“Srandul” Kesenian Asli Gunung Kidul Yang Hampir Saja Dilupakan

0 266

Srandul salah satu kesenian yang termasuk ke dalam jenis drama tari. Jika dilihat dari isi cerita yang biasa dipentaskan, terdapat perbedaan cerita antara daerah satu dengan yang lain. Di daerah tertentu cerita yang dapat dimainkan dalam kesenian srandul ini tidak terbatas pada satu judul atau tokoh tertentu, bahkan kini mulai ada cerita srandul yang mengusung tema Islami, akan tetapi di daerah lain kesenian Srandul ini hanya mementaskan cerita rakyat dengan tokoh Dadung Awuk saja, sehingga mirip dengan kesenian Dadung Awuk.

Awal Mula Kesenian Srandul

Pada mulanya Srandul digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Karena jika dilihat dari syair-sayair lagu dan dialog yang diucapkan mengandung makna yang religius dan berbau Islami. Namun, seiring perkembangan jaman, Srandul menjadi salah satu bagian seni pertunjukan di Jawa.

Peralatan Kesenian Srandul 
Dalam kesenian srandul ini dilakukan dengan dialog yang berupa parikan atau tembang dan percakapan. Kesenian srandul ini semula timbul di dukuh Jogodayoh Desa Gumulan. Adapun srandul ini masih berkembang dengan baik di Prambanan dan Kemalang. Di dukuh Semanding kampung terpencil berjarak hanya 1,5 kilometer perbatasan Kabupaten Temanggung-Kendal atau persisnya di Desa Kedungboto, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah terdapat perkumpulan kesenian tradisional Srandul. Adapun alat alat yang di gunakan untuk pementasan sangatlah sederhana, yaitu berupa kendang, angklung dan terbang besar. Yang perlu di garis bawahi adalah penggunaan alat musik yang Seluruh alat musik pengiringnya terbuat dari bambu. Meskipun demikian alat-alat musik yang dipergunakan dan tehnis penyajiannya adalah seragam.
Pementasan Srandul
Srandul biasanya dilakukan kurang lebih 6 – 15 orang lengkap dengan iringan musik tradisional,yaitu 6 orang untuk menjadi pemusik dan 9 orang menjadi pemain. Pemain Srandul ini ada yang terdiri dari pria dan wanita, tetapi ada pula yang hanya terdiri dari pria saja, dengan peran wanita dimainkan oleh pria. Kostum yang dipakai dalam pertunjukan Srandul adalah pakaian-pakaian yang biasa dikenakan orang-orang pedesaan sehari-hari, ditambah dengan sedikit make up yang bersifat realis. Dialog di atas pentas juga merupakan dialog dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan aktivitasnya diwujudkan dengan tarian.
Pertunjukan Srandul dipentaskan pada malam hari, dengan lama pertunjukan yang tidak tentu, tergantung pada permintaan. Sebagai pra-tontonan hanya diberikan tetabuhan. Srandul menggunakan tempat pementasan berbentuk arena dengan alat penerangan yang sampai sekarang tetap dipertahankan, yaitu obor. Para pelakon sambil mengitari sebuah obor melantunkan syair-syair disertai dengan gerakan tari khas. Uniknya pertunjukkan ini meskipun ada tokoh perempuan, tetapi tetap saja yang memerankan seorang pria dengan memakai atribut wanita. Alasannya karena seorang wanita tidak pantas menari dan nembang di hadapan orang yang bukan muhrimnya, ini sangat kental kaitannya dengan ajaran-ajaran Islam.
Pemain perkusi tidak hanya menabuh dan memukul alat musik, tetapi juga melantunkan syair sebagai sahutan lantun dari para aktor yang di mainkan. Syair-syair yang dilantunkan juga menggambarkan rasa syukur masyarakat terhadap sang Pencipta atas limpahan riski yang diberikanya. Hal ini tercermin dalam beberapa syair yang mengagungkan nam Alloh dan Rasulullah. Dalam setiap pertunjukkan kurang lebih ada 25 syair yang dilantunkan secara bergantian sesuai dengan lakon yang diperankan.
Source "Srandul" Kesenian Asli Gunung Kidul Yang Hampir Saja Dilupakan "Srandul" Kesenian Asli Gunung Kidul Yang Hampir Saja Dilupakan
Comments
Loading...