Tari Asmarajati

0 23

Tari Asmarajati adalah sebuah seni Jhatilan yang menceritakan tentang pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Asmarabangun setelah mengalami petualangan yang berat tapi pada akhirnya mereka berdua bersatu menjadi suami istri. Tarian ini menyimbolkan Dewi Sekartaji sebagai simbol kesetiaan wanita terhadap kekasihnya, yang semuanya ini dilaluinya dengan berat, ketika digoda apapun dia tetap tidak tergiur dengan segala godaan tersebut. Tetap nyawiji dengan cintanya (Panji Asmarabangun). Keinginan Prabu Klono Sewandana untuk menyunting Dewi Sekartaji tidak pernah surut. Ia kemudian menculik Dewi Sekartaji melalui Brahmanaraja.

Panji Asmarabangun, suami dari Dewi Sekartaji segera menyusun siasat untuk merebut Dewi Sekartaji dari tangan Prabu Klana Sewandana. Perangpun terjadi, Raden Panji Asmarabangun berhadapan dengan Prabu Klana Sewandana. Akhirnya Raden Asmarabangun mampu membunuh Prabu Klana Sewandana, sekaligus memboyong kembali Dewi Sekartaji sebagai simbol “Asmarajati” (cinta abadi). Tarian ini ditarikan oleh Bale Seni Condroradono dalam Festival Panji International 2018 di Pagelaran Kraton Yogyakarta yang merupakan festival yang pertama kali di gelar di Indonesia melalui kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang diikuti oleh 3 negara Asean yaitu Indonesia, Kamboja dan Thailand.

Rangkaian festival ini di gelar di Yogyakarta pada tanggal 6, 7 dan 8 Juli 2018 melalui pagelaran kesenian dari negara-negara Asean melalui lokakarya, seminar, lomba-lomba, kunjungan budaya dan pameran. Tarian ini rencananya juga akan ditampilkan pada tanggal 30 Agustus 2018 pada pembukaan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di GOR UNY yang mana durasi pementasannya diperpendek menjadi 15 menit. Penokohannya pun akan dirubah bukan Panji, tetapi Turangga Nuswantoro yang bercerita tentang perjuangan semua wilayah di Indonesia untuk mencapai cita-cita. Gerak dalam tarian ini terinspirasi dari gerak Jhatilan yang asli, karena disini tidak ingin meninggalkan Jhatilan, tapi malah dikembangkan dimana pada bagian putra menggunakan spirit tari lawung jajar (tari klasik gaya Yogyakarta), sedangkan yang putri juga demikian, dikembangkan dipadu dengan gerak senam erobic yang kekinian (Jhatilan jaman now) seperti gerak melompat dan jingkat-jingkat yang tidak ada pada tari Jhatilan konvensional (sebagai wakil generasi sekarang).

Busana dalam Tari Asmarajati ini, pada penari putranya masih dekat dengan busana tradisi konvensional Prabu Klono Sewandono dalam bentuk pedalangan yang memakai tekes, sedangkan putrinya sudah dimodifikasi, untuk tekes panji masih asli. Prajuritnya sudah busana pengembangan sedangkan pentul dan tembem dipakai apa adanya seperti biasanya dalam Jhatilan supaya tarian ini tidak kehilangan rohnya yang asli. Iringan yang mengiringi Tari Asmarajati, yang ditonjolkan bendhe, disamping aklung, kecer dan kendang yang merupakan instrument pokok dalam tari Jhatilan. Memang dalam perkembangannya sekarang ini dimodifikasi dengan saron dan gong yang terus berkembang dengan tambahan keyboard dan snap drum. Kali ini dalam tarian ini tidak memakai keyboard dan snap drum.

Gendhingnya memakai lompong keli dengan dominasi permainan bendhe, dimana ini merupakan lagu yang baku dalam Jhatilan yang digunakan budalnya atau berangkatnya Prabu Sewandana disamping gendhing bubaran (pulang) sebagai penutup Jhatilan. Tapi di tengah-tengah tari waktu pentul tembem ada tembang pucung yang merupakan ciri khas Jhatilan juga. Jhatilan telah mendunia, dengan adanya festival ini dapat memberikan apresiasi kepada masyarakat tentang adanya seni Jhatilan, selain itu juga memberikan juga penegasan bahwa seni Jhatilan itu bisa dibuat menjadi tari yang bernuansa kekinian, tidak harus konvensional terus tapi dibuat dengan warna yang berbeda dan yang pasti Jhatilan tidak akan ketinggalan jaman, selama kita mau berkreasi dan selalu ingat terhadap sumber aslinya.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-asmarajati/
Comments
Loading...