Serat Wedhatama Part.I

0 138

Serat Wedhatama Part.I

Serat Wedhatama, serat=kitab, wedha=pengetahuan, tama=utama. Jadi, Serat Wedhatama bermakna Kitab Pengetahuan yang Utama, untuk dapat kiranya memiliki budi atau jiwa yang utama/luhur bagi setiap kehidupan insan di dunia. Serat ini berbentuk puisi (tembang) yang tersusun dalam 100 bait (padha) ditulis oleh (KGPAA) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagoro IV di Surakarta pada tahun 1905 Jawa atau 1973 Masehi dengan dua sengkalan, yaitu Candrasengkala untuk tahun 1905 Jawa berbunyi: “Lunguding Kamukswan Ambabar Wiji”, sedangkan Suryasengkala untuk tahun 1973 Masehi adalah: “Cahyaning Piwulang Ambuka Budi”.

 1

Mingkar-mingkuring ukara, akarana karenan mardi siwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ilmu luhung,kang tumrap ing tanah Jawa, agama ageming aji.  (Menjauhkan diri dan menghindar dari sifat yang mementingkan diri pribadi. Karena kegemaran memberi pengetahuan dalam mendidik para putra, sambil mendendangkan sebuah kidung yang menjauhkan diri dari hawa nafsu. Sedang lagu yang digubahnya dengan baik itu, dihiasi kata-kata indah yang menyenangkan. Tujuannya agar ajaran budi luhur itu meresap di dalam hati/kalbu, yang memiliki daya pengaruh pada pembentukan watak dan budi pekerti. Sesuai dengan dasar kejiwaan untuk diterapkan di tanah Jawa, yakni agama yang menjadi pegangan raja dalam melaksanakannya dengan baik). 

2

Jinejer ing Weddhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi,mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi sepa lir sepah asamun,samasane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglelingsemi.  (Dicantumkan sebagai pokok ajaran di dalam Wedhatama ini, untuk tidak henti-hentinya diresapi. Walaupun sampai lanjut usia, yang lajimnya mudah sekali khilaf, apabila tidak memahami perasaan sejati akan sepi dari pengertian dan perasaan yang paling dalam. Ibaratnya ampas tebu sehingga jiwanya hampa hanya angan-angan belaka, yang tingkah lakunya tidak menyenangkan dan memalukan).

3

Nggugu karsane priyangga, nora nganggo peparah lamun angling,lumuh ingaran balilu, uger guru aleman, nanging janma ingkang wus waspadeng semu, sinamun samudana, sesadoning adu manis .  (Biasanya pribadi manusia selalu menuruti kemauannya sendiri. Apabila berbicara tidak pernah mempertimbangkan tempat dan dengan siapa. Tidak mau dikatakan bodoh, sebaliknya selalu ingin dipuji. Namun bagi orang yang arif akan pancaran rona, biasanya secara samar-samar menyembunyikan apa yang sedang dipikirkannya. Dalam percakapannya, ia akan selalu menjawab pertanyaan dengan berbicara yang manis).

4

Si pengung nora nglegewa, sangsayarda denira cacariwis, ngandhar-andhar angendukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkangipun, si wasis waskitha ngalah, ngalingi marang sipingging.  (Si pandir tidak merasakan sikap orang yang diajak bicara, malahan semakin melantur pembicaraannya yang tidak masuk akal. Bahkan berkepanjangan tutur katanya, sedangkan yang diceritakannya aneh-aneh dan tanpa batasnya. Si pandai dengan bijaksana lebih baik mengalah, menutupi kebodohan si pandir)

5

Mangkono ilmu kang nyata, sanyatane mung we reseping ati,bungah ingaran cubluk, sukeng tyas yen den ina, nora kaya si punggung anggung gumunggung, ugungan sadina dina, aja mangkono wong urip. (Demikianlah ilmu yang benar, dan sebenarnya hanya ingin memberikan rasa senang dalam hati. Ia senang dikatakan bodoh, dan menerimanya dengan setulus hati, bila mendapat penghinaan. Berbeda dengan si pandir yang senantiasa ingin disanjung dan selalu ingin dipuji sepanjang hari. Kehidupan manusia janganlah demikian hendaknya)

6

Uripa sapisan rusak, nora mulur nalare ting saluwir, kadi ta guwa kang sirung,  sinerang ing maruta, gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung, pindha padhane si mudha, prandene paksa kumaki. (Hidup yang hanya sekali di dunia ini akanlah sia-sia. Kesadarannya pada kebenaran tidak pernah ada ujung pangkalnya, melainkan semakin porak-poranda. Ibarat, jiwanya terkurung di dalam goa yang gelap gulita, yang diterjang angin. Awalnya mendengung, menggeram, menggaung yang terus-menerus berdengung. Seperti halnya dengan si pandir, yang meskipun demikian masih merasa dirinya pandai sendiri). 

7

Kikisane mung sapala, palayune ngendelken yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur, lah iya ingkang rama, balik sira sarawungan bae durung, mring atining tata krama, nggon-anggon agama suci. (Akhir dari suatu permasalahan yang hanya sepele, larinya tidak lain mengandalkan ayah bundanya, yang memang sanggup mengatasinya karena tergolong kaum bangsawan. Sudah tentu sang ayah yang menyelesaikannya, namun bagaiman dengan Ananda sendiri yang belum pernah meresapi arti inti tata krama. Sebagai sarat kelengkapan yang selalu digunakan, dalam melaksanakan agama suci).

8

Socaning jiwangganira, jer katara lamun pocapan pasthi, lumuh asor kudu unggul, sumengah sesongaran,yen mangkono kena ingaran katungkul, karem ing reh kaprawiran, nora enak iku kaki.  (Cacat jiwa raganya memang terlihat sekali saat bertutur kata, sedikitpun tidak mau kalah dan selalu ingin menang sendiri. Senang membanggakan diri dan takabur, hingga hilang kewaspadaan. Dia merasa senang sekali terhadap sesuatu hal yang berhubungan dengan keberanian, tanpa mempertimbangkan perbuatannya secara seksama. Hal semacam itu Nak, sesungguhnya tidak menyenangkan).

9

Kekerane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning daging kulup, Yen kapengkok pancabaya,
ubayane mbalenjani.
  (Sesuatu hal yang dirahasiakan adalah ilmu karang, yang merupakan rekaan dari jenis golongan gaib. Ilmu semacam tersebut diibaratkan merupakan bedak pupur belaka, tidak meresap ke dalam jasad hanya menempel di luar dagingmu, Nak! Apabila mendadak bertemu dengan marabahaya, ternyata ilmu tersebut tidak ada kesanggupan menanggulanginya (ingkar).

10

Marma ing sabisa-bisa, babasane muriha tyas basuki, puruitaa kang patut, lan traping angganira, Ana uga angger ugering kaprabun, abon aboning panembah, kang kambah ing siang ratri. (Seyogyanya sedapat mungkin, seperti pepatah mengatakan, upayakanlah dengan sungguh-sungguh keselamatan hati. Untuk itu carilah ilmu yang patut, dengan menyesuaikan diri pada kepribadian, bagi suatu kerajaan sebagai pedoman yang harus dipatuhi. Merupakan kelengkapan dari satu pengabdian, yang dikerjakan dan diamalkan siang dan malam).

11

Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi, mring tapaking tepa tulus, kawawa nahen hawa, Wruhanira mungguh sanjataning ngelmu, tan mesthi neng janma wreda, tuwin muda sudra kaki. (Hal itu, Nak! Tanyakanlah kepada para sarjana (orang arif bijaksana) yang sedang bertapa. Boleh juga kepada insan yang jejaknya dapat digunakan sebagai suri tauladan sepanjang masa karena kesucian hatinya. Yakni insan yang telah sanggup menahan hawa nafsunya. Ketahuilah bahwa ilmu yang sejati, tidak selalu dimiliki oleh seorang lanjut usia, dan anak muda maupun pada rakyat jelata yang hina dina).

12

Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, bangkit mikat reh mangukut, kukutaning Jiwangga, Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, liring sepuh sepi hawa, awas roroning ngatunggil. (Barang siapa yang mendapatkan wahyu Ilahi, akan segera memiliki kemampuan yang cemerlang dalam mempelajari ilmu. Akan mampu pula mendapatkan dan menguasai cara bersamadi, mengosongkan jiwa raga. Apabila demikian adanya dapat disebut sebagai orang tua, yang dimaksudkan dengan tua ialah telah terbebas dari hawa nafsu. Namun waspadalah terhadap dua macam anasir godaan).

13

Tan samar pamoring Sukma, sinukma ya winahya ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, Pambukaning waana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati.  (Tanpa ragu-ragu lagi terhadap manunggalnya sukma, yang diresapkan dalam lubuk kalbu dan dijelmakan kembali di kala sepi. Lalu disimpan kembali dalam lubuk hati sanubari, sedangkan saat membukanya tirai, tidak lain ketika dalam setengah tertidur antara sadar dan tidak. Menyerupai dengan melesatnya suatu impian yang meresap ke dalam rasa sejati)

14

Sajatine kang mangkono, wus kakenan nugrahaning Hyang Widi, bali alaming ngasuwung, tan karem karamean, ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira, mulane wong anom sami. (Sesungguhnya bagi insan yang telah mengalaminya, berarti telah mendapatkan perkenan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Kembali ke alam yang sunyi (hampa), tanpa tertarik keduniawian. Sifat awal yang menguasainya secara mutlak (hawa nafsu), telah dapat dikuasainya dengan sempurna untuk kembali kepada fitrahnya. Demikianlah adanya wahai anak muda)

Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/03/11/serat-wedhatama-part-i/
Comments
Loading...