Tari Klono Topeng Gagah

0 7

Tari Klono Topeng Gagah

Tari Klono Topeng Gagah adalah sebuah tarian yang menggambarkan tentang Prabu Sewandono yang berasal dari Bantar Angin dengan gerak glelengnya (bergaya) yang sedang jatuh cinta dengan Dewi Candrakirana. Ini sangat terlihat jelas pada gerakan ketika ada gerakan gandrung di salah satu pojok panggung, dimana Prabu Sewandono sedang mendatangi wanita pujaannya, ketika sampai ditempat yang didatangi, ternyata wanita pujaannya itu hanya sebuah ilusi. Ternyata dia kena halusinasi cinta seperti kebanyakan orang yang sedang dilanda cinta, dimatanya hanya ada sang pujaan hati.

Penggambaran karakter pada tarian ini sangat jelas, dimana Prabu Sewandono digambarkan penari yang memakai topeng berwarna merah yang berkumis tebal, mata melotot dan berekpresi bengis sebagai symbol manusia yang bertabiat buruk, penuh amarah, kejam, tidak bisa mengendalikan hawa nafsu serta angkara murka. Dilihat dari warna topeng pada tarian ini, sebenarnya sangat mirip dengan ajaran dalam budaya Jawa yang menceritakan tentang nafsu manusia yang bersandar pada lima warna yaitu merah, hitam, putih, hijau dan kuning. Dalam kehidupan manusia semua tergantung dari bagaimana kemampuan manusia menjaga keseimbangan antara lima watak tersebut agar hidup kita menjadi lebih baik, damai secara lahir dan batin.

Tarian ini merupakan tarian tunggal yang dilakukan tanpa adanya dialog. Kisah ceritanya diambil dari cerita panji yang diangkat dalam bentuk tari klasik gaya Yogyakarta, yang murni dari tanah Jawa bukan mengadopsi dari cerita Ramayana maupun Mahabarata. Komposisi gerak tarian ini memakai  pola lantai berbentuknya Y, dimana geraknya di tengah kemudian samping kanan dan samping kiri. Geraknya didominasi dengan gerak muryani busono disamping gerak atrap jamang. Pada gerak tarian ini banyak gerak yang dilakukan menggunakan lambung dan gerak paling penting adalah permainan gerak di wajah (topeng) yang menggunakan teknik tertentu untuk menghidupkan karakter topengnya (gerak patah-patah) disamping gerak nyampar sapit urang (tendangan jarik yang dikenakan).

Busana yang dikenakan pada Tari Klono Topeng Gagah, pada bagian kepala menggunakan irah-irah bledekan besar dengan mahkota raja, sumping, topeng gagah warna merah. Pada bagian badan dan kaki menggunakan kalung trap satu, kaweng (kain merah yang disilangkan didada) dan jariknya menggunakan motip parang gordo yang dikenakan dengan system capit urang, celana, boro, stagen (lontong) semuanya motipnya cindhe, sampur berjumlah satu dipinggang, dibahu ada dua, kamus timang, buntal (bentuknya panjang terbuat dari wol dengan warna-warni) serta klat bahu.

Irama gendhing pada Tari Klono Topeng Gagah menggunakan gendhing Bendrong dengan gamelan klasik Jawa yang komplit dari kendang, demung, saron, peking, boning, slenthem, kenong, kethuk, gender, gambang, rebab, siter, suling serta gong. Untuk menuju kesempurnaan dan pemahaman yang utuh di dalam tari klasik gaya Yogyakarta harus mengikuti aturan baku/pakem yang mengadopsi budaya Kraton Yogyakarta yang lebih dikenal dengan joged Mataram. Kesemuanya itu bisa diperoleh harus dengan proses latihan yang rutin yang didukung oleh konsentrasi, greged, sengguh dan ora mengkuh.

 

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-klono-topeng-gagah/

Leave A Reply

Your email address will not be published.