Tari Sawung Tani Sanggar Kembang Lawu, Kabupaten Karanganyar

0 145

Tari Sawung Tani  yang merupakan sebuah tari tradisi garapan yang didalamnya menceritakan tentang ungkapan rasa syukur para petani dengan cara membawa beras dan ayam untuk dilepas, yang diyakini bisa mendatangkan keberuntungan dan dijauhkan dari kesialan, musibah, bencana alam dan nantinya bisa meraih kemakmuran serta kedamaian hidup di dunia ini.

Awalnya tarian ini dulu diberi nama Tari Kongkorongok yang mempunyai arti suara kokok ayam jago, tetapi karena nama tersebut identik dengan nama ke Jawa Baratan, maka kemudian diganti menjadi Tari Sawung Tani yang lebih familiar namanya bagi orang Jawa Tengah.

Tarian ini diciptakan pada tahun 2015 oleh para punggawa Sanggar Kembang Lawu, yaitu Dr. S Pamardi, S.Kar.,M.Hum, Satiti Dyah Sekarsari,S.Sn,  Tri Utami,S.Sn, dan  Friwi Aji Yasti, yang kali ini dipentaskan di pagelaran Pentas Tari Bersama di Taman Indonesia Kaya Semarang.

Pentas Tari Bersama ini diadakan pada hari Sabtu tanggal 1 Desember 2018. Pementasan di bagi dua, pada pukul 17.00 – 17.45 wib khusus tarian anak-anak, kemudian pada pukul 19.30 – 22.000 wib untuk tarian dewasa yang diselenggarakan di Taman Indonesia Kaya Semarang.

Pementasan ini diadakan oleh Sanggar Greget Semarang yang bekerja sama dengan Kementrian Koordinator Bidang Manusia dan Kebudayaan beserta Taman Indonesia Kaya Semarang.

Pada tahun ini mengambil tema “Gerakan Masyarakat Berbasis Budaya”dengan makna bahwa Pentas Tari Bersama ini benar-benar merupakan inisiatif dari gerakan masyarakat dan sanggar-sanggar tari dalam mengekspresikan jiwa seni sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangang seni budaya Indonesia secara nyata.

Sanggar Kembang Lawu berdiri pada tahun 2008, yang berhome base di Jl Tunas Harapan 3, Plosokerep, Desa  Ngringo, Kecamatan  Jaten, Kabupaten  Karanganyar, Jawa Tengah yang dipimpin oleh Elfitiany Kusumawati S. Sn yang lebih menfokuskan pada pelatihan tari dan tata rias pengantin.

Inspirasi terciptanya karya Tari Sawung Tani dari melihat ritual Mondosiyo di dukuh Pancot, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Pada ritual ini ada pelepasan Ayam yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat, dan siapa yang bisa mendapatkan  ayam tersebut akan mendapatkan berkah dan terhindar dari musibah.

Gerak dalam tarian ini sangat variatif dan dinamis, dimana disini berangkat dari ragam bentuk gerakan-gerakan tari tradisi gaya Surakarta seperti tanjak kaki, srisik dan lumaksono dengan pengembangannya dalam bentuk gerak binatang ayam dan petani serta gerak tari kerakyatan dengan identitas capingnya.

Busana yang digunakan terbagi menjadi dua, dimana petani menggunakan busana kain dan kebaya dengan rias cantik  layaknya petani desa, kemudian ayamnya pada bagian kepala/irah-irahannya, sayap dan  ekornya dibuat menyerupai ayam dengan bulunya, serta menggunakan binggel jalu pada kakinya.

Irama yang mengiringi merupakan garapan khusus dengan gamelan klasik Jawa dimana awalannya menggunakan suara seruling, semua ini dipadu dengan vokal yang menggambarkan kehidupan para petani dan ayam didunia ini.

Sebuah tarian yang memberikan edukasi atau pelajaran tentang pelestarian sebuah ritual yang menghubungkan antara manusia dan lingkungannya dengan harmonis yang layak kita teladani, dan semua ini dengan bimbingan Yang Maha Kuasa agar semua halangan dan rintangan dapat dilalui semuanya.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-sawung-tani/
Comments
Loading...