Sinom, Bagian II Serat Panitisastra

0 71

Sinom, Bagian II Serat Panitisastra

Sinom
(1) Muwus arum ing pareman, wiyosing sabda minta sih, den amanis manohara, den alus den ngarih-arih, prihen lunturing kang sih, ywa kongsi rengat ing kalbu, yen sira lulungguhan, lan para pandhita sami, atanyaa sagung ujaring kang sastra. (cuplikan tembang sinom bait 1)
Artinya: Berbicara dengan sangat pelan dan halus dalam percakapan, perkataan yang keluar sangatlah manis, semanis manohara, yang halus dan menasehati secara halus, jangan sampai rasa sayangnya hilang, jangan samapi hilang dari hati, dan jika kamu sedang duduk, dengan para pendeta juga, tanyakanlah semuannya tentang ucapan-ucapan yang mengandung sastra.
(7) yeku cih naning anyata, jati kula araneki, tandhaning janma utama, ing panengran tan ngendrani, iwire tan cidreng jangji, ring antara wus tinemu, yekang aran pandhita, sastra genyang ta lirneki, tar angendhak sagung patanyan, kang prapta. (cuplikan tembang Sinom pupuh 7)
Artinya: itulah nyatanya, sebenarnya itu namanya, yang menunjukkan orang utama, dapat dilihat dari tanda-tanda yang ada, tidak pernah ingkar janji, diantarannya sudah ditemukan, yang diberi nama pendeta, sastra itu terlihat menyenangkan, tidak dapat berhenti menanyakan tentang itu, yang akan datang.
Isi teks: Dalam cuplikan di atas berisi tentang bagaimana kita bertutur kata yang baik sebagai remaja atau pemuda sebagaimana semestinya. Dan juga menggambarkan seorang pendeta yang tidak pernah mengingkari janjinya.
Source https://budaya-indonesia.org https://budaya-indonesia.org/Sinom-Bagian-II-Serat-Panitisastra/
Comments
Loading...