Slametan, Gerbang Interaksi dengan Sedulur Papat Limo Pancer

0 271

Sesaji dan slametan adalah sarana untuk berinteraksi dengan makhluk yang tidak kasat mata (gaib) dengan tujuan sama-sama berbakti kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi. Slametan juga dilakukan sebagai wujud sapaan kepada saudara “goib” yang berada di empat penjuru mata angin atau biasa disebut dengan “Sedulur papat lima pancer”.

Sedulur yang ada di sisi timur disebut Tirtanata, sedulur yang ada di sisi utara disebut Warudijaya, sedulur yang ada di  sisi selatan disebut Purbangkara dan sedulur yang ada di sisi barat disebut Sinotobatara.

Sedang sesuatu yang disebut dengan Pancer adalah dirinya sendiri atau hati nurani setiap orang. Sedulur papat ini memiliki kemampuan dan mengendalikan hati nurani masing-masing orang.

Dengan demikian secara turun temurun diyakini apabila orang ingin selalu dijaga, diingatkan atau dikendalikan dari keinginan dan pengaruh jahat, maka orang tersebut wajib  ‘menyapa’ keempat sedulur yang ada di masing-masing arah penjuru mata angin itu.

Cara tegur sapa tersebut menurut kepercayaan yang diwariskan nenek moyang dilakukan dengan mengadakan sesaji Sega Putih, Sega Cemeng, Sega Abang dan Sega Kuning

Wujud upacara slametan mungkin berbeda-beda dari desa yang satu dengan desa yang lainnya. Hal itu terkait dengan kemakmuran dan luas atau sempitnya wilayah desa maupun kabuyutan masing-masing.

Ada yang cukup berslametan berupa sesaji sederhana di tempat-tempat yang dianggap dihuni oleh makhluk gaib. Ada juga yang disertai upacara yang memerlukan medium atau perantara antara manusia dengan para makhluk gaib yang menghuni suatu desa.

Dukun, penari tayub atau ronggeng dan dalang menjadi medium terlebih dahulu. Artinya, makhluk gaib di desa tersebut dalam memberi jawaban ajakan pergaulan warga manusia melalui medium tersebut. Banyak juga medium yang berasal dari Ki Buyut desa itu sendiri.

Slametan Memule Diri Pribadi

Dalam kaitannya dengan upacara daur hidup, laku budaya slametan juga dilakukan untuk menyambut kelahiran bayi, upacara pengantin, dan ntuk ngrukti layon. Sajen bahkan juga turut disertakan dalam selametan memule diri pribadi yang dilaksanakan setahun sekali pada hari kelahiran atau pada weton berdasar hitungan penanggalan Jawa.

Wahyana Giri menulis, ada beberapa pilihan dan alternatif uborampe , di antaranya berupa :
1.    Sega biru atau nasi biru dengan lauk kerbau satu
2.    Tumeng megana di dalamnya diisi daging ayam putih mulus dan pada bagian luar diberi gudangan manca warna
3.    Nasi kuning dengan lauk kerbau satu yang digoreng
4.    Nasi gurih dengan bumbu rempah-rempah dari telur ayam dimasak menggunakan kuali yang mash baru dan tempat memasaknya di tengah halaman dengan menggunakan kayu pelupuh. Ketika menyalakan api, wajib menggunakan merang. Uborampe  ini disertai dengan sayur 7 macam
5.    Nasi lemak lauk ayam putih mulus
6.    Tumpeng lauk sayur dedaunan 7 macam tanpa bumbu atau tanpa rasa (anyepan)
7.    Nasi kebuli
8.    Kupat Luwar 70 buah disertai lauk berupa kerbau satu dijadikan 70 bagian
9.    Sego golong, pecel ayam, jangan menir dan masakan melukut
10.    Jenang abang, jenang cocor, jenang lemu, jenang lowok, jenang sumsum, jenang bening, jenang katul, jenang lahan, bubur jagung, abon, dan panjang
11.    Srabi abang putih, bikang abang putih, pasung abang putih, tumpi, sawutan, klepon, apem, pala, kembang pari, paksawutan angin, utri, brondong, kelapa wutuh, gedang mas 2 tangkep, tebu wulung 4 batang, cempaka 40 pasang.

adalah sarana untuk berinteraksi dengan makhluk yang tidak kasat mata (gaib) dengan tujuan sama-sama berbakti kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi. Slametan juga dilakukan sebagai wujud sapaan kepada saudara “goib” yang berada di empat penjuru mata angin atau biasa disebut dengan “Sedulur papat lima pancer”.

Sedulur yang ada di sisi timur disebut Tirtanata, sedulur yang ada di sisi utara disebut Warudijaya, sedulur yang ada di  sisi selatan disebut Purbangkara dan sedulur yang ada di sisi barat disebut Sinotobatara. Sedang sesuatu yang disebut dengan Pancer adalah dirinya sendiri atau hati nurani setiap orang. Sedulur papat ini memiliki kemampuan dan mengendalikan hati nurani masing-masing orang.

Dengan demikian secara turun temurun diyakini apabila orang ingin selalu dijaga, diingatkan atau dikendalikan dari keinginan dan pengaruh jahat, maka orang tersebut wajib  ‘menyapa’ keempat sedulur yang ada di masing-masing arah penjuru mata angin itu. Cara tegur sapa tersebut menurut kepercayaan yang diwariskan nenek moyang dilakukan dengan mengadakan sesaji Sega Putih, Sega Cemeng, Sega Abang dan Sega Kuning

Wujud upacara slametan mungkin berbeda-beda dari desa yang satu dengan desa yang lainnya. Hal itu terkait dengan kemakmuran dan luas atau sempitnya wilayah desa maupun kabuyutan masing-masing. Ada yang cukup berslametan berupa sesaji sederhana di tempat-tempat yang dianggap dihuni oleh makhluk gaib. Ada juga yang disertai upacara yang memerlukan medium atau perantara antara manusia dengan para makhluk gaib yang menghuni suatu desa.

Dukun, penari tayub atau ronggeng dan dalang menjadi medium terlebih dahulu. Artinya, makhluk gaib di desa tersebut dalam memberi jawaban ajakan pergaulan warga manusia melalui medium tersebut. Banyak juga medium yang berasal dari Ki Buyut desa itu sendiri.

Slametan Memule Diri Pribadi

Dalam kaitannya dengan upacara daur hidup, laku budaya slametan juga dilakukan untuk menyambut kelahiran bayi, upacara pengantin, dan untuk ngrukti layon. Sajen bahkan juga turut disertakan dalam selametan memule diri pribadi yang dilaksanakan setahun sekali pada hari kelahiran atau pada weton berdasar hitungan penanggalan Jawa.

Wahyana Giri menulis, ada beberapa pilihan dan alternatif uborampe , di antaranya berupa :
1.    Sega biru atau nasi biru dengan lauk kerbau satu
2.    Tumeng megana di dalamnya diisi daging ayam putih mulus dan pada bagian luar diberi gudangan manca warna
3.    Nasi kuning dengan lauk kerbau satu yang digoreng
4.    Nasi gurih dengan bumbu rempah-rempah dari telur ayam dimasak menggunakan kuali yang mash baru dan tempat memasaknya di tengah halaman dengan menggunakan kayu pelupuh. Ketika menyalakan api, wajib menggunakan merang. Uborampe  ini disertai dengan sayur 7 macam
5.    Nasi lemak lauk ayam putih mulus
6.    Tumpeng lauk sayur dedaunan 7 macam tanpa bumbu atau tanpa rasa (anyepan)
7.    Nasi kebuli
8.    Kupat Luwar 70 buah disertai lauk berupa kerbau satu dijadikan 70 bagian
9.    Sego golong, pecel ayam, jangan menir dan masakan melukut
10.    Jenang abang, jenang cocor, jenang lemu, jenang lowok, jenang sumsum, jenang bening, jenang katul, jenang lahan, bubur jagung, abon, dan panjang
11.    Srabi abang putih, bikang abang putih, pasung abang putih, tumpi, sawutan, klepon, apem, pala, kembang pari, paksawutan angin, utri, brondong, kelapa wutuh, gedang mas 2 tangkep, tebu wulung 4 batang, cempaka 40 pasang.

Source https://www.suaramerdeka.com https://www.suaramerdeka.com/gayahidup/baca/744/slametan-gerbang-interaksi-dengan-sedulur-papat-limo-pancer
Comments
Loading...