Tantingan: Salah Satu Prosesi Upacara Dhaup Ageng di Keraton Jawa

0 131

Tantingan: Salah Satu Prosesi Upacara Dhaup Ageng di Keraton Jawa

Dhaup Ageng adalah hajad seorang raja ketika menikahkan anak perempuannya. Dalam tradisi Jawa, gelaran pernikahan diselenggarakan oleh pihak perempuan. Pada umumnya raja-raja jaman dahulu memiliki banyak istri dan anak, untuk itu Upacara Dhaup Ageng hanya digelar jika calon mempelai wanita merupakan putri raja yang lahir dari seorang permaisuri. Disamping itu, tidak jarang upacara pernikahan kerajaan pada jaman dahulu digelar sekaligus untuk beberapa putra-putri Sultan. Tercatat pada Tahun 1939 Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menikahkan 7 pasang pengantin secara bersamaan. 
Pada jaman dahulu Dhaup Ageng digelar dengan rangkaian prosesi yang dilakukan hingga berhari-hari. Bahkan pantangan yang harus dijalani oleh kedua mempelai berlangsung beberapa hari sebelum upacara pernikahan hingga 35 (selapan) hari setelahnya.
Dari masa ke masa, upacara Dhaup Ageng telah mengalami banyak penyederhanaan. Walaupun demikian inti dari setiap prosesi masih terus dipertahankan hingga saat ini. Berikut adalah penjelasan mengenai prosesi yang berlangsung dalam upacara Dhaup Ageng yang lazim dilaksanakan pada masa Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10.
Tantingan

Tantingan adalah sebuah prosesi pemanggilan calon mempelai wanita oleh Sultan. Dalam prosesi ini, Sultan akan menanyakan kemantapan hati dan kesiapan calon mempelai wanita untuk menikah dengan pria yang telah meminangannya. Dahulu prosesi tantingan merupakan hari dimana Sultan memberitahukan dengan siapa putrinya akan menikah. Pada umumnya para putri Sultan terdahulu menikah melalui proses perjodohan. Sebelum prosesi tantingan berlangsung ia tidak tahu siapa pria yang akan dinikahinya esok hari. Prosesi tantingan dilaksanakan sore hari setelah waktu magrib di emper Gedong Prabayeksa.

Source https://kratonjogja.id https://kratonjogja.id/hajad-dalem/3/dhaup-ageng
Comments
Loading...