Serat Wedhatama: Pupuh Gambuh dan Gancaran (Artinya) Pada 1 – Pada 17

0 267

Serat Wedhatama: Pupuh Gambuh dan Gancaran (Artinya)

Serat Wedhatama adalah Sastra tembang atau kidungan jawa karya Mangkunegara IV Wedhatama (berasal dalam bahasa  Jawa; Wredhatama) yang berarti serat (tulisan/karya) wedha (Ajaran) tama (keutamaan/utama). Serat Wedhatama terbagi menjadi 5 pupuh yaitu : pangkur, sinom, pucung, gambuh dan kinanthi. Dalam Pupuh Gambuh mengajarkan untuk mengungkapkan limpahan anugerah Tuhan YME harus ditebus dengan penghayatan mutlak, didasarkan pada kesucian batin, menjauhkan diri dari watak angkara murka (sifat egois yang berlebih-lebihan), serta ketekunan melakukan sembahyang. Langsung saja kita simak pupuh gambuh dan terjemahan bebasnya serta gancarannya berikut ini.
Pada 1
Samengko ingsun tutur, 
sembah catur supaya lumuntur, 
dihin raga, cipta jiwa, rasa, kaki, 
ing kono lamun tinemu, 
tandha nugrahaning Manon.Kelak saya bertutur, Empat macam sembah supaya dilestarikan; Pertama; sembah raga, kedua; sembah cipta, ketiga; sembah jiwa, dan keempat; sembah rasa, anakku ! Di situlah akan bertemu dengan pertanda anugrah Tuhan.
Pada 2
Sembah raga puniku, 
pakartine wong amagang laku, 
susucine asarana saking warih, 
kang wus lumrah limang wektu, 
wantu wataking wawaton. Sembah raga adalah Perbuatan orang yang lagi magang “olah batin” Menyucikan diri dengan sarana air. Yang sudah lumrah misalnya lima waktu Sebagai rasa menghormat waktu
Pada 3
Inguni-uni  ersua, 
sinarawung wulang kang sinerung, 
lagi iki bangsa kas ngetok-ken anggit, 
mintoken kawignyanipun, 
sarengate elok-elok.Zaman dahulu belumpernah dikenal ajaran yang penuh tabir. Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan, memamerkan ke-bisa-an nya amalannya aneh aneh
Pada 4
Thithik kaya santri Dul, 
gajeg kaya santri brahi kidul, 
saurute Pacitan pinggir pasisir, 
ewon wong kang padha nggugu, 
anggere guru nyalemong.Kadang seperti santri “Dul” (gundul)Bila tak salah, seperti santri wilayah selatanSepanjang Pacitan tepi pantaiRibuan orang yang percaya. Asal-asalan dalam berucap
Pada 5
Kasusu arsa weruh, 
cahyaning Hyang kinira yen karuh, 
ngarep-arep urup arsa den kurebi, 
Tan wruh kang mangkoko iku, 
akale keliru enggon.Keburu ingin tahu,cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan. Menanti-nanti besar keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mataOrang tidak paham yang demikian ituNalarnya sudah salah kaprah
Pada 6
Yen ta jaman rumuhun, 
tata titi tumrah tumaruntun, 
bangsa srengat tan winor lan laku batin, 
dadi ora gawe bingung, kang padha nembah Hyang Manon.Bila zaman dahulu,Tertib teratur runtut harmonissariat tidak dicampur aduk dengan olah batin, jadi tidak membuat bingung bagi yang menyembah Tuhan
Pada 7
Lire sarengat iku, 
kena uga ingaranan laku, 
dihin ajeg kapindhone ataberi, 
pakolehe putraningsun, 
nyenyeger badan mwih kaot.Sesungguhnya sariat itu dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun.Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan agar lebih baik,
Pada 8
Wong seger badanipun, 
otot daging kulit balung sungsum, 
tumrah ing rah memarah antenging ati, 
antenging ati nunungku, 
angruwat ruweting batos.Badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar,
Mempengaruhi darah, membuat tenang di hati.Ketenangan hati membantu Membersihkan kekusutan batin
Pada 9
Mangkono mungguh ingsun, 
ananging ta sarehne asnafun, 
beda-beda panduk panduming dumadi, 
sayektine nora jumbuh, 
tekad kang padha linakon.Begitulah menurut ku !Tetapi karena orang itu berbeda-beda,
Beda pula garis nasib dari Tuhan. Sebenarnya tidak cocok tekad yang pada dijalankan itu.
Pada 10
Nanging ta paksa tutur, 
rehning tuwa tuwase mung catur, 
bok lumuntur lantaraning reh utami, 
sing sapa temen tinemu, 
nugraha geming Kaprabon. Namun terpaksa  ersua nasehat. Karena sudah tua kewajibannya hanya ersua petuah. Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama.Barang siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan.
Pada 11
Samengko sembah kalbu, 
yen lumintu uga dadi laku, 
laku agung kang kagungan Narapati, 
patitis tetesing kawruh, 
meruhi marang kang momong. Berikutnya, sembah kalbu itujika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual.Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja. Tujuan ajaran ilmu ini; untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)
Pada 12
Sucine tanpa banyu, 
mung nyenyuda mring  ersuasi kalbu, 
pambukane tata, titi, ngati-ati 
atetetp talaten atul, 
tuladhan marang waspaos. Bersucinya tidak menggunakan airHanya menahan nafsu di hati. Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada). Teguh, sabar dan tekun,semua menjadi watak dasar,
Teladan bagi sikap waspada.
Pada 13
Mring jatining pandulu, 
panduk ing ndon dedalan satuhu, 
lamun lugu  ersuasi reh maligi, 
lageane tumalawung, 
wenganing alam kinaot. Alam penglihatan yang sejati,
Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar. Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi. Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan Itulah, terbukanya “alam lain”
Pada 14
Yen wus kambah kadyeku, 
sarat sareh saniskareng laku, 
kalakone saka eneng, ening, eling,  
Ilanging rasa tumlawung, 
kono adile Hyang Manon.Bila telah mencapai seperti itu,Saratnya sabar segala tingkah laku.Berhasilnya dengan cara;Membangun kesadaran, mengheningkan cipta,  pusatkan fikiran kepada  ersua Tuhan. Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa  memasuki alam gaib rahasia Tuhan)
Pada 15
Gagare ngunggar kayun, 
tan kayungyun mring ayuning kayun, 
bangsa anggit yen ginigit nora dadi, 
Marma den awas den emut, 
mring pamurunging lelakon.Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu)Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati, Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.Maka awas dan ingat lahdengan yang membuat gagal tujuan
Pada 16
Samengko kang tinutur, 
sembah katri kang sayekti katur, 
mring Hyang Sukma sukmanen sehari-hari, 
arahen dipun kecakup, 
sembah ing Jiwa sutengong.Nanti yang diajarkanSembah ketiga yang sebenarnya  diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa). Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku !
Pada 17
Sayekti luwih prelu, 
ingaranan pepuntoning laku, 
kalakuan kang tumrap bangsaning batin, 
sucine lan Awas Emut, mring alame alam amot.Sungguh lebih penting, yangdisebut sebagai ujung jalan spiritual,Tingkah laku olah batin, yakni menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.
Source http://www.huwagu.com/ http://www.huwagu.com/2016/01/serat-wedhatama-pupuh-gambuh-gancaran.html

Leave A Reply

Your email address will not be published.