Serat Wulangreh: Lelima Sinembah, Sembah Lelima

0 22

Serat Wulangreh: Lelima Sinembah, Sembah Lelima

Dalam Serat Wulangreh, pupuh Maskumambang, Sri Pakubuwana IV memberikan ajaran tentang kepada siapa dalam hidup ini, “sembah” kita tujukan. Ke lima sembah tersebut ditujukan kepada: (1) Rama ibu: yaitu kedua orang tua kita, (2) Maratuwa lanang wadon: Mertua laki-laki dan perempuan, (3) Sadulur tuwa: Saudara tua (4) Guru dan (5) Gustinireki: yaitu Allah SWT. Sebagai catatan, istilah memang sama yaitu “Sembah” tetapi pengertiannya tentu jauh beda antara sembah kepada manusia dan sembah kepada Tuhan.

Kedua Orang Tua

Hal ini terkait dengan pesan Sri Pakubuwana IV untuk berbakti kepada orang tua (Serat Wulangreh: Anak muda berbaktilah kepada orang tua). Mengapa “hormat” ditujukan kepada bapak dan ibu. Karena: (1) Ayah dan ibu merupakan lantaran kita bisa hidup di dunia ini. (2) Dalam kehidupan di dunia kita bisa pandai dan tahu hal-hal baik maupun buruk tak lain melalui kedua orang tua kita sesuai kehendak Allah yang maha kuasa.

Mertua Laki-laki dan Perempuan

Kedua mertua (laki-laki dan perempuan) wajib dihormati karena melalui mereka kita memperoleh kenikmatan (aweh rasa dan sajatine rasa) selanjutnya memberi peluang kita untuk memperoleh keturunan (mencarken wiji).

Saudara Tua

Saudara tua adalah pengganti orang tua yang perlu kita ikuti pituturnya kalau orang tua kita sudah meninggal.

Guru

Kita hormat pada guru karena melalui guru kita memperoleh petunjuk kesempurnaan  hidup sampai mati (atuduh sampurnaning urip tumeka antaka), dapat pepadhang hati yang gelap dan  petunjuk jalan menuju kemuliaan hidup (madhangaken petenging ati dan ambenerken marga mulya).

Berat beban orang yang durhaka kepada guru. Oleh sebab itu kita harus berupaya supaya selalu dicintai guru kita dan jangan sampai berkurang kecintaan kita kepada guru. (minta asih siyang ratri dan ywa nganti suda sihira).

Allah SWT

Dalam Serat Wulangreh pupuh Maskumambang bait ke 19, disebutkan bahwa sembah hanya ditujukan kepada Allah SWT yang menguasai hidup dan mati kita maupun rejeki kita di dunia ini, sebagai berikut:

  • Kedua orang tua kita pun menurunkan kita tidak lain hanya atas kehendak Allah SWT semata.
  • Menyembah Tuhan berarti melaksanakan perintah Allah dan mematuhi laranganNya. Dalam pupuh Asmaradana bait ke 1 sd 3, disebutkan supaya kita melaksanakan Shalat 5 waktu. Siapa meninggalkan Shalat akan jadi “gabug” (gabug: bulir padi yang kosong). Demikian pula kita tidak boleh meninggalkan Rukun Islam yang lima.
  • Mengenai Rukun Islam ini pesan Sri Pakubuwana IV sederhana tetapi lugas:
  • (1) Laksanakan semampunya tetapi tidak boleh ditinggalkan (mapan ta sakuwasane; nanging aja tan linakyan)dan,
  • (2) Barang siapa tidak melaksanakan akan mendapat hukuman Allah (Sapa tan nglakonana; tan wurung nemu bebendu).

Demikianlah “Sembah Lelima” menurut Serat Wulangreh. Kepada kedua orang tua yang menjadi karena hidup kita di dunia; Kepada kedua mertua laki-laki dan perempuan yang memberi kenikmatan dan keturunan; Kepada saudara tua sebagai ganti orang tua; Kepada guru yang memberi pelita guna kesempurnaan hidup dan kepada Allah SWT yang menguasai hidup mati dan rejeki kita dengan menjalankan Rukun Islam yang lima, yaitu: Syahadat, Shalat lima waktu, Puasa, Zakat dan Haji dengan peringatan: Laksanakan sekuatnya (sakuwasane); Tetapi jangan sampai tidak melaksanakan (aja tan linakyan) dan siapa tidak melaksanakan akan mendapatkan azab (sapat tan nglakonana; tan wurung nemu bebendu)  (IwMM)

Source http://iwanmuljono.blogspot.com/ http://iwanmuljono.blogspot.com/2012/10/serat-wulangreh-lelima-sinembah-sembah.html
Comments
Loading...