Syukuran Banyu Desa Pluneng, Klaten

0 72

Kirab Merti Banyu

Tradisi yang dilakukan sejak Jumat, 30 Oktober 2015, dengan awalan Resik-resik Kali dan berakhir pagelaran wayang. Resik-resik Kali melibatkan masyarakat yang ada di Plunen Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. Setelah acara Resik-resik Kali membersihkan sungai di wilayah Desa Pluneng, diselenggarakan acara Kirab Merti Banyu, mengarak kendi dan tumpeng dari Balai Desa Pluneng menyusuri sawah dan sungai menuju Umbul Lanang yang berjarak sekitar 1 km.

Tumpeng dan ingkung dikirab menyusuri sawah

 

Sesampai di Umbul Lanang tumpeng, kendi, padasan, klenthing, dan wadah air lainnya diletakkan di tepi kolam. Rombongan kirab disambut dengan musik ciblon, musik yang dihasilkan oleh pukulan tangan di permukaan air dengan berbagai variasi. Dua pemain pria dan tiga wanita, serta vokalis menyanyikan beberapa lagu sebelum acara merti banyu dimulai.

Para pemain musik ciblon beraksi

Tradisi Merti Bumi

Dalam Kamus Bahasa Indonesia-Sansekerta karya Dr. Purwadi, M. Hum dan Eko Priyo Purnomo, SIP, merti berarti merawat; merti desa berarti kenduri untuk selamatan desa. Menurut Suseno (1998) merti bumi berasal dari bahasa Jawa petri yang berarti memetri (memelihara) dan bumi (tanah), sehingga apabila kedua kata tersebut dirangkai, mengandung pengertian memelihara bumi, menjaga dan melestarikan dengan sebaik mungkin.

Tradisi Merti Bumi muncul atas gagasan masyarakat setelah masa panen yang terus menerus melimpah dan tidak ada bencana alam yang melanda desanya. Tradisi Merti Bumi mempunyai tujuan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan dari ancaman bencana alam, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki, kesehatan dan ketenteraman. Merti Bumi merupakan tradisi yang umumnya dijumpai pada masyarakat agraris (Isyanti, 2007), meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam penyebutan nama kegiatannya. Ciri khas dalam kegiatan merti desa adalah adanya tumpeng nasi putih dan ingkung. Ingkung adalah ayam jago yang dimasak utuh, tanpa dipotong-potong yang diikat atau dibelenggu antara leher dan kakinya. Ingkung dihadirkan sebagai perlambang agar manusia tidak mengikuti perilaku ayam jago yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Berdasarkan pengertian tersebut, merti banyu dapat dijelaskan sebagai sebuah bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan rahmat berupa air yang melimpah-ruah dan upaya memelihara air, menjaga dan melestarikannya sebaik mungkin.

Tumpeng dan ingkung tiba di Umbul Lanang

Silaturahmi Hulu-Hilir  

Joko Pitoyo, salah satu inisiator Syukuran Banyu Desa Pluneng bersama Udi Prasojo dan Lanjar Puryanto, mengatakan masyarakat Pluneng sangat beruntung  karena di tengah kemarau panjang yang mendera ketersediaan air bersih mereka tetap terjaga. Menurut Joko Pitoyo, masyarakat Pluneng hanya nemu(menemukan sesuatu tanpa usaha) berlimpahnya air di desa mereka. Ada pihak lain yang diyakini berperan besar terhadap kondisi tersebut, yaitu peran saudara-saudara mereka yang tinggal di lereng G. Merapi sebagai daerah tangkapan hujan (catchment area). Ketersediaan air di Pluneng sangat tergantung pada seberapa besar tutupan lahan lereng G. Merapi oleh tanaman tahunan.

Kesadaran spasial-ekologis semacam ini tentu saja akan sangat berdampak positif bagi kelestarian air dan kelestarian lingkungan pada umumnya. Ide besar dari desa kecil pun muncul dari Pluneng: silaturahmi hulu-hilir yang dibangun oleh kesadaran merti banyu.Masyarakat hilir harus berterima kasih kepada masyarakat hulu dan wajib menemukan solusi kekeringan yang setiap tahun dialami oleh masyarakat hulu. Aksi lanjut atas kesadaran spasial-ekologis tersebut adalah pemberian bantuan air dan bibit pohon kepada masyarakat hulu di lereng G. Merapi.

Penyerahan bibit pohon kepada masyarakat hulu Desa Gigirpasang

Wayang Semalam Suntuk

Kegiatan Syukuran Banyu Desa Pluneng 2015 diwarnai dengan doa bersama oleh pemuka agama Islam, Katholik, Kristen Protestan, dan Hindu, serta pengambilan air umbul (mata air) oleh para pemuka agama dan pejabat lokal.

Pengambilan air Umbul Lanang

Air yang ditempatkan dalam wadah padasan (tampungan air untuk wudlu),  kendi, dan klenthing diboyong menuju lokasi pelaksanaan pentas wayang kulit semalam suntuk.  Wayang diyakini sebagai media komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Suwardi (2006) mengatakan bahwa keterkaitan manusia dengan Tuhan  diungkap melalui simbol-sombol seni wayang kulit sakral. Sebagai bentuk simbolis, kehadiran wayang kulit dalam acara merti desa merupakan ekspresi penghormatan kepada Tuhan maupun roh-roh nenek moyang. Wayang kulit secara simbolis memberikan kontribusi pada pembentukan sikap hidup manusia dalam upaya mencapai kehidupan yang selaras dengan lingkungan.

Boyong banyu menuju tempat pementasan wayang kulit

Rangkaian kegiatan Syukuran Banyu Desa Pluneng ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Giyono Sabdo Pandoyo dengan lakon atau cerita “Ampak-ampak Wiratha”. Lakon wayang kulit yang dimainkan merupakan representasi simbolik dari kesadaran warga akan harapan dan keselamatan.

Source Tradisi Syukuran Syukuran Banyu

Leave A Reply

Your email address will not be published.