Tari Klono Topeng Sewandono

0 67

Tari Klono Topeng Sewandono

Tari Klono Topeng Sewandono adalah sebuah tarian yang menggambarkan tentang Prabu Sewandono yang berasal dari Kerajaan Bantarangin (sebuah kerajaan yang dipercaya ada di daerah Ponorogo pada jaman dahulu) yang sedang jatuh cinta dengan Dewi Galuh Sekartaji. Tarian ini ditarikan oleh Sanggar Tari Irama Tjitra pada Pagelaran Pariwisata di Pendopo Srimanganti merupakan sebuah acara rutin yang digelar pada tanggal 18 Maret 2018 yang bertujuan sebagai tontonan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Selain itu, pagelaran ini sebagai tempat dan sarana ekspresi bagi seniman-seniman Yogyakarta.

Sanggar Irama Tjitra adalah sebuah sanggar tari gaya Yogyakarta yang berdiri pada tanggal 25 Desember 1949 yang kegiatan setiap harinya di Bangsal Wiyoto Projo, Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur DIY. Sanggar ini dulunya dibentuk oleh para seniman-seniman muda yang bergabung di Sanggar Tari Krido Bekso Wirama yang merupakan sanggar tertua di Yogyakarta yang lahir di luar tembok Kraton Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1918. Sanggar Irama Tjitra pernah vakum agak lama lepas peristiwa pada tahun 1965 di Indonesia, tapi kemudian mulai aktip lagi pada tahun 1997 sampai sekarang. Sanggar ini sekarang lebih memprioritaskan regenerasi penari, dimana penari yang lebih muda lebih diberi kesempatan untuk tampil pentas dengan bimbingan para seniornya.

Dilihat dari warna topeng pada tarian ini, sebenarnya sangat mirip dengan ajaran dalam budaya Jawa yang menceritakan tentang nafsu manusia yang bersandar pada lima warna yaitu merah, hitam, putih, hijau dan kuning. Dalam kehidupan manusia semua tergantung dari bagaimana kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara lima watak tersebut agar hidup kita menjadi lebih baik, damai secara lahir dan batin. Penggambaran karakter pada tarian ini sangat jelas, dimana Prabu Sewandono digambarkan penari yang memakai topeng berwarna merah yang berkumis tebal, mata melotot dan berekpresi bengis sebagai symbol manusia yang bertabiat buruk, penuh amarah, kejam, tidak bisa mengendalikan hawa nafsu serta angkara murka.

Tarian ini merupakan tarian tunggal yang dilakukan tanpa adanya dialog. Kisah ceritanya diambil dari epos panji yang diangkat dalam bentuk tari klasik gaya Yogyakarta. Kisah cerita Panji sering sekali diangkat dalam tari Klasik Jawa. Ceritanya merupakan murni cerita dari tanah Jawa bukan adopsi dari cerita Ramayana maupun Mahabarata. Bahkan kadang-kadang tidak hanya dalam bentuk tari klasik jawa saja tetapi dibuat model tari kontemporer juga. Komposisi gerak tarian ini memakai  pola lantai berbentuknya Y, dimana geraknya di tengah kemudian samping kanan dan samping kiri. Geraknya didominasi dengan gerak kalang kinantang topeng, muryani busono disamping gerak atrap jamang.

Pada gerak tarian ini banyak gerak yang dilakukan menggunakan lambung dan gerak paling penting adalah permainan gerak di wajah (topeng) yang menggunakan teknik tertentu untuk menghidupkan karakter topengnya (gerak patah-patah) disamping gerak nyampar sapit urang (tendangan jarik yang dikenakan). Tari Klono Topeng Sewandono terbagi dalam beberapa gerakan inti  antara lain Kencak Srodok, Sembahan, Kopyokan, Blugeran, Oyok, Iluh-iluh, Tanduk, Liwung, Lembehan, Lumputan, Solah Kayul, Poseng, Kencak, Kopyokan Uter, Balang Jumlat, Kencak Siring, Ingge’, Ulap-ulap, dan ragam gerak penghubung antara lain Gedrug gawang, Singget 1, Singget 2, Singget 3, Singget 4, Sirig, Labas, Labas Kencak.

Busana yang dikenakan, pada bagian kepala menggunakan pogok kekesan, irah-irah bledekan besar dengan mahkota raja, sumping, topeng gagah warna merah. Pada bagian badan dan kaki menggunakan kalung trap satu, kaweng (kain merah yang disilangkan didada) dan jariknya menggunakan motip parang gordo besar yang dikenakan dengan system capit urang, celana, boro, stagen (lontong) semuanya motipnya cindhe, sampur, kamus timang, buntal (bentuknya panjang terbuat dari wol dengan warna-warni) serta klat bahu.

Irama gendhing pada tari ini menggunakan gendhing Ladrang Bendrong Slendro Mayuro dengan gamelan klasik Jawa yang komplit seperti kendang, demung, saron, peking, bonang, slenthem, kenong, kethuk, gender, gambang, rebab, siter, suling serta gong. Joged Mataram adalah salah satu budaya asli Kraton Yogyakarta yang dijadikan aturan baku atau pakem untuk pemahaman dan kesempurnaan yang utuh dalam menari tari klasik gaya Yogyakarta, yang kesemuanya itu bisa diperoleh harus dengan proses latihan yang rutin yang didukung oleh konsentrasi, greged, sengguh dan ora mengkuh.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-klono-topeng-sewandono/
Comments
Loading...