Tari Bedoyo Pangkur

0 260

Tari Bedoyo Pangkur adalah karya Pakubuwono IV yang bertempo lambat. Gerak lambat ditengah iringan gending pangkur mengambarkan keseimbangan antara hawa nafsu dan akal sehat manusia. Jumlah penarinya sembilan orang dengan jabatan dan nama yang berbeda-beda. Yaitu : batak, gulu, dhaha, endhel weton, endhel ajeg, apit ngarep, apit meneng, apit mburi dan buncit. Kesembilan jabatan penari bedhaya Pangkur tersebut adalah manifestasi pengendali hawa nafsu manusia (babahan hawa sanga).

Kesembilan penarinya menggunakan rias busana yang sama dengan memakai bunga yang diletakkan didalam samparan (kain panjang seperti ekor). Sehingga ketika para penari mulai bergerak/menari, bunga-bunga tadi keluar memenuhi area dan membuat tarian bedhaya semakin agung. Tari bedhaya adalah salah satu tarian kraton yang mengalami kejayaan pada abad ke- 18, yaitu pada masa pemerintahan Paku Buwono (PB) II, PB III, PB IV dan PB VIII.

Bedhaya Pangkur adalah yasan ndalem (karya raja) PB IV yang sudah berumur lebih dari 200 tahun. Di dalam lingkungan kraton, keberadaan tarian-tariannya dikelola oleh beberapa abdi dalem yang dibagi dalam kelompok-kelompok dengan penanggung jawab pengageng parentah keputren. Diantara kelompok – kelompok tersebut adalah kelompok abdi dalem bedhaya yang mempunyai tugas pokok sebagai penari bedhaya. Disamping sebagai penari, para abdi dalem tersebut juga mempunyai tugas lainnya, yaitu sebagai penjaga keamanan di lingkungan keputren. Maka dari itu para abdi dalemtersebut juga dibekali ilmu bela diri.

Mengenai ricikan (instrumen) iringannya simpel, tidak seperti ricikan-ricikan tarian lainnya. Karena hanya terdiri dari kemanak, kethuk, kenong, kendhang dan gong. Ditambah vokal sindhenan. Tari bedhaya Pangkur adalah tarian sakral yang menceritakan tentang keseimbangan hawa nafsu dan akal sehat manusia. Namun menurut Gusti Puger (salah satu putra sawargi PB XII) tari bedhaya Pangkur juga bisa dipentaskan sebagai hiburan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran bayi atau untuk penyambutan tamu.

Namun sekitar tahun 1970-an, yaitu pada masa PB XII oleh sinuwun tarian bedhaya boleh keluar dari dalam tembok kraton. Artinya mulai tahun tersebut tarian bedhaya boleh dipelajari oleh masyarakat umum.

Source Bedhaya Pangkur : Tarian yang Berusia Lebih dari 200 Tahun Tari Bedoyo Pangkur
Comments
Loading...