Tari Gambyong Madu Retno, Setu Ponan ke 47

0 8

Tari Gambyong Madu Retno merupakan sebuah tari klasik Jawa yang menceritakan tentang keluwesan perempuan Jawa yang didalamnya terdapat nilai-nilai kewanitaannya,  yang biasanya dikenal sebagai sosok yang halus, lembut, sabar, sareh, pekerja keras tapi juga dikenal manja seperti halnya perempuan pada umumnya.

Fungsi tarian ini seperti halnya tari gambyong pada umumnya yang lebih sering ditarikan kala sebagai pembuka suatu acara atau sebagai bagian dari penyambutan tamu agung. Tarian ini ditarikan oleh Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta pada pegelaran seni tari di Dalem Prangwedan Pura Mangkunegaran dalam acara Setu Ponan ke 47, sebagai peringatan lahirnya KGPAA Mangkunegaran IX yang lahir pada hari Sabtu Pon yang selalu digelar setiap 35 hari sekali, dimana penyelengaranya adalah Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

 

Tari Gambyong Madu Retno disusun oleh Tripleks Pujiyani M. Sn pada bulan Januari 2018, sebagai materi ajar mata kuliah tari gaya Surakartadi Jurusan Sendra Tasik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Motip gerak yang dirasa cukup rumit dalam sajian ini, sengaja dihilangkan, contohnya seperti laku telu. Hal ini dilakukan mengingat para mahasiswa di Jurusan Sendra Tasik ini sebagian besar masih dalam tahap pemula, artinya mereka memang baru dalam tahap pertama kali belajar.

Sajian Tari Gambyong Madu Retno diawali dengan gerak kapang-kapang menuju panggung sambil salah satu penarinya menyajikan tembang uran-uran pangkur slendro pathet songo. Adapun tujuan Pujiani M. Sn ingin menampilkan tari gambyong seperti pada sejarahnya dulu, dimana waktu itu penari gambyong tidak hanya dituntut menari saja, tapi harus bisa nembang atau nyinden. Pada tahun 1950 an oleh seniman Mangkunegaran (Nyai Bei Minto Raras) pada jamannya Mangkunegaran ke VIII, dilakukan pembakuan dimana penari Gambyong tidak harus bisa nyinden.

Dengan gerak awal yang didampingi dengan gendhing kemudian masuk ke gerak srisik, kebar dimana kebar ini ada 2 yaitu yaitu kebar satu yang terdiri dari ulap-ulap, yang kedua sango nompo kemudian masuk kebatangan, kemudian pilesan, ukel pakis, tumpang tali, tatapan dan terakhir kembali lagi ke kebar, dimana semua gerakan ini dilakukan secara lembut dan ringan serta dengan tempo yang lambat.

Busana yang dikenakan pada Tari Gambyong Madu Retno terisnspirasi dari busana yang dikenakan oleh para abdi dalem Kraton yang serba anggun dan miyayeni tanpa meninggalkan busana tari Gambyong yang sudah ada. Dari penataan rambut yang disebut sunggaran yang bentuknya sunggaran kecil, model sanggul yang dibelakang yang dinamakan gelung gambyong dimana ada tambahannya amoris yaitu ada pandan yang diselipkan di gelung tersebut yang berwarna hijau dan penetep dari bunga melati.

Busana dalam tarian gambyong ini tidak memakai angkin seperti tari gambyong pada umumnya tapi memakai batik, gurdha, dibawah pakai lereng parang , sampur hijau pupus, dengan asesoris tambahan seperti slepe, kalung melati dan gelang Gending yg digunakan untk mengiringi tari Gamby Madu Retno adalah ladrang rujak jeruk laras slendro pathet sanga. Pujiyani M. Sn merubah dari  laras slendro manyura menjadi slendro sanga karena menurut dia laras slendro sanga memiliki kesan tenang dan wibawa, sehingga cocok untuk mendukung isi dari tari gambyong ini.

Dalam garapannya gending ladrang rujak jeruk yang awalnnya terkesan agak sigrak dan gecul dalam sajian ini juga dirubah menjadi lebih halus. Sebuah tarian klasik Jawa yang menggambarkan secara utuh tentang perempuan Jawa yang mengandung makna yang sangat dalam. Inilah wanita Jawa yang sesungguhnya yang sekarang banyak ditinggal atau dilupakan karena termakan oleh jaman digital atau jaman yang kekinian (jaman now). Dengan tarian ini para perempuan Jawa diingatkan kembali bahwa inilah sebenarnya kodrat wanita Jawa yang sesungguhnya itu mempunyai sosok yang halus, lembut, sabar, sareh, pekerja keras tapi manja.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-gambyong-madu-retno/

Leave A Reply

Your email address will not be published.