Tari Golek Lambangsari, Yogyakarta

0 117

Tari Golek Lambangsari

Tari Golek Lambangsari adalah sebuah tari klasik gaya Yogyakarta yang menggambarkan tentang seorang anak remaja putri yang sedang akil baligh yang lagi senang-senangnya bersolek dan berhias diri, dengan maksud agar para laki-laki disekitarnya tertarik dan  memperebutkan dirinya. Tarian ini diciptakan oleh KRT. Purwodiningrat dan pertama kali di kreasi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX pada tahun 1941. Tari Golek Lambangsari merupakan tarian tunggal yang pada tahun berikutnya menjadi tari golek yang terkenal dan menjadi materi pembelajaran di  Kridha Mardawa Kraton Yogyakarta.

Dalam sejarahnya tarian ini ditarikan oleh seorang ledhek. Ketika tarian ini dibawa di dalam Kraton, maka ada beberapa gerakan yang diolah seperti gerakan pinggul, gerakan bahu dan mata, diperhalus sehingga meninggalkan kesan erotis dan didalam Kraton pun yang menarikan seorang laki-laki. Makna golek dalam bahasa Jawa dapat diartikan mencari sesuatu, dalam konteks yang lebih luas lagi tarian ini menggambarkan seorang remaja putri yang sedang mencari identitas dalam perjalanan hidupnya sebagai wanita seutuhnya.

Ada yang spesial kali ini, dimana tarian ini di tarikan di dalam tobong yaitu panggung yang biasanya dipakai pertunjukan untuk ketoprak. Dengan segala asesoris yang memang untuk pertunjukan ketoprak ini, tari klasik ini ditarikan. Hal ini menunjukan bahwa tarian ini sudah merakyat dan Kraton diera jaman now sangat terbuka sekali untuk mempertujukan tarian-tariannya bebas kepada masyarakat yang digabung dengan pertunjukan rakyat yang lain. Ini merupakan bagian dari pelestarian dan pengembangan seni budaya Kraton secara nyata di luar tembok Kraton.

Gerakan Tari Golek Lambangsari, terbagi menjadi 3 bagian dimana pada maju beksan diawali dengan gerak sembahan dipinggir panggung, yang kemudian dilanjutkan dengan inti beksan dengan gerakan trisik, kemudian gerakan muryani busono (gerakan berhias memakai busana) yang dimana didalamnya ada unsur gerak atrap jamang, atrap cundhuk, atrap sumping, miwir rekmo (menyisir rambut), atrap slepe, ngilo, tarikan (memakai bedak), dan mundur beksan berupa gerakan kapang-kapang, mohon pamit dan diakhiri gerakan duduk sembahan (sila panggung).

Busana yang dikenakan pada tarian ini dari kepala menggunakan yaitu memakai jamang lar (terbuat dari bulu menthok) berwarna pink, cundhuk mentol yang berjumlah 5 buah, ceplok (bunga-bunga merah), pelik (bunga kecil-kecil berwarna putih), jungkat dengan bentuk bulan, sumping dengan nama mangkororon dengan onceng dan godhekan Pada bagian badan, ada rompi bludru warna hitam, jarik dengan motip parang rusak, sampur motip cindhe, slepe (ikat pinggang dari kulit), kalung susun 3, klat bagu dengan tambahan asesoris kecil-kecil seperti gelang, cincin dan anting-anting. Sedangkan riasannya menggunakan riasan cantik untuk menambah karakter penarinya.

Iringan gendhingnya menggunakan gamelan klasik Jawa dengan gendhing lambang sari, sesuai dengan nama tariannya. Inti dari tari golek secara keseluruhan adalah sama walaupun ragamnya banyak sekali seperti tari golek kenyo tinembe, tari golek surung dayung, tari golek pamularsih, tari golek ayun-ayun. Sebuah tarian yang syarat akan makna dalam kehidupan yang berisi norma-norma yang dapat dijadikan panutan bagi para wanita khususnya para gadis remaja yang menginjak dewasa untuk tampil sempurna yang diharapkan mempunyai rasa percaya diri sebagai seorang wanita/gadis secara utuh.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-golek-lambangsari/
Comments
Loading...