Tari Bedhaya Luluh

0 157

Tari Bedhaya Luluh

Bedhaya Luluh tercipta sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa-pengabdian Rama Sas (K.R.T Sasmintadipura) serta memiliki latar belakang kemanunggalan.

Sebuah isyarat bersatunya dua organisasi yang didirikan oleh K.R.T Sasmintadipura, yakni Mardawa Budaya (1962) dan Pamulangan Beksa Ngayogyakarta (1976). Keduanya menyatu dengan nama baru, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM) di tahun 1996.

Tari Bedhaya Luluh merupakan tari kelompok yang melibatkan delapan belas penari putri. Sebagai Tari Bedhaya, Bedhaya Luluh tetap mengikuti aturan-aturan formasi yang terdapat dalam tari bedhaya tradisi pada umumnya.

Memiliki karakteristik halus dengan menggunakan ragam gerak yang bersumber dari Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Meskipun masih kentara dengan motif gerak tari bedhaya pada umumnya, Bedhaya Luluh memiliki keunikan motif gerak yakni yang terlihat pada rakit gelar.

Secara garis besar urutan lampahan terdiri dari rakit lajur, rakit tiga-tiga, rakit ajeng-ajengan, medal lajur, mlebet lajur, rakit iring-iringan, rakit tiga-tiga, rakit gelar, rakit tiga-tiga, dan kembali lagi ke rakit lajur (Sunaryadi: 2012: 114).

Tari ini mengusung tema cerita yang menghadirkan tokoh tertentu, akan tetapi tokoh tersebut tidak ditonjolkan pada bagian-bagian komposisi pola lantai maupun pengolahan level.

Penonjolan karakter lebih pada Endhel dan Batak yang terletak pada bagian rakit gelar. Dua pasang penari Endhel dan Batak berdiri sambil melakukan gerak Sampir Sampur Mubeng dan Kengser Tumpang Tali.

Sementara itu penari lainnya melakukan gerak Puspita Kamarutan satu kali kemudian jengkeng. Rakit gelar dalam Tari Bedhaya Luluh ini terinspirasi dari Tari Bedhaya Purnama Jati yang merupakan karya K.R.T Sasmintadipura pada tahun 1992.

Pada umumnya pertunjukan Tari Gaya Yogyakarta diselenggarakan di malam hari dan sering kali dipentaskan pada pendhapa yang memiliki empat saka guru. Komposisi tersebut dimaksudkan agar garis dan pola lantai penari terlihat lebih jelas.

Penyelenggaran Tari Bedhaya Luluh juga di malam hari namun terkadang disajikan di arena panggung yang tidak memiliki saka guru. Seperti terlihat ketika disajikan pada acara peringatan HUT ke 50th Yayasan Pamulang Beksa Sasminta Mardawa.

Di sajikannya tarian ini pada panggung tanpa saka guru, berkaitan dengan fungsi tari yang dalam hal ini tidaklah sebagai tarian upacara yang sakral namun lebih difungsikan sebagai tari pertunjukan.

Source https://blogkulo.com https://blogkulo.com/tari-bedhaya-luluh-yogyakarta/
Comments
Loading...