Tari Lengger Lanang, Desa Somakaton

0 56

Tari Lengger Lanang adalah sebuah tarian tradisional khas Banyumasan yang menceritakan tentang perjuangan seorang wanita yang dalam hal ini ditarikan oleh sekelompok mahasiwa laki-laki, dimana disini mereka ingin memperoleh hak-haknya didunia ini dengan melakukan kepasrahan secara total kepada Yang Maha Kuasa.

Pagelaran Tari Lengger Lanang Banyumasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing karena kesenian tradisional ini merupakan budaya populis yang tumbuh dan dilestarikan di Banyumasa sejak dahulu kala. Dalam pagelaran kali ini ada sesuatu yang sangat menarik karena selain penarinya semua adalah laki-laki, riasan mereka benar-benar melebihi para wanita lengger pada umumnya, serta mereka sangat cantik, seksi dan semok.

Munculnya Tari Lengger Lanang ini dikarenakan keprihatinan para mahasiswa ini, karena penerus tarian ini semakin jarang terlihat dan muncul dikarenakan tarian ini memang sejak dahulu sudah dianggap tarian penuh kemaksiatan (tarian prostitusi terselubung), dimana dulu dianggap setelah menari, para perempuan ini bisa diajak berhubungan layaknya suami istri oleh para lelaki hidung belang.

Tari Lengger tertua bernama Dariah yang bermukim di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Meskipun sudah berusia lanjut tapi beliau tidak kalah luwes dengan para penari perempuan, bahkan beliau pernah mendapat perhargaan dari Presiden Susilo Bambang Hudoyono sebagai Maestro Seniman Tradisional pada tahun 2011.

Para mahasiswa ini benar-benar menarikan tari lengger ini dengan luwesnya, bahkan bisa dikatakan mereka melebihi para penari perempuan, mulai gerak kepala, badan, tangan dan kaki yang benar-benar bertenaga dan luwes layaknya tenaga mereka sebagai laki-laki. Yang paling heboh ketika para penari ini menggerakan pinggulnya, mereka benar erostis dalam tanda petik. Mereka sangat tahu gerkan-gerakan pinggul yang benar-benar disukai oleh para pria, sehingga para penonton tambah pecah dan hebohnya.

Mulai dari tepuk tangan, yel-yel sampai teriakan teriakan selalu muncul begitu mereka melakukan gerakan favorit ini. Bahkan para penari ini mengajak para penonton untuk menari lengger ini di panggung tanpa sungkan-sungkan, mereka menarik para penonton dengan sampur di tangan mereka.

Para penari lengger lanang ini benar-benar mempelajari seni tradisional Banyumasan ini secara serius, karena walaupun tarian tradisional ini dikenal dengan tarian cross gender, tarian ini merupakn sebuah tarian yang serius bukan tarian candaan atau bahan tertawaan. Bahkan tarian tradisional ini mempunyai akar dan basic yang tumbuh dari dalam masyarakat Banyumas.

Tarian ini diiringi dengan gamelan khas jawa klasik yang disertai gendhing-gendhing Banyumasan. Ada beberapa bagian dalam mengiringi tarian ini seperti gendhing ilo gendhing laras slendro pathet manyura, gendhing lobong ilang laras slendro pathet manyura, gendhing kulu-kulu laras slendro pathet 33 manyura dan gendhing kebogiro laras slendro pathet manyura.

Busana yang dikenakan pada penari ini memakai memakai kain motip parang, baju tanpa lengan atau kemben dengan warna hijau kombinasi kuning, sampur. Hiasan rambut gelung bokor, rajutan pandhan. Perhiasan yang digunakan berupa kalung, gelang, cincin, centhung bunga ceplok jebehan. Sedangkan riasannya menggunakan riasan cantik.

Sebuah pelestarian dan pengembangan Tari Lengger Lanang yang dilakukan para Mahasiswa UNY yang layak mendapat apresiasi yang besar, kerena tarian ini selain sudah langka tapi masih bertahan sampai sekarang. Siapa lagi kalau bukan para seniman-seniman tari yang mau melakukan semua ini dimana tarian ini bagian dari seni budaya Indonesia yang terkenal dengan keragamannya.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-lengger-lanang/
Comments
Loading...