Tari Petik Kopi Jember

0 50

Tari Petik Kopi

Tari Petik Kopi, sebuah tarian yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jember. Dari namanya kita dapat menyimpulkan bahwa tarian satu ini adalah tarian yang unik. Mengapa demikian? Karena tarian yang satu ini berusaha menggambarkan keseharian masyarakat Jember —mayoritas dianggap menanam kopi— yang dikemas dalam satu rangkaian gerak. Penyimbolan sangat umum di dalam sebuah tarian.

Tarian yang digadang-gadang sebagai tarian milik Jember tersebut lahir dalam rahim Universitas Jember. Sang pencipta tarian tersebut bernama Parmin ‘Ras’. Beliau adalah seniman yang berasal dari daerah Lumajang. Tarian tersebut diciptakan karena terinspirasi oleh aktifitas mayoritas masyarakat Jember yang menanam kopi. Warga begitu semangatnya dalam memetik panenan kopi. Suasana meriah tersebutlah yang coba divisualisasikan dalam rangkaian gerakan oleh Parmin ‘Ras’.

Ilustrasi dari tarian petik kopipun menggunakan campuran antara musik jawa dan madura. Hal tersebut menjadikan satu citarasa baru tatkala komposisi sakral dari ciri khas gamelan Jawa berpadu harmonis dengan aroma rancak ala Madura. Bukan hanya ilustrasi, gerakan dalam tarian tersebut juga diambil berdasarkan perpaduan kedua sumber tersebut. Hal itu dilakukan karena mengingat masyarakat Jember adalah masyarakat percampuran antara kedua suku tersebut. Sehingga, segala seluk-beluk yang ada di Jember pastilah tidak lepas dari kedua warna tersebut.

Tarian petik kopi dimulai dari sepasang penari pria dan wanita saling berinteraksi. Kedua penari tersebut menggambarakan suasana riang gembira dikala waktu panen kopi tiba. Setelah itu, penari berikutnya yang keseluruhan berjumlah 5 orang mulai masuk dan menggambarkan saat dimana mereka sedang memetik kopi di ladang. Kelima penari perempuan tersebut membawa “tumbu” dimana nantinya itulah yang akan menjadi wadah dari kopi yang dipetik. Keseluruhan, tarian tersebut menggambarkan suasana masyarakat yang begitu riang gembira saat musim petik kopi tiba.

Di dalam Universitas Jember sendiri, tari petik kopi cukup eksis. Bahkan diadakan sebuah festival untuk tarian petik kopi. Nampaknya, pihak Universitas mulai memperhatikan pentingnya kesenian dan kebudayaan daerah sebagai salah satu tiang nasionalisme.  Terlepas dari itu, tarian ini sangat luar biasa. Tarian yang anti-mainstream. Selain itu, munculnya tarian ini memberikan dampak luar biasa terhadap kalangan mahasiswa pada umumnya. Mahasiswa yang notabene memandang kesenian tradisi, terlebih tarian tradisional tidak lagi menjadi sebuah hal yang kolot. Rasa kesadaran tumbuh pada sebagian mahasiswa untuk mencintai produk dan budaya lokal daripada asing.

Sekarang, jumlah penari tradisi di Universitas Jember sudah tidak bisa lagi dihitung dengan jari-jari. Dan mereka juga akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya kepedulian Universitas terhadap kesenian dan budaya lokal. Akhirnya, para mahasiswa tersebut tidak lagi memiliki rasa malu untuk lebih memilih kesenian dan kebudayaan nasional daripada asing. Yang paling penting adalah dimana mereka tidak takut lagi dicap sebagai “penari tradisional”.

Source https://lokalkarya.com https://lokalkarya.com/selayang-pandang-tari-petik-kopi.html
Comments
Loading...