Tari Langendriyan Kesenian Asli Jawa

0 1.070

Langendriyan adalah kesenian Jawa yang berbentuk dramatari. Apabila Langendriyan dibandingkan dengan wayang orang yang juga satu bentuk drama tari, tetap memiliki perbedaan. Perbedaan itu tampak pada bentuk dialog yang digunakan. Bentuk pertunjukkan wayang orang pada umumnya menggunakan dialog antawacana (percakapan biasa) dan kadang-kadang ada sedikit tembangnya, sedangkan Langendriyan semua dialognya menggunakan tembang. Oleh karena itu, dapat disebutkan bahwa Langendriyan adalah dramatari dengan menggunakan dialog tembang, yang artinya pemeran tokoh dalam cerita langendriyan ketika berdialog menggunakan tembang macapat, yang kadang-kadang dalam satu pupuh tembang dibawakan oleh seorang saja, tetapi terkadang juga dibawakan oleh lebih dari satu orang secara bergantian.

Dialog dalam Langendriyan sangat erat kaitannya dengan nilai sastra. Jalinan ceita tercipta melalui urutan tembang sehingga memiliki nilai sastra yang sangat tinggi. Horace berpendapat bahwa sastra yang baik adalah sastra yang mempunyai fungsi dulce et utile (menyenagkan dan berguna). Dulce berarti menyenangkan karena sastra bukan sesuatu yang menjemukan, bukan suatu keborosan, tetapi kesenangan yang tidak disebabkan oleh hal-hal itu sendiri. Utile bearti ‘bermanfaat’, adalah pemberian pengetahuan-pengetahuan termasuk anjuran tentang kesusilaan sebagai pengembang dan pemerkaya pandangan hidup.

Sejarah Tari Langendriyan

Langendriyan di Surakarta pada awalnya tumbuh di Pura Mangkunegaran  pada zaman pemerintahan K.G.P.A.A Mangkunegara IV, yaitu antara tahun 1853-1881. Menurut R.M. Sayid, Langendriyan di Mangkunegaran Surakarta diciptakan oleh R.M.H. Tandhakusuma (menantu Mangkunegara IV) pada tahun 1881.  Pada dekade 1970-an, Langendriyan tampak berkembang di dalam maupun di luar Mangkunegaran. Kemudian pada tahun 1972, S. Maridi menyusun pethilan Langendriyan Menakjingga-Damarwulan yang berpijak pada gaya atau versi Mangkunegaran. Cerita Damarwulan terbagi menjadi empat episode, yaitu: Damarwulan Ngarit, Ranggalewe Gugur, MenakjinggaLena, dan Jumenenging Damarwulan Dados Ratu ing Majapahit Kagarwa Ratu Ayu.

Langendriyan gaya Yogyakarta diciptakan oleh KGPA Mangkubumi, putra Sri Sultan Hamengkubuana VI. Lakon-lakon yang diceritakan dalam langendriyan gaya Yogyakarta dipetik dari Serat Damarwulan. Spesifikasi atau ciri khas Langendriyan gaya Yogyakarta adalah cara atau posisi setiap penari dalam membawakan tarianya, yaitu dengan jongkok atau berlutut, yang dalam terminologi jawa disebut jengkeng, oleh karenanya Langendriyan gaya Yogyakarta sering disebut joged jengkeng. Para penarinya campuran laki-laki dan perempuan.

Source Langendriyan Salah Satu Kesenian Opera Asli Jawa Secuil tentang LANGENDRIYAN dan LANGEN MANDRA WANARAN
Comments
Loading...