Siraman Gong Kyai Pradah, Tradisi Blitar Yang Harus Lestari

0 266

Upacara adat Siraman Pusaka Gong Kyai Pradah merupakan salah satu bentuk budaya lokal di Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Upacara siraman Gong Kyai Pradah dilaksanakan dua kali setahun, yaitu setiap tanggal 12 Robiul Awal bertepatan dengan hari Maulud Nabi Muhammad dan tanggal 1 Syawal bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri. Khusus penyelenggaraan tanggal 12 Robiul Awal upacara diadakan secara besar-besaran, sedangkan upacara yang diadakan pada tanggal 1 Syawal dilaksanakan secara sederhana oleh petugas yang berkepentingan saja.

Makna Upacara Gong Kyai Pradah

Upacara adat siraman pusaka Gong Kyai Pradah banyak mengandung nilai-nilai budaya luhur warisan nenek moyang, oleh karena itu sebaiknya tradisi tersebut tetap dilestarikan dan diinternalisasikan kepada generasi muda supaya mereka tidak lepas dari akar budayanya. Pelaksanaan upacara adat siraman pusaka tersebut merupakan bentuk pemeliharaan secara tradisional benda peninggalan nenek moyang yang berupa Gong bernama Kyai Pradah, sehingga dengan pemeliharaan ini pusaka Gong Kyai Pradah akan tetap lestari.

Sejarah Pusaka Gong Kyai Pradah

Dikutip dari cerita Babat Pusaka Kyai Pradah di Lodoyo menurut Serat Babat Tanah Jawi, antara tahun 1704 – 1719 Masehi di Surakarta bertahtalah seorang Raja bernama Sri Susuhan Paku Buwono I. Raja ini mempunyai saudara tua yang lahir dari istri ampeyan (bukan Permaisuri) bernama Pangeran Prabu. Pangeran Prabu sangat kecewa karena sebagai saudara tua, tidak dinobatkan sebagai Raja Surakarta sehingga timbullah keinginannya untuk membunuh Sri Susuhan Paku Buwono I. Namun akhirnya keinginan Pangeran Prabu tersebut tercium oleh Sri Susuhan Paku Buwono I dan sebagai hukumannya Pangeran Prabu diperintahkan untuk membuka hutan di daerah Lodoyo yang pada saat itu merupakan hutan yang sangat lebat yang dihuni oleh binatang binatang buas serta hutan tersebut dianggap sebagai tempat yang sangat angker. Keberangkatannya diikuti oleh istrinya yaitu Putri Wandasari serta abdi kesayangannya bemama Ki Amat Tariman dengan membawa Pusaka berupa bende yang disebut Kyai Becak. Pusaka tersebut akan digunakan untuk tumbal hutan Lodoyo yang dianggap angker serta banyak dihuni oleh roh–roh jahat.

Pangeran Prabu masih sangat merasakan duka yang mendalam pada waktu tinggal di rumah Nyi Partasura dan ingin bertapa di hutan pakel. Pangeran Prabu menititipkan Pusaka Kyai Becak kepada Nyi Partasura dengan pesan bahwa setiap tanggal 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal pusaka tersebut harus dimadikan dengan bunga air setaman, air bekas memandikan pusaka harus dapat menyembuhkan penyakit serta dapat menetramkan hati bagi siapa yang meminumya.

Hingga pada akhirnya Ki Tariman merasa kebingungan karena terpisah dengan Pangeran Prabu dan pada akhirnya Ki Tariman mencoba membunyikan gong dengan maksud Apabila Pangeran Prabu mendengar bunyi gong akan mencari kearah sumber suara itu. Tetapi yang datang ternyata harimau besar,  anehnya harimau–harimau itu tidak mengganggu Ki Amat Tariman bahkan memberikan petunjuk dimana Pangeran Prabu berada sehingga Kyai Becak juga disebut Kyai Macan atau Kyai Pradah.

Pusaka Kyai Becak kemudian diturunkan kepada Kyai Imam Seco karena Kyai Imam Sampurna dipanggil ke istanan Surakarta. Pada tahun 1793 Kyai Imam Seco meninggal dunia dan Kyai Pradah dirawat dan dipelihara oleh Raden Ronggokertaredjo dan ditempatkan di Desa Kalipang Lodoyo sampai sekarang.

Bentuk Pusaka Kyai Pradah berupa Gong (kempul) laras lima yang dahulu dibalut/ ditutup dengan sutera Pelangi/Cinde. Sampai sekarang pesan Pangeran Prabu untuk memelihara Pusaka Kyai Pradah tetap dilaksanakan dengan baik.

Source Siraman Gong Kyai Pradah, Tradisi Blitar Yang Harus Lestari Siraman Gong Kyai Pradah, Tradisi Blitar Yang Harus Lestari Siraman Gong Kyai Pradah, Tradisi Blitar Yang Harus Lestari
Comments
Loading...