Serat Wedhatama Part.V 

0 196

Serat Wedhatama Part.V 

Serat Wedhatama, serat=kitab, wedha=pengetahuan, tama=utama. Jadi, Serat Wedhatama bermakna Kitab Pengetahuan yang Utama, untuk dapat kiranya memiliki budi atau jiwa yang utama/luhur bagi setiap kehidupan insan di dunia. Serat ini berbentuk puisi (tembang) yang tersusun dalam 100 bait (padha) ditulis oleh (KGPAA) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagoro IV di Surakarta pada tahun 1905 Jawa atau 1973 Masehi dengan dua sengkalan, yaitu Candrasengkala untuk tahun 1905 Jawa berbunyi: “Lunguding Kamukswan Ambabar Wiji”, sedangkan Suryasengkala untuk tahun 1973 Masehi adalah: “Cahyaning Piwulang Ambuka Budi”.

 83

Mangka kantining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, wedi weryaning dumadi, supadi niring sangsaya, yeku pangreksaning urip. (Padahal pengetahuan tersebut dapat tumbuh berkembang, yang senantiasa harus selalu ingat. Ingat akan ilham Illahi dan ketentuan alam, sehingga laku hidupnya sesuai dengan kehendak Illahi. Dengan begitu hidupnya dijauhkan dari kesengsaraan, yang harus dijaga selama hidup di dunia ini)

84

Marma den taberi kulup, angulah lantiping ati, rina wengi den anedya, pandak-panduking pambudi, bengkas kahardaning driya, supadya dadya utami. (Oleh karena itu tekunlah, buyung! Dalam mengolah ketajaman hati, dengan memohon setiap malam. Untuk dapat menemukan kebenaran dan berusaha selalu berbuat baik, dengan menyingkirkan gejolak nafsu, agar menjadi orang yang berbudi luhur)

85

Pangasahe sepi samun, aywa esah ing salami, samangsa wis kawistara, lalandhepe mingis-mingis, pasah wukir reksa muka, kekes srabedaning budi. (Dalam mengolah ketajaman hati seyogyanya di tempat yang sunyi, haruslah jauh pula dari segenap pemikiran/pamrih. Serta apabila telah merasakan ketajamannya, yang akan dapat mengikis gunung Reksamuka, dengan segala godaan hawa nafsunya)

86

Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning tunggal, kang atunggil rina wengi, kang mukitan ing sakarsa, gumelar ngalam sakalir. (Kewaspadaan yang berarti, mengetahui akan segala halangan hidup, dan kekuasaannya Sang Maha Tunggal, yang siang maupun malam manunggal. Serta sabda-Nya pun menumbuhkan karsa, keseluruh alam semesta)

87

Aywa sembrana ing kalbu, wawasen wuwus sireki, ing kono yekti karasa, dudu ucape pribadi, marma den sembadeng sedya, wewesen praptaning uwis. (Janganlah mengabaikan suara hati, dan berusahalah selalu mawas diri. Maka kelak akan merasa adanya suara, yang terucap bukan dari diri pribadi. Oleh karena itu turutilah niat tersebut, sampai diakhir tujuannya)

88

Sirnakna semanging kalbu, den waspada ing pangeksi, yeku dalaning kasidan, sinuda saka satitik, pamotahing nafsu hawa, jinalantih mamrih titih. (Hilangkanlah rasa ragu di hati, dan harus selalu ingat pada suara hati. Karena dari sanalah jalannya untuk mengurangi sedikit demi sedikit, pengendalian hawa nafsu. Dengan membiasakan mengolah rasa, yang akhirnya akan terbiasa)

89

Aywa mamatuh malutuh, tanpa tuwas tanpa kasil, kasalibuk ing srabeda, marma dipun ngati-ati, urip keh rencananira, sambekala den kaliling. (Janganlah membiasakan berlaku nista, yang tiada menghasilkan faedah. Dalam kesibukan hidup yang penuh dengan rencana, sehingga haruslah berhati-hati. Agar dijauhkan dari segala rintangan dan bahaya, yang senantiasa mengelilinginya.

90

Upamane wong lumaku, marga gawat den liwati, lamun kurang ing pangarah, sayekti karendet ing ri, apese kasandhung padhas, babak bundhas anemahi. (Ibaratnya orang berjalan, harus melewati jalan yang gawat. Apabila langkahnya tidak terarah, tentu akan menginjak duri. Yang sialnya lagi akan terantuk batu, sehingga babak belurlah yang dialaminya)

 91

Lumrah bae yen kadyeku, atetamba yen wis bucik, duwea kawruh sabodag, yen ta nartani ing kapti, dadi kawruhe kinarya, ngupaya kasil lan melik. (Jamaklah bila setelah kejadian tersebut, lalu diobati namun telah babak belur. Walaupun banyak sekali memiliki pengetahuan, namun tidak melaksanakan sesuai dengan pengamalannya. Tidaklah akan berguna kemanfaatannya, yang hasilnya akan sia-sia belaka)

92

Meloke yen arsa muluk, muluk ujare lir wali, wola-wali nora nyata, anggepe pandhita luwih, kaluwihane tan ana, kabeh tandha-tandha sepi. (Berbicaralah selalu hal yang serba muluk, dan ucapannya pun bagaikan seorang wali. Serta beranggapan dirinya lebih daripada pendeta, namun kelebihannya pun tidak ada, kesemuanya itu menandakan bahwa bualan belaka)

93

Kawruhe mung ana wuwus, wuwuse gumaib baib, kasliring titik tan kena, mancereng alise gatik, apa pandhita antige, kang mangkono iku kaki. (Pengetahuannya hanya pada ucapan belaka, yang mengetahui banyak perihal alam gaib. Apabila tersinggung dan dibantah, matanya melotot dan marah, yang menandakan bahwasanya pendeta palsu, yah seperti itulah adanya, Nak!

94

Mangka ta kang aran laku, lakune ngelmu sajati, tan dahwen pati openan, tan panasten nora jail, tan njurungi ing kaardan, amung eneng mamrih ening. (Adapun namanya olah samadi, merupakan jalannya ilmu sejati, yang tidak mengenal dendam hati, dan tidak mengenal jahil. Tidak pula menuruti dorongan keadaan sekitarnya, yang ada hanyalah bertujuan mendapatkan ketenangan dalam keheningan)

95

Kunanging budi luhung, bangkit ajur ajer kaki, yen mangkono bakal cikal, thukul wijining utami, nadyan bener kawruhira, yen ana kang nyulayani. (Tersohornya insan yang berbudi luhur, bilamana dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Hal tersebut merupakan tunas, yang akan tumbuh pada perbuatan utama. Meskipun pendapatnya benar, akan tetap menghargai bila ada yang berbeda pendapat)

 96

Tur kang nyulayani iku, wus wruh yen kawruhe nempil, nanging laire angalah, katingala angemori, mung ngenaki tyasing liyan, aywa esak aywa serik. Meskipun yang berbeda pendapat itu, sesungguhnya telah menyadari penghetahuannya kurang, namun enggan mengalah. Hendaknya janganlah memperlihatkan ketidaksenangan, agar menyenangkan kesesama lainnya, tanpa kesal dan tanpa sakit hati)

97

Yeku ilapating wahyu, yen yuwana ing salami, marga wimbuh ing nugraha, saking heb kang Maha Suci, cinancang pucuking cipta, nora ucul-ucul kaki. (Pertanda anugerah Illahi yang hampir nampak, akan berlangsung selamanya. Karena datangnya pahala dari Yang Maha Esa, yang senantiasa diingat dan dirasakan, tanpa akan terlepas, ananda!

98

Mangkono ingkang tinamtu,tampa nugrahaning Widhi, marma ta kulup den bisa, mbusuki ujaring janmi, pakoleh lair batinnya, iyeku budi premati. (Demikianlah yang telah dipastikan, mendapat ridlo dan pahalanya Sang Khalik. Tidak mungkin ananda mendapatkannya, oleh karena itu sebaiknya berpuralah tidak mengerti. Dalam mengolah lahir dan batinnya, dengan menyimpan rahasia hati sebaik-baiknya)

99

Pantes tinulad tinurut, laladane mrih utami, utama kembanging mulya, kamulyaning jiwa dhiri, ora yen ta ngeplekana, lir leluhur nguni-uni. (Wajiblah untuk dituruti dan diteladani, perbuatan yang menuju keutamaan. Keutamaan tersebut merupakan bunga kemuliaan, dan kemuliaan di dalam jiwa pribadi. Tidaklah mungkin akan dapat menyamai, layaknya para leluhur dahulu kala)

100

Ananging ta kudu-kudu, sakadarira pribadi, aywa tinggal tutuladan, lamun tan mangkono kaki, yekti tuna ing tumitah, poma kaestokna kaki. (Berhasil atau tidaknya ikhtiar tersebut, tergantung diri pribadi. Tanpa meninggalkan keteladanan, yang bila tidak demikian. Pastilah hidupmu tidak akan berfaedah. Oleh karena itu, janganlah tidak diperhatikan atau dilaksanakan, ananda!

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/03/13/serat-wedhatama-part-v/
Comments
Loading...