Tari Arjuna Wiwaha

0 1.676

Tari Arjuna Wiwaha

Kisah “Arjuna Wiwaha” sepintas hanyalah sebagai cerita biasa yang menarik. Namun kalau dirasakan dengan menafsirkan simbol simbolnya sebenarnya memuat kedalaman ajaran yoga yang luar biasa. Jika “Dewa Ruci” hanya memberikan ajaran secara “garis besar”, akan tetapi “Arjuna Wiwaha” menerangkan secara detail, yaitu menaklukkan cakra-cakra yang ada pada manusia, yang jumlahnya sebanyak  7 cakra. Tariain berasal dari Jogjakarta, Jawa Tengah.

Dimulai dari: 1. godaan 7 bidadari, 2. perbantahan dengan reshi Padya, 3. membunuh babi, 4. perang melawan pemburu, 5. belajar tari, 6. menebas ujung lidah, 7. akhirnya mendapat senjata Pasopati dan kawin dengan Dewi Supraba. Keseluruhan ceritera menggambarkan betapa Arjuna telah mampu mengendalikan nafsu-nafsunya, baik yang bersumber dari jasmani maupun rohani.

Penebasan ujung lidah Niwata Kawaca yang sakti berarti Arjuna telah membuang keangkuhannya, yang bersumber dari fikiran dan ucapan. Setelah itu Arjuna mendapatkan “pasopati” berarti “dilukat”, jiwanya dibersihkan hingga menjadi “kosong”. Pada saat itulah ia  wiwaha atau “kawin” dengan “Su-praba”. “Su” artinya sangat indah (linuwih) sedang “praba” berarti cahaya. Artinya Arjuna berhasil menyatu dengan “Sang Maha Cahaya”. Atau “Cahya linuwih” atau “Jumbuh Kawula lan Gusti”.

Tujuan orang beragama adalah mencari kebahagiaan lahir batin. Sedangkan tujuan “memuja” atau “bersembahyang” adalah mencari ketenangan dan kedamaian batin, “Yoga” adalah sembahyang tingkat tinggi, dengan pengerahan energi diri untuk “mengosongkan” diri, untuk itu perlu kosentrasi secara penuh. Tanpa gangguan dari luar maupun dari dalam.  Berdasar uraian di atas jelaslah bahwa kebersihan batin merupakan syarat mutlak bagi seseorang bergelut di bidang spiritual dan lebih-lebih persemadian.

Seseorang yang  berperilaku baik  jiwanya selalu bersih, dan tanpa beban, hingga membantu proses konsentrasi ketika mengawali persamadhian. Tidak ada gangguan dari dalam. Itulah sebabnya “moral” penting dan menjadi “ukuran kedewasaan seseorang”. Moral bisa terjaga apabila telah mampu menjauhkan diri dari “keduniawian”. Biasanya hal demikian bisa dicapai bila orang sudah dewasa, bila telah cukup umur.

Source Tari Arjuna Wiwaha starjogja
Comments
Loading...