Serat Tantri Kamandaka

0 106

Serat Tantri Kamandaka sudah dicetak menjadi buku dengan judul Bibliotheca Javanica Jilid II, 1931 yang menggunakan bahasa Belandaoleh Dr. C. Hooycaas. Tantri Kamandaka merupakan salah satu naskah Jawa  berbentuk prosa yang menggunakan bahasa Jawa Tengahan (pada masa peralihan antara Jawa kuno dengan Jawa Baru).

Di dalam buku Kapustakan Djawi karya Prof. Dr R. M. Ng. Poerbatjaraka yang diterbitkan oleh Penerbit Djambatan pada 1952, menceritakan bahwa serat Tantri Kamandaka awalnya seperti cerita 1001 malam. Ada seorang ratu yang setiap malam berhubungan dengan gadis perawan, hingga suatu hari perawan di negaranya telah habis, masih tersisa satu gadis  yaitu anak patih yang bernama Dyah Tantri. Sebelum Dyah Tantri melayani sang prabu, Ia meminta ijin untuk bercerita. Setelah ceritanya selesai, sang prabu memintanya untuk bercerita lagi, begitu seterusnya. Pada akhirnya sang prabu menyudahi kebiasaan buruknya itu. Sangat banyak cerita di dalam serat Tantri Kamandaka. Di dalam buku Kapustakan Djawi hanya menceritakan bagian akhirnya saja.

Eksitensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) /ek.sis.ten.si//èksisténsi/ hal berada; keberadaan. Keberadaan Ratu Aridarma sebagai ratu diakui oleh rakyat-rakyatnya. Beliaau adalah seorang Ratu utama bersungguh-sunggu dalam menjadi ratu yang menyirnakan watak-watak tidak baik. Ratu yang menegakkan hokum tanpa memandang status pelaku pelanggar hokum.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya dan sejarah masa lampau yang berupa bangunan, seperti candi, prasasti, dan masih banyak lagi. Selain berbentuk bangunan, peninggalan sejarah yang lain berupa karya sastra. Karya sastra yang berbentuk lisan maupun tulisan. Seperti yang dikatakan Nyoman dalam bukunya (2004; 11) karya sastra merupakan bagian integral kebudayaan.

Sapardi Djoko Damono (1979: 1) Karya sastra tidak jatuh dari langit, tetapi diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan aoleh masyarakat.

Salah satunya karya sastra Serat Tantri Kamandaka, serat berbentuk prosa yang menceritakan raja Aridarma yang bisa mendengar pembicaraan binatang yang diwali kisah 1001 malam: ada seorang ratu yang suka memperistri perawan. Hingga suatu saat perawan didesanya telah habis, masih tersisa satu gadis saja yaitu Dyah Tantri; suatu malam Tantri diminta untuk melayani sang raja, namun sebelum itu Tantri memohon ijin untuk bercerita. Setelah ceritanya selesai, sang raja ingin mendengar cerita lagi, begitu seterusnya hingga pada akhirnya sang raja lupa denga tujuannya itu.

Sebenarnya banyak hal yang menarik di dalam serat Tantri Kamandaka ini, salah satunya adalah Kisah ratu Aridarma yang diceritakan di dalam cerita Dyah Tantri. Ratu Aridarma adalah seorang raja yang sangat berperan untuk rakyatnya. Sehingga eksistensinya sangat berpengaruh. Ketika itu raja Aridarma adalah orang yang memiliki kekuasaan: Mariam Budiarjo ( 1984:9) memaparkan bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang dimiliki oleh seorang individu untuk mempengaruhi seseorang, yang diinginkan oleh orang pertama yang memiliki kekuasaan. Penelitian ini berpusat pada tindakan-tindakan seorang raja yang mempengaruhi eksitensinya terhadap rakyatnya yang berdasarkan Serat Tantri Kamandaka.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskripti kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang ditunjukan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena apa adanya dengan menggunakan kata-kata tanpa adanya prosedur statistika yang dilakukan oleh peneliti dengan pengumpulan data secara ilmiah. Subjek penelitian ini diambil dari Serat Tantri Kamandaka. Objek penelitian ini adalah “Eksisitensi Ratu Aridarma Sebagai Ratu Utama”. Teknik pengumpulana data yang digunakan penelitia adalah dengan teknik baca catat dan pustaka. Instrumen utama adalah Serat Tantri Kamandaka dan dan alat catat serta buku yang relevan dengan eksistensi (keberadaan) ratu Aridarma sebagai ratu utama. Teknik analisis yang digunakan yaitu teknik deskriptif. Selanjutnya teknik penyajian hasil analisis data yang digunakan adalah teknik informal. Teknik informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata yang biasa (Sudaryanto, 1993: 145)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan teori dan cerita yang terpapar di dalam Serat Tantri Kamandaka, bahwa tindakan ratu Aridarma yang mencerminkan seorang pemimpin yang patut dianut oleh rakyatnya. Ratu Aridarma menghukum  siapapun yang melanggar hokum, sekalipun orang tersebut adalah anak seorang ratu naga. Itu tandanya ratu Aridarma pemimpin yang bersikap adil dan ingin mempertahankan peraturan atau adat yang telah berlaku.

“Ing nalika punika sang ratu sawêg sasarean kaliyan ingkang garwa nama Dèwi Mayawati, sang prabu katingal sajak èmêng ing panggalih; Dèwi Mayawati matur: “Sinuwun, kadingarèn sang prabu têka botên kados sabênipun”.

Sang prabu mangsuli dhatêng garwa: “Dhèk mau, dhèk

aku ambêbedhag mênyang alas mau, aku wêruh putri naga, lakune ora gênah. Apa ana, untêl-untêlan karo ula rucah. Polah mangkono iku rak ora pantês. Kayadene brahmana wadon laki karo wong sudra, iku rak gawe rusaking bumi. Ngrusak tataning kawangsan, iku jênênge. Bênêre rak iya laki antuk brahmana. Upama putri naga mau dudu putrane naga raja, polahe mau iya ora dadi ngapa. Barêng awake putri naga, laki olèh ula rucah, iku ora pantês. Mulane si ula rucah banjur tak patèni, dene si putri naga, tak gitik, dhèk mau”. Makatên pangandikanipun sang prabu.” (Kapustakan Djawi: 63-64)

Penggalan naskah serat Tantri Kamandaka di atas merupakan percakapan antara prabu Aridarma denga isterinya yang bernama Dewi Mayawati yang menceritakan kejadian yang dialami prabu Aridarma ketika berburu di hutan mempergoki Nagini yang sedang berbuat hal yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang putri naga. Melihat hal itu, prabu Aridarma segera membunuh ular yang bersama Nagini dan memukul Nagini.

Hal itu pun diakui oleh ratu naga yang sengaja masuk ke kamar ratu Aridarma yang menyamar menjadi Brahmana dan mengecilkan diri kemudian masuk ke bawah tempat tidur. Awalnya ratu naga itu akan membunuh ratu Aridarma yang telah menyakiti anaknya yaitu Nagini. Namun setelah mendengar cerita yang sebnarnya, ratu naga tersebut memuji sifat bijaksana yang dilakukan oleh ratu Aridarma.

“Sang naga raja, ingkang wontên ing ngandhap pasareyan, mirêng lajêng anggalih: “Êlo, jêbul anakku dhewe, sing ora gênah tingkahe, e la ala bangêt, Si Nagini. Dadi sang prabu iku pancèn ratu utama, têmên-têmên ênggone dadi ratu, ngilangi rêrêgêding jagat, nyirnakake kang ala watêke”. Makatên panggalihipun sang naga raja, lajêng mêdal saking ngandhap pasareyan, wangsul awujud brahmana malih.” (Kapustakan Djawi: 64)

Di atas merupakan kutipan yang menunjukan pujian dari ratu naga untuk ratu Aridarma. Sang ratu naga berkata bahwa prabu Aridarma adalah ratu utama, sangat bersungguh-sungguh menjadi ratu, menghilangkan watak yang buruk.

Prabu Aridarrma patut menerima hadiah dari ratu naga tersebut, hadiahnya adalah ratu Aridarma bisa mendengar dan mengetahui percakapan binatang. Namun ratu Aridarma harus mematuhi aturannya, yaitu tidak boleh menceritakan kepada siapapun tentang apa yang dia dengar dari percakapan hewan. Kalo sampai melanggar maka ratu Aridarma akan meninggal.

Suatu hari, prabu Aridarma sedang bersama isterinya di kamar, ketika itu prabu Aridarma  mendengar keluhan seekor cicak betina yang mengaku tidak beruntung seperti sang ratu yang disayangi oleh pranu Aridarma. Cicak tersebut terus saja membicarakan prabu Aridarma.

“Prabu Aridarma kantun wontên ing kadhaton. Ing satunggaling dintên sang prabu sêsareyan malih kaliyan ingkang garwa, Dèwi Mayawati. Wontên cêcak èstri wontên ing nginggilipun sareyan sang prabu, angunandika: “Adhuh kêpengin têmên aku iki dingungrum kaya pangungrume sang prabu marang garwane; ora kayaa têmên awakku dikèwèr ing bojo, ora didhêmêni tur ora ditunggoni. E, tobat rêmên têmên sang prabu, kuwi marang garwane”. Makatên pangunandikaning cêcak èstri.” (Kapustakan Djawi: 65)

Jadi berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa prabu Aridarma bukan hanya raja yang disegani saja, namun beliau juga seorang suami yang sangat menyayangi sang isteri, sampai-sampai cicak saja iri dengan isterinya.

Sang prabu tertawa kecil mendengar keluh kesah cicak betina itu. Karena melihat suaminya tersenyum sendiri, bertanyalah sang Dewi kepada suaminya. Namun sang prabu tidak membritahukan apa sebab dia tersenyum dan akhirnya sang dewi merajuk ingin matin saja apabila tidak diberi tahu. Karena rasa cinta sang prabu kepada isterinya, akhirnya dia dia mau memberitahukan sebab dia tersenyu. Sebelum itu, prabu meminta sang isteri agar menyuruh abdi untuk menyiapkan sesaji dan api kematian untuknya. Hingga tiba waktunya sang prabu mengatakan semuanya kepada sang isteri. Namun, belum sempat sang prabu bercerita, dia mendengar percakapan dua ekor kambing yang merupakan suami isteri juga. Dari percakapan itu lah sang prabu sadar, bahwa siapa yang akan menakutinya apabila isterinya saja tidak takut kepadanya. Akhirnya sang prabu meninggalkan isterinya yang masuk kedalam kobaran api kematian.

“Ing salêbêtipun sang prabu sakalian wontên ing nginggil panggungan wontên menda kalih, jalêr èstri, mêdal saking grumbul. Ingkang èstri nama Wiwitan, ingkang jalêr Banggali. Menda sami nyêlak dhatêng tumangan, ingkang èstri wicantên: “Pakne thole, aku mbok ya kok jukukake janur kuning sandhing tumangan kae, arêp tak pangan, bèn sêgêr ênggonku nyidham. Wis ta gage jupukna”.

Menda jalêr mangsuli: “Kowe ki piye ta, apa ora ngêrti yèn angèl. Galo kae ta ingêtna, sing padha jaga, padha ngubêngi pangobongan, padha nggawa gêgaman, ana towok, pêdhang lan tumbak. Arêp dadi apa kowe”.

Menda èstri mangsuli: “Elo, dadi yèn ngono kowe ki ora dhêmên nyang aku. Iya wis luwung matiya aku yèn ora kêtêkan sing dadi karêpku”.

Menda jalêr wicantên: “Mati ya matiya kono, susah-susah apa aku; yèn kowe mati ya rabi manèh ta! Ora sudi aku kaya Prabu Aridarma nuruti kandhane garwane. Ora gêlêm aku kaya ngono. Kaya ngono kuwi rak dudu wong lanang prawira. Yèn wong lanang utama, bojone, dhêmên, sokur, ora ya wis. Gilo aku ki lo, sing sipat kewan wae, ora gêlêm kaya ngono kuwi, sirmu aku rak kok kon nurut karêpmu ta?”

Makatên wicantênipun pun Banggali, anggènipun ngungêl-ungêlakên èstrinipun. Prabu Aridarma mirêng lajêng, dhat, èngêt, ngandika salêbêting panggalih: “E bênêr bangêt kandhane wêdhus lanang kuwi; aku ki asor yèn kaya ngene iki; karo wêdhus wae kalah mangêrti. Wong pancèn ora patut, kandhane wêdhus wadon iku”. Sang prabu lajêng rumaos: “Sing sipat kewan wae ora gage-gage nuruti unine sing wadon; mangka aku iki ratu gêdhe; yèn aku kalah karo wong wadon, gèk sing arêp ngajèni nyang aku wae sapa. Si Banggali iku wêdhus

èlèk wae ora gêlêm nuruti karêpe sing wadon”. Makatên pangunandikanipun sang prabu.

Sasampunipun makatên sang prabu lajêng tumêdhak saking panggungan, anggêga dhatêng wicantêning menda pun Banggali, botên saèstu seda obong. Dene dana ingkang sampun kaparingakên, inggih saèstu lajêng kaparingakên, minangka wilujênganing sariranipun sang prabu, saha têtêping kaprabonipun. Sang Dèwi Mayawati saèstu ambyur ing latu, menda èstri ugi lumêbêt ing latu.” ( Kapustakan Djawi: 65-67)

Hal di atas patut dicontoh oleh pemimpin-pemimpin, apabila isterinya saja tidak takut dan patuh kepada suaminya, maka rakyat pun tidak akan hormat kepada pemimpinya.

PENUTUP

Dari analisis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa eksitensi dan tindakna seorang pemimpin sangat berpengaruh terhadap rakyat-rakyatnya dan siapapun yang berada di dekatnya.

Source https://cahsastrajawa.wordpress.com https://cahsastrajawa.wordpress.com/2017/07/13/serat-tantri-kamandaka-eksistensi-ratu-aridarma-sebagai-ratu-utama/
Comments
Loading...