Tari Gambyong Langen Kusumo

0 23

Tari Gambyong Langen Kusumo adalah sebuah tari klasik Jawa yang berasal dari Pura Mangkunegara Surakarta yang menceritakan tentang seorang gadis Kraton yang menginjak dewasa sedang gemar-gemarnya berhias diri dengan mempercantik dirinya. Tarian ini sering sekali ditampilkan sebagai penyambutan tamu agung atau sebagai pembuka sebuah acara atau festival. Hal ini disebabkan karena keprihatinan dunia terhadap pelestarian budaya dunia sangat minim. Maka bersama dengan UNESCO membentuk sebuah wadah sebagai sarana untuk menampilkan tari-tarian dengan keragaman budaya masing-masing yang ada di dunia. Tahun 2007 di Indonesia mulai gencar gerakan hari tari dunia ini dengan fokus mengajak anak-anak sekolah untuk menampilkan tari-tarian sampai sekarang.

 

Tari Gambyong Langen Kusumo merupakan tari klasik Jawa yang berasal dari Pura Mangkunegaran Surakarta yang sudah ada sejak jaman Mangkunegara VII, yang mempunyai spesifik gerak tarinya dengan tari gambyong pada umumnya. Tari Gambyong Langen Kusumo secara harfiah mempunyai makna kata sebagai berikut, kata Langen dalam tari gambyong mempunyai arti cerminan keindahan, sedangkan Kusumo berarti bunga, yang mana secara keseluruhan dapat diartikan sebagai sebuah tari yang menceritakan tentang seorang gadis yang menginjak dewasa tengah berhias diri laksana bunga yang harum dan bersinar bagaikan emas yang mencerminkan keindahan.

Gerak Tari Gambyong Langen Kusumo mempunyai gerak yang lebih spesifik dibandingkan dengan gerak tari gambyong pada umumnya, yang merupakan gerakan khas dari Pura Mangkunegaran Surakarta yang menggunakan keselarasan gerak tangan, kaki, badan, leher dan kepala sehingga tercipta gerak yang menawan dan mempesona. Estetika pada tarian ini disebut Lembehan Megos yang dilakukan secara kenes dan kemayu, layaknya seorang remaja putri yang menginjak dewasa. Gerak tarinya terbagi menjadi 3 yaitu pada awal tarian disebut maju beksan, pada bagian tenagh yang merupakan inti tarian disebut beksan serta pada bagian akhir tarian disebut dengan mundur beksan.

Busana yang dikenakan pada Tari Gambyong Langen Kusumo terisnspirasi dari busana yang dikenakan oleh para abdi dalem Kraton yang serba anggun dan miyayeni tanpa meninggalkan busana tari Gambyong yang sudah ada. Dari penataan rambut yang disebut sundaran yang bentuknya sundaran kecil, model sanggul yang dibelakang yang dinamakan gelung gambyong dimana ada tambahannya amoris yaitu ada pandan yang diselipkan di gelung tersebut yang berwarna hijau dan penatep dari bunga melati. Busananya juga memakai angkin yang biasanya berwarna merah/hijau, tapi kali ini memakai motip-motip batik, gordo, dibawah pakai lereng parang, sampur hijau pupus, kuning, merah, biru, unggu, dengan asesoris tambahan seperti kalung melati, gelang dan sumping.

Iringan pada Tari Gambyong Langen Kusumo menggunakan gamelan klasik Jawa dengan menggunakan gendhing pangkur dan tembangan yang diambil dari tari Golek, tekniknya mengunakan teknik pemukulan gamelan yang disebut dengan tabuhan nibani, yang menggambarkan suasana sigrak yang menggambarkan suasana gembira. Iringan dan gendhing ini mempunyai peran yang sangat penting untuk menampilkan kekuatan gerak yang memadukan unsur volume, tempo dan irama. Tari Gambyong Langen Kusumo adalah sebuah tarian klasik Jawa yang merupakan peninggalan kebudayaan no bendawi yang sangat layak untuk dikenalkan kepada masyarakat secara luas dan patut dilestarikan sampai kapanpun karena merupakan kekayaan seni budaya Indonesia yang dapat dijadikan daya pikat untuk menarik wisatawan lokal mapun asing untuk datang ke Indonesia khususnya Pura Mangkunegaran Surakarta.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-gambyong-langen-kusumo/

Leave A Reply

Your email address will not be published.