Tari Dolanan Bocah Wayang-wayangan, Pendopo Adanu Jumantoro Solo

0 80

Tari Dolanan Bocah wayang-wayangan yang merupakan sebuah tarian tradisi yang didalamnya menceritakan tentang sekelompok anak-anak yang sedang bermain di bawah sinar Bulan Purnama, dengan memainkan wayang-wayangan perang Baratayuda.

Tapi pada akhirnya permainan ini dihentikan mereka sendiri karena ada yang berkelahi secara sungguhan, ya namanya juga anak-anak. Kadang lupa apa yang mereka mainkan ini hanya sebuah permainan bukan sungguh-sungguh. Semua ini diakhiri dengan dengan tari jaranan secara bersama-sama dan mereka kembali menjadi teman kembali.

Sebuah tarian yang layak diapresiasi oleh semua pihak, dimana didalam tarian ini mereka benar-benar menjadi seorang layaknya anak-anak yang sesungguhnya, semua ini dapat dilihat dari tingkah laku mereka yang nakal, lincah dan bawel walaupun terhadap temannya sendiri, semua ini dilakukan mereka karena mereka sebaya dan sehati dalam permainan ini.

Tarian ini diciptakan oleh Tim Pengajar Adanu Jumantoro, dimana Sutradara dan penulis naskahnya adalah Benedictus Billy Aldi Kusuma S.Sn, salah satu penari yang aktip di Wayang Orang Sriwedari Surakarta, yang lahir di Surakarta pada tanggal 11 Juli 1994. Beberapa karyanya diantaranya adalah Ra, Ra,Rah,Ruh, Pluntur Kasanggan, 1879 dan beberapa naskah ketoprak, diantaranya Kidung Kiwung, Adanu Blawu dan  Bubat.

Tarian ini ciptakan secara khusus untuk ditampilkan dalam acara Launching Yayasan Seni Adanu Jumantoro yang digelar  di Cagar Budaya Pendopo Adanu Jumantoro milik TNI Angkatan Udara Surakarta pada hari Rabu tanggal 27 Pebruari 2019, jalan Honggowongso Kusumodiningratan, Kemlayan, Serengan Surakarta, pada pukul 19.00 wib sampai selesai.

Tema Launching Yayasan Seni Adanu Jumantoro kali ini adalah “Tradisi Nafasku, Budaya Nadiku” yang secara keseluruhan mempunyai makna tentang kehidupan, bagaimana cara orang Jawa ini mengkreasikan seni budayanya menjadi sesuatu yang langgeng, utuh dengan mengikuti perkembangan jaman.

Gerak dalam Tari Dolanan Bocah wayang-wayangan ini banyak mengambil dari ragam tari tradisi Jawa gaya Surakarta yang disesuaikan dengan temanya, khususnya untuk anak-anak. Geraknya terlihat simple dan sederhana yang mudah dimengerti oleh anak-anak.

Pola lantainya pun sangat dinamis dan variatip mulai dari bentuk lingkaran, segitiga, garis lurus sampai zig-zag. Semua ini disesuaikan dengan bentuk arenanya yaitu sebuah pendopo yang bisa dilihat oleh penontonnya dari tiga sisi, depan, samping kanan dan samping kiri.

Busana yang dikenakan terbagi menjadi 2, pertama yang dikenakan oleh anak perempuan, menggunakan kain yang di Jawa disebut dengan sabuk wala, kepalanya menggunakan kantong gelung yang diberi bulu dan cunduk mentul.

Sedangkan pada anak laki-lakinya menggunakan kain supit urang yang pada bagian kepalanya menggunakan kain iket serta memakai sampur. Semuanya menggunakan riasan natural, yang perempuan cantik dan laki-lakinya ganteng sesuai dengan peran yang mereka tampilkan dalam tarian ini.

Iringan gendhing yang mengiringi tarian ini memakai gamelan klasik Jawa dengan gendhing-gendhing anak-anak yang menggambarkan tentang suasana menyenangkan dalam permainan anak-anak yang dimainkan pada waktu bulan purnama.

Kesemua ini untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa anak-anak disanggar ini, tidak hanya  di beri materi tarian saja, tetapi juga di beri materi wayang orang yang sekarang hampir di lupakan didunia anak-anak jaman now yang lebih familiar dengan dunia gadget (game and youtube). Disanggar ini juga mengajarkan tentang nilai-nilai kesederhanaan hidup dalam hubungannya dengan budi pekerti, ujar Benedictus Billy Aldi Kusuma S.Sn.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-dolanan-bocah-wayang-wayangan/
Comments
Loading...