Siraman Pada Adat Jawa

0 575

Siraman Adat Jawa

Sebelum melaksanakan Siraman ,di laksanakan terlebih dahulu  kegiatan Sungkeman. Sungkeman kepada kedua orang tua dari pihak pengantin masing masing secara bergantian.Jika acara tersebut dihadiri kakek nenek, Sungkeman lebih dahulu ditujukan kepada keduanya, kemudian kepada orang tua.

Setelah itu baru di laksanakan kegiatan Siraman,siraman adalah upacara adat ritual warisan nenek moyang kita yang mengandung banyak falsafah di dalamnya. Dalam tiap langkah pada prosesi siraman dimaknakan agar para calon pengantin membersihkan diri dan hati sehingga semakin mantap untuk melangsungkan pernikahan esok harinya dan kehidupan keluarga bisa tentram. Pada upacara yang lebih bersifat intern ini seluruh keluarga besar berkumpul, berbagi suka, memberikan doa restu dan dukungan moral pada sang calon pengantin untuk memasuki fase baru dalam kehidupannya

Perlengkapan pelaksanaan acara Siraman terdiri dari: Gayung Siraman, untaian padi kuning keemasan yang menyertai gayung tersebut melambangkan merunduk dan mengayomi keluarga. Bubur Sengkolo memiliki arti sebagai penolak bencana sehingga semua dapat berjalan lancar; Selain itu terdapat rebusan umbi-umbian yang tumbuh dalam tanah (lebih dikenal dengan nama polo pendem) dimaknakan agar rumah tangga yang nanti akan dibina oleh sang pengantin akan mempunyai pondasi yang kuat.

Kegiatan acara ini diawali dengan menyiapkan air Siraman yang berasal dari 7 sumber ke dalam gentong. Sumber air Siraman biasanya diambil dari rumah besan, rumah pini sepuh, dan rumah adat yang kemudian diaduk dengan campuran bunga.

Ketika menunggu calon mempelai puteri bersiap-siap untuk siraman, sang Ayah melakukan pemasangan bleketepe (anyaman daun kelapa) sebagai tarub pada gerbang rumah. Pemasangan tarub di maknakan sebagai tanda resmi bahwa akan ada hajat mantu di rumah yang bersangkutan.

Tata cara memasang tarub dimulai sang Ayah menaiki tangga, sementara Ibu memegangi tangga sambil membantu memberikan bleketepe. Tatacara ini menjadi perlambang gotong royong kedua orang tua yang menjadi pengayom keluarga. Setelah selesai memasang tarub, kain penutup tuwuhan di kedua sisi gerbang masuk di buka. Tuwuhan mengandung arti suatu harapan kepada anak yang dijodohkan agar dapat memperoleh keturunan, untuk melangsungkan sejarah keluarga.Siraman dimulai dari kedua orang tua pengantin. Air wudhu lalu dikucurkan oleh sang ayah dari kendi siraman. Kemudian kendi dipecahkan oleh kedua orang tua sebagai tanda pecahlah pamor sang anak sebagai wanita dewasa dan memancarlah sinar pesonanya.

Acara potong rambut, diikuti dengan menggendong ananda ke dalam rumah melambangkan kasih sayang orang tua yang senantiasa mengiringi anaknya sampai detik terakhir menjelang tahap baru kehidupan sang anak.Dari serangkaian acara yang dilakukan orang tua sangat mendoakan bagi kelangsungan dan keharmonisan dari sang anak,serta mereka sudah menyerahkan semua tanggung jawab mereka kepada pihak mempelai laki-laki untuk menjaga ,membimbing,dan mengayomi sesuai dan seperti orang tuanya yang menyayangi anaknya.

 

Source Siraman Yang Terdapat Pada Adat Jawa weddingku
Comments
Loading...