Serat Wedhatama Part.IV

0 213

Serat Wedhatama Part.IV 

Serat Wedhatama, serat=kitab, wedha=pengetahuan, tama=utama. Jadi, Serat Wedhatama bermakna Kitab Pengetahuan yang Utama, untuk dapat kiranya memiliki budi atau jiwa yang utama/luhur bagi setiap kehidupan insan di dunia. Serat ini berbentuk puisi (tembang) yang tersusun dalam 100 bait (padha) ditulis oleh (KGPAA) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagoro IV di Surakarta pada tahun 1905 Jawa atau 1973 Masehi dengan dua sengkalan, yaitu Candrasengkala untuk tahun 1905 Jawa berbunyi: “Lunguding Kamukswan Ambabar Wiji”, sedangkan Suryasengkala untuk tahun 1973 Masehi adalah: “Cahyaning Piwulang Ambuka Budi”. 

48

Samengko ingsun tutur, sembah catur: supaya lumuntur, dihin: raga, cipta, jiwa, rasa, kaki, ing kono lamun tinemu, tandha nugrahaning Manon. (Kelak akan saya sampaikan, empat macam sembahyang agar dapat diwariskan turun temurun. Awalnya sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa dan sembah rasa. Dengan sembahyang tersebut dapat ditemukan, suatu tanda anugerahnya Tuhan).

49

Sembah raga puniku,pakartine wong amagang laku, susucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton. (Sembahyang raga tersebut, pengamalannya seperti orang yang sedang magang kerja. Mensucikan diri dengan menggunakan air, yang lazimnya dilaksanakan lima waktu. Sifat dan pedomannya sesuai dengan ketentuan

50

Inguni-uni durung, sinarawung wulang kang sinerung, lagi iki bangsa kas ngetok-ken anggit, mintoken kawignyanipun, sarengate elok-elok. (Pada masa lalu memang belum pernah, diperkenalkan ajaran yang dipaksakan. Baru kali ini ada golongan yang bersungguh-sungguh mengeluarkan gagasannya, dan memperlihatkan kemahiran dengan syari’atnya yang serba aneh).

51

Thithik kaya santri Dul, gajeg kaya santri brahi kidul, saurute Pacitan pinggir pasisir, ewon wong kang padha nggugu, anggere guru nyalemong. (Agak mirip dengan santri Dul, yang terjadi dengan para santri yang sedang birahi di daerah selatan, sepanjang pesisir pantai Pacitan. Ribuan orang mempercayainya, apa saja yang diucapkan gurunya).

52

Kasusu arsa weruh, cahyaning Hyang kinira yen karuh, ngarep-arep urup arsa den kurebi, Tan wruh kang mangkoko iku, akale keliru enggon. (Tergesa-gesa hendak melihat, Nur Illahi yang dikiranya mudah dikenali. Serta sangat berharap datangnya cahaya gaib yang akan diraihnya, tanpa menyadari bahwa hal tersebut adalah suatu hal yang salah dalam menafsirkannya).

53

Yen ta jaman rumuhun, tata titi tumrah tumaruntun, bangsa srengat tan winor lan laku batin, dadi ora gawe bingung, kang padha nembah Hyang Manon. (Pada masa para orangtua dahulu, telah diatur dengan teliti dan cermat secara turun temurun. Golongan syari’at tidak mencampurkan ketentuan dengan penghayatan batin, sehingga tidak membingungkan, bagi penyembah Tuhan Yang Maha Esa).

54

Lire sarengat iku, kena uga ingaranan laku, dihin ajeg kapindhone ataberi, pakolehe putraningsun, nyenyeger badan mwih kaot. (Sesungguhnya syari’at tersebut, dapat pula dinamakan penghayatan. Awalnya dilakukan secara teratur yang keduanya dengan kesungguhan hati. Hasilnya akan menyegarkan jasmani yang membuat sehat dan kuat, anakku!).

55

Wong seger badanipun, otot daging kulit balung sungsum, tumrah ing rah memarah antenging ati, antenging ati nunungku, angruwat ruweting batos. (Orang yang bugar jasmaninya, baik otot, daging, kulit, maupun tulang sumsumnya. Dapat mempengaruhi pada darahnya dalam menambah daya menenangkan jiwa. Ketenangan jiwa pada saat memadukan pikiran dan perasaan, akan menghilangkan kekusutan batinnya).

56

Mangkono mungguh ingsun, ananging ta sarehne asnafun, beda-beda panduk panduming dumadi, sayektine nora jumbuh, tekad kang padha linakon. (Demikianlah bagi saya, namun karena kesadarannya berbeda. Perbedaannya sampai pada kodrat dan iradat Illahi atas manusia, yang sesungguhnya tidak sama, akan tekad dari masing-masing insan yang melaksanakannya)

57

Nanging ta paksa tutur, rehning tuwa tuwase mung catur, bok lumuntur lantaraning reh utami, sing sapa temen tinemu, nugraha geming Kaprabon. (Meskipun memaksakan kehendak untuk mengajar, sebagai orangtua hanya dapat bertutur kata. Untuk memberkahinya dalam mencapai budi luhur yang terbaik. Serta siapa pun yang berusaha dengan kesungguhan hati pasti akan memetik hasilnya, mendapat anugerah pakaian kerajaan. (Hakikat pengabdiannya diterima dan mendapat kedudukan sebagai narapraja, serta menerima anugerah pakaian beserta kelengkapannya dari raja)

58

Samengko sembah kalbu, yen lumintu uga dadi laku, laku agung kang kagungan Narapati, patitis tetesing kawruh, meruhi marang kang momong. (Pada akhirnya perihal sembahyang kalbu (berdzikir), bila berlangsung secara teratur dapat dijadikan penghayatan. Penghayatan agung yang dimiliki raja, bila ilmu yang telah dikuasai dengan tepat, akan mengetahui pada pengasuhnya (gaib).

59

Sucine tanpa banyu, mung nyenyuda mring hardaning kalbu, pambukane tata, titi, ngati-ati, atetetp talaten atul, tuladhan marang waspaos. (Mensucikan diri tidak menggunakan air, namun dengan cara mengurangi keangkaraan hati. Permulaannya harus secara teratur cermat dan berhati-hati, karena telah terbiasa tekun tidak mudah tergoda. Merupakan teladan menuju kearifan)

60

Mring jatining pandulu, panduk ing ndon dedalan satuhu, lamun lugu leguting reh maligi, lageane tumalawung, wenganing alam kinaot. (Yang mengarah pada penglihatan sejati, dalam berusaha untuk mencapai tujuan yang nyata. Apabila benar-benar taat menjalankan azas, oleh sesuatu hal dan ketentuannya. Maka terbukalah alam yang indah dengan sangat jelas sekali)

61

Yen wus kambah kadyeku, sarat sareh saniskareng laku, kalakone saka eneng, ening, eling,  Ilanging rasa tumlawung, kono adile Hyang Manon. (Apabila telah menghayati seperti tersebut di atas, selanjutnya harus dapat memenuhi syarat penghayatan, antara lain sabar, , tenang dan sadar. Bersamaan dengan hilangnya segenap rasa, di mana akan terasa dengan jelas peri keadilan Tuhan Yang Maha Esa)

62

Gagare ngunggar kayun, tan kayungyun mring ayuning kayun, bangsa anggit yen ginigit nora dadi, Marma den awas den emut, mring pamurunging lelakon. (Kegagalannya bila selalu menuruti kemauan hati, dan tidak mengharapkan terpenuhinya segala keinginan. Jenis gagasan apabila terus-menerus dituruti akan menyebabkan kegagalan, karena itu waspada dan sadarlah, akan hal-hal yang menggagalkan perjalanan laku (dalam menuntut ilmu)

63

Samengko kang tinutur, sembah katri kang sayekti katur, mring Hyang Sukma sukmanen sehari-hari, arahen dipun kecakup, sembah ing Jiwa sutengong. (Nantinya yang akan terucapkan, adalah sembahyang ketiga yang pasti dipersembahkan, kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dengan khusuk setiap harinya. Maka resapkan dan capailah, sembahyang dalam hati (berdzikir) lebih mencakup pada kebenaran, putraku!

64

Sayekti luwih prelu, ingaranan pepuntoning laku, kalakuan kang tumrap bangsaning batin, sucine lan Awas Emut, mring alame alam amot. (Sangat penting untuk diketahui, sebagai pengamalan terakhir. Adalah perbuatan yang berkaitan dengan segi olah batin, agar kesucian tetap terjaga dan selalu ingat, akan keadaan alam baka)

65

Ruktine ngangkah ngukut, ngiket ngrukut triloka kakukut, jagad agung gimulung lan jagad cilik, Den kandel kumandel kulup, mring kelaping alam kono. (Tenggelamnya dengan membawa rasa bersalah, atas firasat gaib dalam keadaan larut. Kejadian tersebut merupakan suatu kenyataan, anakku! Karena sesungguhnya tidak akan selalu ingat, bahwa kebenaran tidak akan dapat terpadu)

66

Keleme mawa limut, kalamatan jroning alam kanyut, sanyatane iku kanyatan kaki, Sajatine yen tan emut, sayekti tan bisa awor. (Tenggelamnya dengan membawa rasa bersalah, atas firasat gaib dalam keadaan larut. Kejadian tersebut merupakan suatu kenyataan, anakku! Karena sesungguhnya tidak akan selalu ingat, bahwa kebenaran tidak akan dapat terpadu)

67

Pamete saka luyut, sarwa sareh saliring panganyut, lamun yitna kayitnan kang mitayani, tarlen mung pribadinipun, kang katon tinonton kono. (Ketika dalam keadaan antara sadar dan tidak, yang harus serba tenang seiring keadaan yang menghanyutkan. Asalkan tetap waspada yang kewaspadaannya dapat diandalkan, tidak lain hanyalah pribadinya sendiri, yang tampak memperlihatkan diri)

68

Nging aywa salah surup, kono ana sajatining Urub, yeku urup pangarep uriping Budi, sumirat sirat narawung, kadya kartika katongton. (Namun jangan sampai salah masuk, karena di sana ada cahaya sejati. Yaitu cahaya utama yang menghidupi nurani, menerawang bersinar berkilauan, layaknya terlihat laksana bintang)

69

Yeku wenganing kalbu, kabukane kang wengku winengku, wewengkone wis kawengku neng sireki, nging sira uga kawengku, mring kang pindha kartika byor. (Sehingga terbukanya kalbu, telah terbuka baik yang menguasai maupun yang dikuasai. Wilayahnya telah tercakup dalam diri pribadi, tetapi diri pribadinya pun dikuasai pula, oleh yang menyerupai bintang cemerlang)

70

Samengko ingsun tutur, gantya sembah ingkang kaping catur, sembah Rasa karasa rosing dumadi, dadine wis tanpa tuduh, mung kalawan kasing Batos. (Kelak penuturan saya, akan berganti pada sembahyang ke empat. Dengan sembahyang rasa akan terasa hakikatnya kehdupan, terwujudnya sudah tanpa memerlukan petunjuk, hanya tinggal menggunakan kekuatan batin semata-mata)

71

Kalamun durung lugu, aja pisan wani ngaku-aku, antuk siku kang mangkono iku kaki, kena uga wenang muluk, kalamun wus pada melok. (Apabila belum mengalaminya, jangan sekali-kali berani mengaku (seperti hal tersebut di atas). Akan mendapat laknat atas perbuatan demikian itu, Nak, boleh juga menyombongkan diri, asalkan telah mengalaminya dengan jelas)

72

Meloke ujar iku, yen wus ilang sumelang ing kalbu, amung kandel kumandel ngandel mring takdir, iku den awas den emut, den memet yen arsa momot. (Jelasnya perbincangan tersebut, bila perasaan yang merisaukan hati telah hilang lenyap. Yang ada hanyalah keyakinan dan percaya terhadap takdir, karena itu waspadalah dan ingatlah selalu, seyogyanya telitilah dengan cermat bila hendak mendalami suatu ilmu)

73

Pamoring ujar iku, kudu santosa ing budi teguh, sarta sabar tawekal legaweng ati, trima lila ambeh sadu, weruh wekasing dumados. (Untuk dapat menguasai makna tersebut, haruslah memiliki budi yang teguh sentosa. Serta sabar tawakal setulus hati, sukarela dan kasih sayang, selalu ingat akan “datang perginya” manusia ke alam asal)

74

Sabarang tindak-tanduk, tumindake lan sakadaripun, den ngaksama kasisipaning sesami, sumimpanga ing laku dur, hardaning budi kang ngrodon. (Semua sikap laku, yang dilaksanakan harus tidak sembarangan. Bertindaklah sewajarnya dan mudah memberi maaf kepada sesama, yang berbuat kesalahan, karena sikap laku jahat adalah dorongan hawa nafsu)

75

Dadya wruh iya dudu, yeku minangka pandaming kalbu, inkang buka ing kijab bullah agaib, sesengkeran kang sinerung, dumunung telenging batos. Ketahuilah mana yang benar dan salah, hal itu merupakan pelita hati. Yang membuka dinding penghalang alam gaib, dan selama itu mengurung di dalam dasarnya batin)

76

Rasaning urip iku krana momor pamoring sawujud, wujuddullah sumrambah ngalam sakalir, lir manis kalawan madu, endi arane ing kono. (Rasanya hidup itu, karena manunggal dengan adanya wujud. Segala wujud di alam dunia ini menandakan adanya yang mewujudkan, seperti antara yang manis dan madu, manakah nama sebenarnya)

77

Endi manis endi madu, yen wis bisa nuksmeng pasang semu, pasamaoning hebing kang Maha Suci, kasikep ing tyas kacakup, kasat mata lair batos. (Manakah yang disebut manis dan manakah madunya, apabila telah dapat mengurai ilham Illahi, berpadunya jiwa yang luhur. Dengan menguasai sepenuhnya, dapat melihat dengan mata lahir batin)

78

Ing batin tan keliru, kedhap kilap liniling ing kalbu, kang minangka colok celaking Hyang Widi, widadaning budi sadu, pandak panduking liru nggon. (Di dalam batin tidaklah akan keliru, ilham Illahi yang tampak sekejap dapat dihayati oleh kalbu. Merupakan petunjuk pendekatan dengan Tuhan, dengan menyelamatkan jiwa kasih sayang, pada kebiasaan sikap yang berganti tempat)

79

Nggonira mrih tulus, kalaksitaning reh kang rinuruh, ngayanira mrih wikal, warananing gaib, paranta lamun tan weruh, sasmita jatining endhog. (Bagaimana pun usaha menerima ilham Illahi, yang menyisihkan tabir itu dapat terlaksana. Hal tersebut ada yang menggunakan perumpamaan inti sarinya di dalam telur, bahwasanya telur itu terdiri dari “kuning dan putih”. Kuningnya diibaratkan “batiniah”, adapun putihnya diibaratkan “lahiriah)

80

Putih lan kuningpun, lamun arsa titah teka mangsul, dene nora mantra-mantra yen ing lair, bisa aliru wujud, kadadeyane ing kono. (Putih dan kuningnya telur, apabila seorang insan terlahir, bagaimana bisa lahirnya menunggal dengan batinnya. Menurut tata lahiriah mustahil terwujud, maka bagaimana hal tersebut dapat terjadi?)

81

Istingarah tan metu, lawan istingarah tan lumebu, dene ing njro wekasane dadi njawi, raksana kang tuwajuh, aja kongsi kabasturon. (Batiniah enggan untuk keluar, sebaliknya lahiriah pun enggan untuk masuk. Namun akhirnya lahiriah menyatu dengan batiniah, dan batiniah keluar menjadi lahiriah. Maka perhatikanlah dengan kesungguhan hati, agar jangan sampai terlanjur tidak memahaminya)

82

Karana yen kebanjur, kajantaka tumekeng saumur, tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi, dadi wong ina tan wruh, dhewekw den anggep dhayoh. (Bilamana terlanjur tidak memahaminya, akan menyesal seumur hidup. Maka hal tersebut akan sia-sialah hidupnya, menjadi orang hina tanpa berpengetahuan, yang menganggap dirinya adalah tamu)

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/03/13/serat-wedhatama-part-iv/
Comments
Loading...