagian perangan menggunakan gending dan irama yang sama namun dengan tempo yang lebih cepat. Bagian beksan 2 diiringi oleh gendhing Ketawang Sumedang Slendro 9 irama dadi. Sedangkan pada mundur beksan menggunakan gendhing Ladrang Kagok Madura Slendro 9 irama tanggung.

“Sebuah tarian yang menampilkan desain dan pola lantai yang terjalin rapi seiring dengan gerak para tubuh penarinya menjadi hal yang menarik untuk ditonton ditambah iringan musik gamelan klasik Jawa dengan suara Waranggana yang melantunkan syair gerongan dengan tempo yang bervariasi  yang pasti akan memunculkan “rasa” yang dalam didalam hati para penontonnya”, ujar Drs. Supriyadi Hasto Nugroho, M.Sn , putra S. Ngaliman Tjondropangrawit nomer 7 (Dosen UNY).

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-srimpen-manggala-retno/
Comments
Loading...