Tari Golek Sukoreno, Pakarti Surakarta

0 40

Tari Golek Sukoreno

Tari Golek Sukoreno adalah sebuah tari klasik gaya Surakarta yang menceritakan tentang sebuah kegiatan kelompok para gadis yang tengah beranjak dewasa yang sedang mempercantik diri dengan bersolek dengan berbusana atau berdandan dengan cantiknya. Tari Golek Sukoreno secara fungsional hampir sama dengan tari gambyong dimana biasanya dipakai sebagai tari penyambutan selamat datang dalam suatu rangkaian kegiatan atau sebagai tari penyambutan tamu agung.

Tarian ini ditarikan oleh Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta pada pegelaran seni tari di Dalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 47, tepatnya pada tepat tanggal 24 Maret 2018. Acara ini sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

  

Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta berdiri tahun 1950, dimana didirikan oleh almarhum Kanjeng Sanyoto, yang kemudian di lanjutkan kepemimpinannya oleh Bapak RT Sri Hartono dan Ibu Umi sampai sekarang. Ini merupakan sebuah paguyuban yang terbuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin belajar maupun menari klasik Jawa khususnya gaya Mangkunegaran atau nabuh gamelan.

Latihan diadakan dua kali seminggu setiap Rabu malam dan Minggu malam antara jam 19.00 wib sampai 22.00 wib. Tari Golek Sukoreno sendiri sangat kental dengan nuansa kelembutan seorang wanita, ini semua salah satu karya dari Pura Mangkunegaran yang memiliki nilai seni dan budaya yang sangat tinggi. Tarian ini sebenarnya sudah ada sejak dulu di kaset Lokananta yang pada saat itu oleh Almarhum Gusti Heru (adik Gusti Kanjeng Mangkunegaran IX)  ditambahi beberapa gerak khas Mangkunegaran. Gusti Heru adalah pengemar tari Golek Sukoreno.

Tari Golek Sujoreno merupakan tari khas Mangkunegaran, yang di mata masyarakat sekarang ini, tarian ini sudah sangat familiar. Selain itu juga ada beberapa tarian khas lainnya yang juga berupa tari golek antara lain tari golek Montro dan tari Golek Lambangsari. Durasi Tari Golek Sukoreno sekitar 7 menit, sedangkan Golek Montro sekitar 30 menit dan Golek Lambangsari sekitar 40 menit dan bisa dikatakan kesemuan tarian ini merupakan tarian kelompok.

Gerak Tari Golek Sukoreno sifatnya mengalir atau dalam bahasa Jawanya disebut banyu mili. Istilah geraknya hampir sama dengan tari klasik gaya Surakarta pada umumnya, seperti ada gerak trisik, lumaksono ridong sampur, sembahan golek yang dicampur dengan sembahan Mangkunegaran, ada sembahan melayang yang merupakan ide dari Gusti Heru waktu itu serta engkyek Mangkunegaran.

Busana yang dikenaikan mulai dari atas ada Jamang dengan asesoris seperti bulu, cunduk jungkat, kalung, sumping, grodo, klat bahu. Sedangkan busana di badan berupa rompi , sampur dan jariknya memakai motip parang. Gendhing-gendhing pada tarian ini diiringi dengan musik gamelan klasik Jawa secara langsung dari grup Pakarti (Paguyuban Kerawitan dan Tari) Pura Mangkunegaran Surakarta secara live show, dimana hampir semua tari golek, gending yang mengiringi tariannnya nama gendhingnya sama dengan nama tariannya. Seperti  tarian ini juga sama yaitu gendhing ladrang Sukoreno.

Sebuah tarian yang pada jaman sekarang lebih terbuka di kalayak umum di saksikan, yang pada jaman dulu hanya bisa di saksikan didalam Kraton saja. Kraton sangat membuka dirinya untuk lebih arif dan bijaksana dalam hal seni dan budaya, hal ini juga sebagai bagian dari era keterbukaan serta sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan seni dan budaya agar tari-tari ini selalu hidup di Kraton maupun didalam masyarakat itu sendiri. Sehingga bisa berlangsung secara kontinyu dan sepanjang masa.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-golek-sukoreno-pakarti-surakarta/
Comments
Loading...