Tahapan dan Makna Filosofi Merias Wajah Pengantin Adat Yogyakarta

0 27

Tahapan dan Makna Filosofi Merias Wajah Pengantin Adat Yogyakarta

Dalam gaya tata rias adat pengantin Jawa Yogyakarta salah satunya adalah Paes Ageng Yogyakarta. Dari jaman Sultan HB I hingga Sultan HB VIII, Paes Ageng ini hanya boleh dikenakan kerabat kerajaan. Baru pada masa pemerintahan Sultan HB IX (1940), beliau mengijinkan masyarakat umum memakai busana ini dalam upacara pernikahan.

Sampai saat ini dikalangan masyarakat Jawa terutama kalangan menengah ke atas, Busana Paes Ageng masih terus digunakan dalam upacara pernikahan. Hal ini dikarenakan biaya yang diperlukan cukup besar, baik dalam urusan busana maupun perlengkapannya.

Tahap-Tahap Merias Wajah dan Makna Filosofinya

Ratusan

Pemberian wewangian tradisional pada rambut dan kadang bagian intim kewanitaan agar harum.

Halup-Halupan (cukur/ kerik rambut)

Pembersihan wajah pengantin dengan cara mencukur rambut halus yang tumbuh di dahi atau memotong rambut menjuntai ke dahi sehingga wajah tampak bersih dan siap untuk dibuat pola wajah.

Cengkorongan

Pembuatan pola wajah Paes Ageng gaya Yogyakarta. Penentuan bentuk dan pembuatan cengkorong ini dikerjakan dengan pensil yang hasil akhirnya berupa gambar samar-samar / tipis. Cengkorong meliputi:

Citak pada dahi

Bentuk belah ketupat kecil dari daun sirih pada pangkal hidung di antara dua alis yang memiliki makna bahwa citak sebagai reflesi mata Dewa Syiwa yang merupakan pusat panca indra sehingga menjadi pusat keseluruhan ide atau pikiran. Panunggul, pangapit, panitis, godeg.

  • Panunggul dibuat di atas citak, ditengah-tengah dahi, berbentuk meru (gunung) melambangkan Trimurti (tiga kekuatan dewa yang manunggal). Ditengah-tengah panunggul diisi hiasan berbentuk capung atau kinjengan, yaitu seekor binatang yang selalu bergerak tanpa lelah dengan harapan agar pengantin selalu ulet dalam menjalani hidup.Panunggul berasal dari kata tunggal, yaitu terkemuka atau tertinggi, mengandung makna dan harapan agar seorang wanita ditinggikan atau dihormati
  • Pengapit terletak di kiri kanan panunggul berbentuk seperti meru (gunung) namun langsing
  • Penitis terletak di antara pengapit dan godheg.

Pengapit, penitis, godheg dibuat sebagai keseimbangan wajah, maka diletakkan simetris dengan panunggul.

Alis

Alis berbentuk menjangan ranggah (tanduk rusa). Rusa merupakan simbol kegesitan, dengan demikian kedua pengantin diharapkan dapat bertindak cekatan, trampil, dan ulet dalam menghadapi persoalan rumah tangga

Daerah sekeliling mata dibiarkan tidak terjamah oleh boreh, diberi gambaran yang disebut jahitan. Untuk membentuk mata lebih tajam dan anggun sehingga orang-orang akan mengaguminya.

Kandelan

Setelah cengkorongan selesai dibuat sesuai pola dasar dan tampak pantas (layak), baru kemudian paes wajah diselesaikan dengan menebalkan garis-garis yang samar menjadi paesan dadi (paes jadi)

Dandos

Selesai kandelan, dilanjutkan dengan dandos jangkep pengantin (pengantin berdandan lengkap) yang meliputi sanggul pengantin, perhiasan pengantin, kain pengantin, baju pengantin, dan dandosan (berbusana) lain selengkapnya

Source https://tirasennawedding.blogspot.co.id/ https://tirasennawedding.blogspot.co.id/2015/06/perkawinan-serta-makna-riasan-dan.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.