Tari Akara Amurti Anjani ISI Yogyakarta

0 27

Tari Akara Amurti Anjani yang merupakan  sebuah tarian yang di dalamnya menceritakan tentang peristiwa tragis yang dialami oleh sosok Dewi Anjani, putri sulung dari Resi Gotawa di Grastina dengan Dewi Indradi, bidadari keturunan dari Bahtara Asmara.

Tlaga sumala sinawung wikara, kapus, klebus hangriris karma, asthagina ngrumpaka mendraning harsaya, katresnan sang rena akarya wancana. Ucap janji kang hamiwiti, yekti gurit janji kang den cidrani, duk rikala pesthi tumeka, jalma nora bisa nedha. Raga dadi sela, rupa malih wanara, retno Anjani anjalma, akara amurti Anjani. Itulah sekelumit kisah lengkapnya.

Tari Akara Amurti Anjani  diciptakan oleh Lariska Febti Triyaninda pada tahun 2018, terinspirasi dari tokoh wayang Dewi Anjani yg memperebutkan Cupu Manik Astagina dengan ke dua adiknya yaitu Sugriwa dan Subali hingga akhirnya berubah wujud menjadi kera.Lariska Febti Triyaninda lahir di Yogyakarta, pada tanggal 21 Pebruari 1996, beberapa karya yang telah dihasilkan diantaranya Egois (2015), Mak Lampir (2015), Rin Tangan (2016), Teluk (2017), Akara Amurti Anjani part I (2017) dan  Kenes (2018).

Tarian ini tampilkan dalam Gelar Karya Tugas Akhir Tari 2019  yang di selenggarakan di  Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon Bantul, tepatnya pada tanggal 11 sampai 12 Januari 2019, mulai pukul 19.30 Wib sampai selesai.

Gelar Karya Tugas Akhir Tari 2019 pada tahun ini mengangkat tema “Harmonisasi Tubuh Dalam Keberagaman Rasa” yang mempunyai makna bahwa dalam mencipta karya seni tari bisa melalui sebuah keberagaman kreatifitas yang dapat meningkatkan kualitas kepekaan seniman, yang kemudian akan mendorong hadirnya suatu karya-karya baru.

Komposisi dalam tarian ini lebih menggambarkan peristiwa perubahan wujud yang dialami oleh Dewi Anjani dalam pencarian Cupu Manik Astagina yang penuh dengan pengorbanan. Cupu Manik Astagina bila dibuka, didalamnya akan dapat melihat segala peristiwa yang ada di dunia maupun di surga (langit ketujuh).

Gerakan dalam Tari Akara Amurti Anjani menggunakan 3 sumber gerak dalam proses pembentukan koreografi yaitu gerakan keseharian, observasi terhadap gerakan kera, dan gerak tradisi yaitu impang encot, gidrah, dan nggurdha semuanya itu akan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dimana secara keseluruhan ragam gerak itu mengacu pada ragam gerak tari klasik putri gaya Yogyakarta.

Busana yang dikenakan pada Tari Akara Amurti Anjani terbagi dalam beberapa adegan, dimana pada adegan intro hanya memakai kain biru yg menggambarkan Dewi Anjani sedang bertapa di telaga, adegan awal bagian kepala memakai sanggul yang biasa di sebut sanggul BCL dan di kombinasi dengan cemara dan dihias dengan pernak pernik tembaga.

Pada bagian putri memakai dress dengan belahan kiri dan dipadukan dengan jarik bermotif parang, bagian kethekan menggunakan baju terusan pendek dengan pinggang kanan kiri terbuka, dihias dengan pernak pernik yang bermotif parang, menggunakan klat bahu, krincing, gelang, dan memakai topeng sebagai penggambaran wujud Dewi Anjani setelah berubah menjadi kera. Memakai properti akar sebagai penggambaran penjara kutukan.

Iringan musik yang mengiringi menggunakan musik live dengan menggunakan gamelan klasik Jawa berlaras pelog, dan dikombinasikan dengan alat musik rebab, suling, siter, rainstick, simbal, maracas, saluang dan barchymes.

Pelajaran yang bisa dipetik dalam tarian ini adalah janganlah selalu iri hati dan dengki terhadap sesama manusia terutama dengan saudara sendiri karena akan mengakibatkan perselisihan, serta jangan sekali-kali memaksa kehendak kita yang nantinya akan berujung buruk terhadap kehidupan kita maupun sekitarnya, ujar Lariska Febti Triyaninda.

Source https://myimage.id https://myimage.id/tari-akara-amurti-anjani/
Comments
Loading...