budayajawa.id

Tari Panembahan Senopati dan Retno Dumilah

0 15

Tari Panembahan Senopati dan Retno Dumilahadalah sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang ceritanya berangkat dari sejarah Kerajaan Mataram yang pada saat itu Panembahan Senopati melakukan ekspansi ke daerah Madium. Adipati Madium mempunyai seorang puti yang bernama Retno Dumilah, beliau memberi titah kepada putrinya agar menjaga Madiun dari ekspansi Panembahan Senopati sampai tetes darah terakhir. Adipati Madiun memberikan sebuah pusaka yang sangat ampuh sekali bernama Keris Kyai Gumarang kepada putrinya.

  

Mengetahui hal tersebut Panembahan Senopati menggunakan siasat perang yang beda dengan ekspansinya yang biasa beliau gunakan. Kali ini menggunakan siasat bujuk rayu. Dan taktik itu berhasil. Dalam peperangan tersebut, walaupun Retno  Dumilah menggunakan kekerasan tapi semua itu di balas dengan Panembahan Senopati dengan kasih sayang layaknya seorang laki-laki mencintai seorang wanita dan siasat itu berhasil. Bahkan keduanya saling jatuh cinta, akhirnya keduanya menjadi suami istri.

Tarian ini merupakan tarian ciptaan Alm. Sasmita Dipura (Romo Sas) pada tahun 1951, yang kali ini ditarikan oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa. Biasanya tarian ini ditarikan pada perhelatan sebuah pernikahan. Tapi kali ini tari ini ditarikan dalam acara Revitalisasi yang menampilkan dua tarian yaitu Tari Bedaya Murti Panukmaningsih dan Tari Panembahan Senopati dan Retno Dumilah.

Acara ini merupakan program rutin dari Taman Budaya Yogyakarta yang diselenggarakan untuk program aksi dari team Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang sekarang ini digalakan oleh Kementrian Kebudayaan. Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk bisa di ikut dalam acara ini dan mendapat sertifikasi adalah karya ini harus ada dokumentasi serta diskripsi kajian akademik terkait dengan karya tersebut.

Taman Budaya Yogyakarta membuat kajian tarian ini secara kontekstual dari sebuah setting sejarah yang nantinya sangat layak untuk diangkat menjadi sumber cerita dalam petilan keduan tarian ini. Dengan pertunjukan seperti ini dapat berdampak positip terhadap generasi muda kedepannya. Muatan edukasilah yang lebih dipentingkan untuk acara ini.

Gerakan pada Tari Panembahan Senopati dan Retno Dumilah merupakan gerak dari ragam gerak tari klasik gaya Yogyakarta, seperti untuk putranya ada tawing dan pendapan, sedangkan putrinya ada kicat dan gordo, yang mana gerakan-gerakan tari klasik gaya Yogyakarta ini dikombinasikan, hanya dipindah posisinya saja. Ragam geraknya juga menggambarkan percintaan. Ini bisa dilihat dari tarian ini, seperti keduanya saling berpegangan tangan dan berpandangan mesra.

Busana yang digunakan menggunakan busana Teni dan pakai tepen lancur namanya untuk yang penari Panembahan Senopatinya,  sedangkan untuk yang putri menggunakan kebaya dengan nyampingan menggunakan cucutan bukan sapit urang lagi. Iringan gendhingnya menggunalan lagon jugag pelog barang, sekar tengahan sumekar, playon pelog barang barang, rambangan durma, playon pelog barang, rambangan pangkur, pelog seseg, ladrang sedyaasih, ketawang mijil sulastri dan terakhir menggunakan lagon jugag.

Tari Panembahan Senopati dan Retno Dumilah

1 Persembahan Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa
2 Penari
  1. Advent Risang Priyambodo (Penembahan Senopati)
  2. Dewati Rahmayani (Retno Dumilah)

Sebuah acara revitalisasi tari yang bersumber dari tari kerakyatan dan klasik yang sangat membantu dalam edukasi siapa saja, terutama kaum muda/seniman muda. Makna dan filosofi kedua tarian inilah yang sebenarnya harus kita pegang dan tiru, bahwa permusuhan tidak harus di akhiri dengan peperangan tapi harus sebaliknya, permusuhan harus di balas dengan cinta kasih.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-panembahan-senopati-dan-retno-dumilah/
Comments
Loading...