Syukuran Rejeki Ternak, Tradisi Masyarakat Gunungkidul

0 45

Syukuran Rejeki Ternak, Tradisi Masyarakat Gunungkidul

Masyarakat memiliki berbagai cara guna mengungkapan rasa syukur dan tanda trimakasih kepada Tuhan. Ada yang melakukannya sendirian ataupun bersama keluarga di rumah, ada pula yang membuat acara di luar rumah bersama teman-teman ataupun tetangga. Jika saat ini ada aktivitas makan-makan bersama teman, rekanan, pun tetangga di sebuah restoran ataupun rumah makan, sejatinya sudah sejak lama masyarakat kita juga memiliki tradisi mengungkapkan rasa syukur itu. Sebagai contoh adalah dengan mengundang tetangga untuk mengadakan syukuran, bisa berbentuk kenduri (gendhuren), bancaan, tumpengan, dan masih banyak lagi.

Syukuran Rejeki Ternak

Yang menjadi rangkaian utama dalam syukuran adalah diungkapkannya doa bersama baik dalam rangka meminta ataupun berterimakasih atas rejeki ternak yang dipelihara. Rasa syukur ini dirasa penting dan dijadikan tradisi karena keberadaan ternak baik yang berujud unggas, kerbau, sapi, kambing, dan lain sebagainya, sangat membantu taraf hidup.

  • Kotoran Sebagai Pupuk. Bagi para petani, memiliki binatang piaraan bukan saja akan mendapatkan keuntungan pada saat dijual. Lain dari itu kotoran yang ditumbulan darinya juga memiliki manfaat lebih, yaitu sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah demi mendapatkan hasil bagus pada tanaman-tanamannya.
  • Mengolah Sawah.Petani padi sudah sejak lama memiliki tradisi membajak sawah dengan bantuan binatang peliharaan, baik kerbau ataupun sapi. Binatang-binatang inilah yang memberi manfaat ganda bagi kehidupan manusia dan bahkan juga lingkungan. Pasalnya binatang piaraan tetap ramah terhadap lingkungan dan jauh dari risiklo pengrusakan.
  • Jasa Angkutan. Sebelum dunia dicemari oleh bahan bakar minyak sebagai hasil buang dari kendaraan, binatang ternak menjadi satu tenaga handal yang digunakan sebagai alat transportasi. Ada kereta (kuda), ada dokar, ada pedati, dan lain sebagainya.

Melihat banyaknya manfaat binatang peliharaan, ada masyarakat yang hingga kini masih tetap melakukan acara syukuran atas rezaki dari binatang tersebut, yaitu sebagian masyarakat Gunung Kidul – Yogyakarta, dengan melaksanakan tradisi ‘Gumbregan.’

Tradisi Gumbregan adalah bukti sifat luhur masyarakat petani di Jawa, khususnya di Yogyakarta yang begitu peduli dan sayang pada hewan ternaknya. Ucapan syukur dan kebijakan berbagi hasil bumi langsung kepada ternak adalah ucapan terima kasih dan keikhlasan dari petani untuk ternak kesayangannya. Sajian dalam tradisi Gumbregan adalah makanan tradisional yang berasal dari hasil bumi seperti ketela, kimpul, nasi kupat, kolak pisang, jadah, dan trembili. Ada juga among–among, yaitu nasi putih dibungkus daun pisang yang dibuat lancip, ukurannya kecil dan diberi lauk pauk. Kesederhanaan sajian ini bukan tanpa alasan. Penggunaan hasil bumi hasil kebun sendiri adalah pelaksanaan prinsip hidup qonaah atau sederhana.

Gumbregan diawali dengan doa bersama di teras milik tuan rumah. Sajian makanan tradisional disuguhkan dan doa diselenggarakan. Seusai berdoa di teras rumah, acara berlanjut ke kandang ternak dengan membawa air dan makanan yang telah disiapkan tadi. Berbagai macam kupat yang tadi disertakan dalam doa bersama juga dibawa ke kandang. Rangkaian kupat ini diletakkan di langit-langit kandang. Di malam hari setelah itu, anak-anak boleh mengambil kupat-kupat tersebut. Karena itulah disertakan kupat yang tidak ada isinya, sehingga anak-anak tidak mengambil jenis kupat ini. Karena tidak diambil, maka masih ada sisa kupat yang menggantung di kandang yang menjadi jatah untuk ternak disana.

Source http://www.gedangsari.com/ http://www.gedangsari.com/inilah-sejarah-dan-seni-budaya-yang-masih-melekat-di-gunungkidul-yogyakarta.html
Comments
Loading...