Tari Sekar Jiwango Suro Bulan Kebudayaan

0 169

Dalam filosofi Jawa selalu menginginkan keharmonisan dan keselarasan dalam kehidupan yang berkonsep mamahayu hayuning bawono dan selalu menjadi landasan budi pekerti dalam setiap tindakan yang dilakukan manusia di dunia ini.  Ya semua ini tercermin dalam Tari Sekar Jiwango yang merupakan tari kontemporer yang menceritakan tentang bagaimana seorang manusia dalam membangun jati dirinya dalam menghadapi kehidupan lewat perenungan diri sehingga menjadi sebuah karakter yang tidak tergerus oleh jaman, karena masih banyak sekali nilai-nilai luhur dari bumi Nusantara ini yang masih relevan untuk dijalani dalam kehidupan ini.

Sebuah karya tari dari Dr. Sri Hadi S.Kar. M Hum, Dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, dari Sanggar Tari Solo Siva Dance yang ditampilkan pada acara Suro Bulan Kebudayaan 2018 di Museum Radya Pustaka pada hari Kamis, tanggal 11 Oktober yang mengambil tema “Nutup Bulan Suro”. Sanggar Solo Siva Dance didirikan oleh Dr. Sri Hadi S.Kar. M Hum pada tahun 2009, yang berhome base di Jln. Kemasen I no 7 Surakarta.

Sanggar ini juga digawangi oleh Lubini Trihasto sebagai penata musik dan Triavitia sebagai penata astistik. Sanggar ini lebih mengajak para remaja untuk mau belajar dan menggali potensi yang ada dalam diri masing-masing yang diasah untuk mencapai kecerdasan tubuh dan latihannya cenderung di alam terbuka seperti di pantai, gunung, situs maupun dipersawahan.

Tari Sekar Jiwango merupakan karya ketiga, karena karya pertama dalam bentuk tunggal, kemudian pada experiment yang kedua dalam bentuk duet dan kali ini di buat dalam bentuk kelompok yang secara penataan kareografernya berkolaborasi dengan pelukis (perupa) yang diletakan disudut stage. Beliau terinspirasi ingin membuat karya yang solah rupa, dimana dalam esensinya solah berarti gerak sedangkan rupa berarti bentuk lukisan dari para penari, sehingga secara filosofi berarti sebuah gerakan tarian yang disajikan kereografer yang ditangkap oleh perupa yang dielektrialkan melalui kanvas.

lam tari Bedhaya sesungguhnya, pola lantai melingkar yang esensinya menuju pada Yang Maha Kuasa yang dipadu dengan komposisi kiblat papat limo pancer yang semuanya menggambarkan tentang napas jiwa yang harus bisa mengendalikan diri sehingga menuju ke kehidupan yang lebih baik. Sedangkan esensi Bedhaya yang diatas panggung merupakan simbol Ibu Pertiwi (Nusantara) yang menganyomi bangsa Indonesia dengan makna penarinya memakai dodotan besar warna merah putih sebagai simbol gulo klopo.

Gerak dalam tarian ini lebih mengangkat pada prosesi ritual, dimana satu penari awal membawa obor yang diiringi dengan tembang-tembang, yang disusul penari yang membawa jambang berisi tepung dengan latar belakang  penari penabur bunga yang mengambarkan dimulainya kehidupan ini. Ibu pertiwi yang menjadi tanggung jawab diangkat di stage paling tinggi yang secara konstruksi sajian penarinya selalu bisa dilihat oleh penonton yang menari dengan irama yang monoton sebagai simbol detak jantung atau perjalanan hidup manusia (waktu). Secara keseluruhan gerakan dalam tarian ini merupakan percampuran antara tari kontemporer dengan tradisi.

Pola lantainya masih mengacu pada tari tradisi yang biasanya dipakai pada Bedhaya Srimpi, serta mencoba memaksimalkan ruang atau panggung itu sendiri menjadi sebuah energi yang menghidupkan tarian ini.Busana yang dikenakan masih mengacu pada busana tradisi seperti menggunakan batik, angkin coklat yang berfungsi meredam cahaya sehingga lebih soft dan menyatu dengan tanah sebagai symbol dari Ibu Pertiwi (Nusantara) dengan riasan yang natural.

Properti yang digunakan seperti topeng, klenting, jambangan, tepung terigu, grajen atau bubuk kayu untuk menghidupkan api di belakang panggung dan ikat sumpit. Garapan musiknya Tari Sekar Jiwango tidak terlalu banyak instrumentalnya, hanya ada 3 yaitu suling Bali, Kemenak yang merupakan salah satu alat musik yang digunakan pada Bedhaya Srimpi dan drumsi yang terbuat dari kulit yang didalamnya ada semacam butiran besi, bilamana dimainkan bisa menimbulkan suara seperti ombak air Kekuatan nilai-nilai tradisi harus selalu dijaga, karena nilai-nilai ini masih sangat relevan untuk dijalani dalam jaman sekarang dan ini merupakan salah unsur yang sangat penting karena merupakan pitutur yang sangat luhur sekali melalui pelajaran budi pekerti dalam menghadapi kehidupan didunia ini, ujar Dr. Sri Hadi S.Kar. M Hum.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-sekar-jiwango/
Comments
Loading...