Tari Lawung Jajar

0 16

Tari Lawung Jajar

Tari Lawung Jajar adalah sebuah tarian yang mengambarkan tentang prajurit Kraton Yogyakarta yang sedang berlatih perang dengan menggunakan property Lawung (sebuah tombak yang berujung tumpul) yang ditarikan oleh 12 orang yang terdiri dari 2 botoh, 4 jajar, 4 pengampil dan 2 salaotho. Tarian ini ditarikan pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti yang merupakan sebuah acara rutin yang digelar pada tanggal 4 Maret 2018 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

Tarian ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), dimana idenya mengambil dari acara gladi setunan di lapangan alon-alon, dimana para prajurit naik kuda menggunakan lawung setiap hari sabtu latihan perang yang kemudian diterjemahkan dalam sebuah tarian. Dulu tarian ini komplitnya penarinya ada 16 penari yang terdiri dari 2 orang botoh, 4 orang lurah, 4 orang jajar, 4 orang pengampil dan 2 orang salaotho. Dalam perkembangannya tarian ini kemudian di modifikasi yang kadang-kadang dihilangkan 4 orang lurahnya atau 4 orang jajarnya sesuai dengan kreasi masing-masing creator. Tarian ini biasanya digunakan oleh Sultan untuk mewakilinya secara pribadi, manakala Sultan mempunyai hajat mantu, dimana Sultan tidak bisa hadir, maka diwakilkan oleh para lawung ini secara komplit. Resepsi yang biasanya dimulai dari kepatihan menaiki kuda yang disongsong karena sebagai wakil dari Sultan.

Gerak dasar dari Tari Lawung Jajar adalah memakai gerak kapang yang lebih kasar, karena pangkatnya lebih rendah dibandingkan dengan lawung Lurah, agak sigrak seperti tari keprajuritan yang sifatnya membangkitkan sifat kepahlawanan prajurit Kraton dimasa itu. Geraknya lebih merupakan sindiran-sindiran halus terhadap ketidaksukaan Sultan terhadap pembesar-pembesar Belanda di Kraton Yogyakarta. Busana yang dikenakan pada Tari Lawung Jajar terbagi menjadi beberapa peran dimana busana pada 2 botoh menggunakan jarik dengan motip parang barong ceplok gurda, celana, bara, stagen, sampur bermotip cinde, kamus timang, kaweng cinde buntal, kiat bahu candrakirana, kalung sungsun, sumping mangkara ron dan keris gayaman serta oncen keris.

Sedangkan 4 orang jajar dan pengampil mengenakan kain kawung ageng ceplok gurda, celana cinde, bara cinde, stagen cinde, kamus timang, sampur cinde, kaweng cinde, buntal, kiat bahu nganggrang, kalung tanggalan oren, keris gayaman dan oncen keris, serta klinthing. Dan dua orang salaotho mengenakan kain parang seling, celana panji putih, kopel kulit, baju beskap biru tua (gelap), kacu, iket lembaran, dan klinthing.

Iringan gendhingnya menggunakan gamelan klasik Jawa dengan gendhing roning tawang yang kemudian dilanjutan dengan gendhing dawah gangsaran pada saat adegan peperangannya. Tari Lawung Jajar menyimbolkan seorang laki-laki yang gagah perkasa dengan tongkatnya, sedangkan seorang perempuan dilambangkan sebagai tanah ibu pertiwi. Ini semua terlihat dari lelagon Tari Lawung Jajar sebagai petuah Sang Sultan tentang perkawinan dengan symbol kesuburan.

Source https://myimage.id/ https://myimage.id/tari-lawung-jajar/

Leave A Reply

Your email address will not be published.