Suro’an, Tradisi Masyarakat Kediri

0 415

Tradisi suro’an ini merupakan tradisi kuno yang sudah lama berkembang di Jawa Timur terutama berkembang dan sampai saat ini masih dilakukan di Wilayah Selatan, seperti Kediri, Tulungagung, dan Blitar. Tradisi suroan yang akan saya bahas adalah tradisi yang ada setiap peringatan bulan suro, tepatnya malam satu suro dan dilaksanakan di Setiap perempatan di desa, upacara ini dilakukan untuk tujuan membersihkan desa dari (balak) atau mala petaka yang  menimpa desa (Bersih Desa), pada kegiatan ini semua masyarakat beramai-ramai berkumpul dalam satu tepat (perempatan) untuk melakukan Do’a bersama.

Doa bersama ini biasanya dipimpin oleh sesepuh desa atau yang di tuakan di desa, acara ini dimulai sehabis magrib sampai menjelang isya’. Upacara yang berisi doa-doa bersama dan makan-makan ini merupakan tradisi rutin setiap menjelang bulan Suro. Makanan yang dibawa disini biasanya makanan tradisional, seperti Tumpeng Komplit dan aneka jajan pasar, hal ini yang menjadi hal unik tersendiri.

Tradisi ini berawal ketika Sultan Agung menetapkan penanggalan jawa untuk pertama kali, bulan suro dipercaya keramat sehingga muncul kepercayaan 1 suro dengan beragam ritual, ritual yang awalnya berpusat di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Pada tanggal ini pula, para penggemar tosan aji akan melakukan ritual jamasan (pencucian benda-benda pusaka).

Khusus di Kediri biasanya ada ritual Larung Sesaji di sungai Brantas, dan upacara-upacara di tempat Petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo, untuk mengenang dan tentunya mendoakan serta sebagai sarana untuk meneladani sifat-sifat arif Joyoboyo, khususnya bagi warga masyarakat Kediri.

Source http://rizam-historystudents.blogspot.com/2012/03/tradisi-suroan-dan-larangan-pernikahan.html http://rizam-historystudents.blogspot.com
Comments
Loading...