Tari Golek Sulung Dayung

0 35

Beksan Golek Sulung Dayung

Beksan Golek Sulung Dayung adalah sebuah tarian gaya Yogyakarta yang menceritakan tentang seorang gadis remaja di usia akil balik yang ingin terlihat cantik dengan berdadan dan bersolek setiap harinya, hal ini dilakukan agar menarik  para pria yang ada disekitarnya untuk selalu memperhatikannya dan berharap menjadi kekasihnya.

Beksan Golek Sulung Dayung merupakan tari golek ciptaan dar Gusti Bendoro Pengeran Haryo Puger, beliau adalah putra termuda dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Dulu awalnya tari golek diciptakan dan dikreasi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1941, dimana beliau mengajak para pakar tari dan sanggar-sanggar tari andalan Kraton Yogyakarta, untuk menciptakan tari golek ini. Seiring dengan waktu berjalan, tarian ini sekarang banyak macamnya seperti golek cluntang, golek cangklek, golek asmaradono, golek kenyo tinembe, golek lambangsari, golek ayun-ayun.

Gerakan pada Beksan Golek Sulung Dayung ini sebenarnya sama semua dengan varian tari golek lainnya, hanya sering kali dijumpai susunan geraknya dirubah-rubah tempatnya, misalnya pada gerak kipat dadahan pada tari golek pamularsih diletakan ditengah, tapi kali ini pada tarian ini diletakan diakhir tarian. Tapi walaupun divariasi susunan geraknya semua masih mengaju pada pakem tari gaya Yogyakarta. Busana pada Beksan Golek Sulung Dayung yang kali ini karena bukan dalam satu pagelaran khusus, tarian ini ditarikan oleh ibu-ibu dari Sanggar Tari Krida Beksa Wirama sebagai ajang untuk melihat progres kemajuan saja, kali ini busana yang dikenakan sangat elok/cantik dengan memakai kebaya warna merah, jarik dengan berbagai motip, sampur dengan rambut digelung bokoran. Riasan yang digunakan adalah riasan cantik.

Iringan yang mengiringi tarian ini memakai gamelan klasik Jawa, dimana pada tari golek biasanya memakai gendhing ladrang, ketawang dan lancaran, kali ini menggunakan gendhing ketawang dengan jenis sulung dayung. Sanggar Tari Krida Beksa Wirama sebagai salah satu sanggar tari tertua di Yogyakarta telah banyak menghasilkan penari-penari klasik yang handal.

Selain itu sanggar ini mengembangkan tradisi ini dengan bekerja sama dengan Hotel Ambarukmo Yogyakarta untuk ikut melestarikan dan menjaga agar tradisi ini tidak hilang, tapi harus dilestarikan dan dikembangkan sabagai bagian dari budaya Yogyakarta yang dapat dijadikan salah satu daya tarik Pariwisata. Tarian ini bagi ibu-ibu Sanggar Tari Krida Beksa Wirama lebih dijadikan sebagai bagian dari relaksasi tubuh mereka, dimana mereka dengan segala rutinitas sehari-hari sering mengalami kejenuhan. Dengan menari di Sanggar ini mereka menjadi lebih rilek dalam menghadapi rutinitas yang problemnya sangat komplek. Bahkan anak-anak mereka yang sering ikut mendampingi selama latihan malah banyak yang tertarik untuk ikut menari.

Source https://myimage.id https://myimage.id/beksan-golek-sulung-dayung/
Comments
Loading...