Tari Durbolo Singkir Dhaup Ageng Puro Pakualaman

0 58

Tari Durbolo Singkir yang merupakan sebuah tarian yang ditarikan oleh empat orang dalam prosesi Panggih, dimana durbolo mempunyai arti kekuatan jahat atau tindak durjana, sedangkan singkir mempunyai arti menyingkirkan , sehingga secara makna keseluruhan mempunyai arti menyingkirkan kekuatan yang jahat, ujar MT Sestrorukmi (Tim Pranatan Lampah-Lampah Dhaup Ageng Pura Pakualaman).

Tarian ini direkayasa oleh Dra. Setyastuti M.Sn atas dawuh/perintah dari GKBRAy Paku Alam untuk membuat tari edan-edanan, yang mana selama ini Puro Pakualaman belum mempunyai tarian ini. Kepentingannya adalah menolak balak dalam rangka upacara Dhaup Ageng.Tarian ini khusus diciptakan khusus untuk proses Dhaup Ageng BPH. Kusumo Bimantoro dengan dr. Maya Lakshita Noorya yang dilaksanakan pada hari Sabtu Kliwon tanggal 5 Januari 2019 di Bangsal Sewatama Puro Pakualaman Yogyakarta.Karena ini rekayasa yang ada acuannya, yang ternyata di dalam Puro Pakualaman Yogyakarta ketika mengadakan upacara Dhaup Ageng tidak ada abdi dalem edan-edanan, maka rekayasa ini tentunya menjadi Durbolo Singkir sehingga banyak sekali negoisasi yang dilakukan.

Negoisasi  ini di antaranya membuat kastum yang sesuai dengan Puro Pakualaman. Ini memang mengacu pada Kraton Yogyakarta yang sudah mempunyai tari edan-edanan, tapi sedikit berbeda dengan yang ada di Puro Pakualaman kali ini.Untuk di Puro Pakualaman, propertinya tidak memakai kuda, tidak memakai payung (penari putri), hanya memakai tenggok  dan memakai kipas dan pada penari putranya membawa Toyak, dimana hiasannya terbuat dari lidi, pada bagian tengahnya ada Lombok abangnya dan diluarnya ada janur 4 biji sebagai makna penggambaran papat kiblat limo pancer.Dalam Tari Durbolo Singkir memakai empat abdi dalem sebagai pelaku/penari yang terdiri dari 2 penari putri dan 2 penari putra yang keduanya ini mempunyai sebutan atau dinamakan sebagai Abdi Dalem Sumilak (penari putra) dan Abdi Dalem Sumingkir (penari putri).

Komposisi dalam tarian ini dibuat dengan pola-pola berputar, menyingkir dan menyilang yang semuanya ini mempunyai makna papat kiblat limo pancer atau penyelarasan antara jagad kecil (manusia) dengan jagad besar (alam semesta).Gerak dalam tarian ini sangat sederhana (simple), diantaranya gerak singkir-singkir dan banyak gerakan yang berjalan dan berputar. Dalam prosesi ini memang tidak terlalu banyak gerakan karena di dalam Kraton lebih diutamakan figurnya untuk kepentingan tolak balak.Busana yang dikenakan penari putri, pada bagian kepala memakai gelung biasa dengan hiasan sekar ceplok yang terbuat dari janur, daun sirih 5 buah dan melati, sari ayu dari janur serta pecut-pecutan dari janur. Di badannya menggunakan semekan, sindor merah putih dengan posisi engkol didepan, sabuk goni dengan jarik dengan motip sekarsih (motip Puro Pakualaman), buntal dari daun-daunan, dengan properti tenggok berisi buah-buahan dan sayur-sayuran serta kipas dari bambu.

Sedangkan pada penari putranya menggunakan iket kodok bineset, janur dan daun-daunan, kainnya memakai motip tolak balak (warna biru), bagor, kalung dari sumbu kompor, buntal dan gelang kaki kricing. Propertinya memakai Toyak. Sebuah peristiwa budaya yang merupakan rangkaian Dhaup Ageng yang terjadi pertama kali di Puro Pakualaman yang penuh makna yang menjadi tetenger atau tolak ukur bahwa semua yang direkayasa itu tidak harus ada sebelumnya. Rekayasa bisa menjadi satu rangkaian dalam prosesi upacara kebudayaan. Puro Pakualaman telah memberikan gaya tersendiri dan menjadi sesuatu yang baik yang nantinya bisa di uri-uri oleh masyarakat luas, ujar Dra. Setyastuti M.Sn.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-durbolo-singkir/
Comments
Loading...