Set-seset Maloko’, Syair Pemanggil Angin

0 59

Set-Seset Maloko’

Seset (Capung) adalah sejenis serangga yang banyak diketemukan pada pergantian musim hujan ke musim kemarau. Pada pergantian musim inilah Capung-capung mulai mengepakkan sayapnya, membelah angkasa. Nyanyian yang hanya terdiri dari empat bait ini biasanya dinyanyikan oleh seorang ibu sambil menggendong anaknya ketika sedang menyuapi makanan pada sang anak.

Set-Seset Maloko’

Set-seset maloko’
Iya tompe, iya bu’bu’
Tompena bagi ka mama’na
Bu’ bu’na bagi ka embu’na

Terjemahan

capung-capung kecil
ini kulit (dedak kasar/luar) jagung, ini dedak jagung
kulit (dedak kasar) untuk sang bapak
dedak jagung untuk sang ibu

Set-seset maloko’ biasanya juga dilantunkan oleh anak-anak ketika menjelang musim hujan, kalangan anak-anak memanfaatkan untuk bermain layang-layang. Bermain layang-layang juga dibutuhkan angin yang cukup untuk menggerakkan dan menerbangkan layang-layangnya. Nah, pada saat ketika angin belum juga bertiup, anak-anak melantunkan syair set-seset maloko’ dengan irama memanggil angin sampai angin datang.

Set-seset maloko’, adalah rangkaian kalimat yang sangat sederhana, namun apabila dikaji lebih jauh lagi maka setiap baris dalam kalimat tersebut mempunyai nilai filosofis yang sangat mendalam. Secara umum bait-bait ini memberikan nuansa umum tentang perbuatan baik dan menyenangkan kepada siapapun. Namun secara khusus, baris ketiga dan keempat memberi penekanan tentang keutamaan makhluk ciptaan-Nya, yaitu keutamaan seorang ibu.

Ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah nabi besar Muhammad SAW, siapakah orang pertama yang wajib dihormati dan diutamakan, Rasulullah menjawab ibu, pertanyaan tersebut dilontarkan sampai tiga kali, dan Rasulullah tetap menjawab ibu, baru keempat kali Rasulullah menjawab bapak. Ruh dari sabda nabi besar Muhammad SAW tersebut telah menjadi darah yang mengalir dalam setiap nadi dan menjadi kultur suku bangsa Madura yang menempatkan sosok ibu menduduki tempat yang sangat istimewa dan utama. Tidaklah mengherankan apabila penulis syair ini memberikan sesuatu yang sangat istimewa bagi sang ibu, “bu’bu’na bagi ka embu’na”.

Baris keempat, “bu’bu’na bagi ka embu’na”, kalimat ini sejalan dengan kebutuhan ibu dalam pemenuhan gizi.. Bu’ bu’ (dedak jagung ) adalah bahan makanan mengandung nutrisi gizi yang sangat tinggi. Mengapa  bu’ bu’ (dedak jagung) ini diberikan kepada ibu ? Bukan kepada Bapak ? Mengapa sang bapak cuma di beri tompe (kulit luar/dedak kasar) ? Pertanyaan ini tentunya sesuai dengan kebutuhan ibu sebagai pendonor pertama kebutuhan nutrisi gizi bagi putra-putrinya.. Dedak jagung adalah bahan makanan yang halus dan enak, banyak mengandung gizi yang tentunya sangat berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk ibu hamil dan menyusui. Mengapa bu’bu’, bukan makanan lain seperti beras ?  Karena ketika penulis syair ini hidup pada masa itu, jagung merupakan makanan pokok suku Madura. Namun esensi dari baris keempat pada puisi lisan tersebut, bahwa manusia Madura memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada sosok Ibu. Tentunya ini merupakan ruh dari kultur budaya Madura yang relegius.

Source http://www.lontarmadura.com http://www.lontarmadura.com/setseset-maloko-syair-pemanggil-angin/2/
Comments
Loading...