Tari Gusjigang, Gambaran Masyarakat Kudus dalam sebuah Gerakan

0 48

Tari Gusjigang, Gambaran Masyarakat Kudus dalam sebuah Gerakan

Gusjigang atau Bagus, Ngaji dan Dagang yang merupakan ajaran luhur warisan Syekh Ja’far Shoddiq untuk masyarakat Kudus kini diimplementasikan ke dalam sebuah kesenian. Budaya yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Kudus tersebut disulap oleh sekumpulan anak-anak kreatif yang tergabung dalam Keluarga Kudus Yogyakarta dalam sebuah kreasi tarian. Galuh Winda Olief (21), salah satu pencipta tari kreasi yang juga mahasiswa Jurusan Seni Tari di Institut Kesenian Yogjakarta memaknai Gusjigang adalah sebagai pedoman hidup masyarakat Kudus untuk hidup secara seimbang antara dunia maupun akhirat.

“Gus” diartikannya sebagai “bagus” dan memiliki makna jika ingin memiliki kebahagiaan dunia dan akhirat manusia harus memiliki akhlak atau perilaku yang baik. “Ji” yang diartikan ngaji adalah cara mendapatkan kebahagiaan akhirat. Sedangkan “Gang”, atau dagang diartikan sebagai jalan untuk mendapatkan kebahagiaan dunuawi.

Terkait awal mula tercipta, Olief menjelaskan butuh pemahaman mendetail terhadap apa dan bagaima Gusjigang. Seluruh makna dalam prinsip hidup Wong Kudus tersebut dikupasnya satu per satu untuk di ekspresikan kedalaman sebuah gerakan. Dibantu Al Mizan, Olief membuat musik untuk tarian Gusjigang tersebut. Sedangkan untuk busananya, merupakan hasil karya Olief dalam mengimplementasikan sosok wanita yang anggun, religius namun tidak melupakan unsur klasik.

Untuk gerakan, bagus ditunjukkan dari gerakan bersolek. Dalam hal ini adalah memperbaiki akhlaknya. Sedangkan ngaji diimplementasikan pada gerakan wudhu yang mencerminkan ketaatan manusia kepada Tuhan. Serta dagang yang digambarkan gerakan memikul maupun kipas-kipas uang yang merupakan bagian dari perjuangan masyarakat dalam mencari nafkah.

Tarian tersebut ditampilkan pertama kalinya pada sebuah perhelatan seni akbar di Yogyakarta dengan animo masyarakat yang tinggi. Sedangkan di Kudus, Tarian Gusjugang untuk pertama kalinya ditampilkan pada HUT KKY-50 pada pertengahan tahun lalu. Perubahan konsep tarian sempat terjadi seiring berkembangnya keadaan. Konsep tarian yang awalnya ditarikan oleh pria dan wanita, kini ditarikan seluruhnya oleh wanita. Faktor teknis seperti kurangnya SDM pria yang bisa menarikan tarian tersebut adalah penyebabnya.

Terciptanya tarian Gusjigang diharapkan memberi gambaran akan realisasi gusjigang dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan tarian ini juga diharapkan dapat menambah variasi budaya Indonesia dalam hal kesenian tari.

Source https://www.murianews.com https://www.murianews.com/amp/2019/03/31/160972/tari-gusjigang-gambaran-masyarakat-kudus-dalam-sebuah-gerakan.html
Comments
Loading...