Serat Wedhatama Part.III

0 303

Serat Wedhatama Part.III

33

Ngelmu iku, kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangkese dur angkara. (Ilmu itu, akan bermanfaat bila disertai dengan penghayatan. Pengetrapannya pun dengan bersungguh-sungguh. Artinya kesungguhan akan memberi kesentosaan. Kesadaran sebagai sarana memusnahkan angkara murka).

34

Angkara gung, neng angga anggung gumulung, gogolonganira triloka, lekere kongsi, yen den umbar ambabar dadi rubeda. (Perbuatan jahat yang besar itu, menggulung di sekitar tubuh. Sesuai dengan golongannya sendiri, jangkauan lingkarannya melingkupi alam semesta. Bila tidak dikekang akan meluas menjadi malapetaka).

35

Beda lamun, kang wus sengsem reh ngasamun, semune ngaksama, sasamane bangsa sisip, sarwa sareh saking mardi marto tama. (Lain halnya, bila telah terbiasa dengan kehidupan yang serba sunyi. Tersirat di wajahnya yang mencerminkan pemberi maaf, kepada sesamanya yang bersalah. Selalu tenang dan sabar dengan kesungguhannya sebagai seorang pemurah hati).

36

Taman limut, durgameng tyas kang weh limput, kereming karamat, karana karohaning sih, sihing Sukma ngreda sahardi gengira. (Sama sekali tidak tergoda, oleh rintangan di dalam hati yang menimbulkan kekhilafan. Karena telah tenggelam dalam keluhuran budi, yang disebabkan oleh anugerah Tuhan. Suatu anugerah Tuhan yang melimpah ibaratnya sebesar gunung).

37

Yeku patut, tinulad-tulad tinurut, sapituduhira, aja kaya jaman mangkin, keh pramudha mundhi dhiri lapel makna. (Seperti itulah yang patut, untuk ditiru dan diindahkan seluruh petunjuknya. Jangan sampai seperti masa yang akan datang, banyak para kawula muda menyombongkan diri, hanya sekadar ayat yang diketahuinya).

38

Durung pecus,kesusu kaselak besus, amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir, pendhak-pendhak angendhak gunaning janma. (Belum layak, sudah berlagak ingin menerangkan makna ayat, yang gayanya seperti sayid dari Mesir. Serta seringkali meremehkan kepandaian orang lain).

39

Kang kadyeku, kalebu wong ngaku-aku, akale alangka, elok Jawane denmohi, paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mekah. (Yang seperti itu, termasuk orang yang gemar mengaku-aku kepandaian orang lain, adapun kepandaian sendiri tidak ada. Lebih aneh lagi tidak menyadari kebudayaannya sendiri, bahkan memaksakan kehendaknya mengambil pengetahuan di Mekah).

40

Nora weruh, rosing rasa kang rinuruh, lumeketing angga, anggere padha marsudi, kana-kene kaanane nora beda. (Tidak tahu, bahwa inti ilmu yang dicari, sebenarnya melekat erat dalam dirinya sendiri. Asalkan diolah dengan kesungguhan hati, di mana pun baik di sana (Mekah) maupun di sini (Jawa) keadaannya tidak berbeda).

41

Uger lugu, den ta mrih pralebdeng kalbu, yen kabul kabuka, ing drajat kajating urip, kaya kang wus winahyeng sekar srinata. (Bila apa adanya, yang dilakukan dalam meraih kehendak hati secara jujur. Jika terkabul pasti terbukalah, pintu drajat yang dihajatkan dalam kehidupan. Seperti yang telah dipaparkan dalam pupuh lagu Sinom).

42

Basa ngelmu, mupakate lan panemu, pasahe lan tapa, yen satriya tanah Jawi, kuna-kuna kang ginilut triprakara. (Perihal ilmu, seyogyanya diselaraskan dengan hasil pengalaman. Sedangkan mendalaminya dengan bertapa (olah samadi), bagi para ksatria Jawa. Sejak zaman dahulu kala, yang dilaksanakannya berpegang pada tiga hal penting)

43

Lila lamun, kelangan nora gegetun, trima yen kataman, sakserik sameng dumadi, trilegawa nalangsa srahing Batara. (Tiga hal penting tersebut di atas) ialah: yang pertama rela jika kehilangan tidak akan menyesal, yang kedua tetap bersabar bila terkena prasangka dari sesama insan. Adapun yang ketiga tulus ikhlas berserah diri kepada Tuhan)

44

Batara gung, inguger graning jajantung, jenak Hayang Wisesa, sana paseneten Suci, nora kaya si mudha mudhar angkara. (Tuhan Yang Maha Agung, selalu ditempatkan di puncak jantung (berdzikir). Atas ridlo Yang Maha Kuasa, berkenan bersemayam di tempat suci. Namun tidak demikian dengan si pandir yang selalu mengumbar hawa nafsunya).

45

Nora uwus, kareme anguwus-uwus, uwose tan ana, mung janjine muring-muring, kaya buta-buteng betah nganiaya. (Tidak habisnya, dan senang mengumbar hawa nafsu, yang hakikatnya tidak ada. Adanya hanya mengumpat dan selalu marah, layaknya raksasa yang cepat naik pitam dan senang manganiaya).

46

Sakeh luput,  ing angga tansah linimput, linimpet ing sabda, narka tan ana udani, lumuh ala ardane ginawe gada. (Banyak kesalahan, pada dirinya disembunyikan dan ditutupi. Menurut pendapatnya tidak akan ada yang mengetahui, meskipun demikian tidak mau disalahkan. Apabila ada yang membuka sifat jahatnya, amarahnyalah yang dijadikan senjata).

47

Durung punjul, ing kawruh kaselak jujul, kaseselan hawa, cupet kapepetan pamrih, tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa. (Belum mencapai tingkat yang lebih dari orang lain, dalam pengetahuannya sudah tidak mampu menerima tambahan ilmu. Karena di sela-sela pikirannya telah dipenuhi hawa nafsu, hingga pikirannya menjadi pendek tertutup oleh pamrih. Maka mustahil jika hendak mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa).

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/03/13/serat-wedhatama-part-iii/
Comments
Loading...