Serat Sewaka Darma

0 132

Naskah atau kropak ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Seperti keterangan penulis naskahnya sendiri, naskah ini ditulis oleh Buyut Ni Dawit di Kuta Wawatan, seorang wanita yang pernah bertapa di pertapaan Ni Teja Puru Bancana di Gunung Kumbang. Di manakah letak pertapaan dan gunung tempat pertapaan ini, para sejarawan belum memastikan tempatnya. Mungkin gunung ini adalah Gunung Kumbang (1218 dpl) di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) yang sejak dulu sampai sekarang dianggap mempunyai nilai spiritual tertentu bagi masyarakatnya, di mana penduduk di sekitarnya sampai saat ini merupakan masyarakat Sunda, dan dalam beberapa aspek kehidupannya masih cukup memegang teguh tradisi leluhurnya.

Beberapa naskah kuna dari tempat bernama Gunung Sagara (800 dpl)—yang letaknya di lereng selatan Gunung Kumbang)—diambil oleh Rd. Aria Tjandranegara, Bupati Brebes (1880—1885) pada 14 November 1882, kemudian diserahkan ke K.F. Holle untuk diteliti, yang kabarnya kemudian disimpan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Meskipun penduduk kampungnya telah tidak ada setelah peristiwa pengambilan naskah oleh bupati tersebut, tempat Gunung Sagara sampai saat ini masih ada dan dikeramatkan. Kuta Wawatan, menurut para sejarawan terletak di Priangan sebelah timur, karena penulis naskah Sewaka Darma menyebutkan nama Kendan, Medang, dan Menir yang masing-masing merupakan tempat kediaman Resi Guru Manikmaya, Kandiawan, dan Wretikandayun di daerah Priangan timur.

Isi naskah Sewaka Darma secara umum berbicara mengenai ajaran yang menguraikan cara persiapan jiwa untuk menghadapi maut sebagai gerbang peralihan ke dunia gaib. Menurut Danasasmita, dkk. naskah ini merupakan salah satu bukti tentang berkembangnya aliran Tantrayana di kawasan Jawa Barat pada masa silam. Ajarannya menampilkan campuran aliran Siwa Sidanta yang menganggap semua dewa sebagai penjelmaan Siwa dengan agama Buda Mahayana. Berdasarkan isinya, usia naskah jauh lebih tua dari tipe hurufnya yang berasal dari abad ke-18 Masehi. Karena ajaran yang tersurat di dalamnya mengenai kelepasan jiwa (moksa) dengan gaya penuh kesungguhan, sulitlah diterima bila hal itu dikerjakan dalam suasana abad ke-18, bahkan abad ke-17 sekalipun. Pekerjaan itu hanya mungkin dilakukan pada saat agama Islam belum merupakan anutan umum di kawasan Jawa Barat. Sehingga fdiduga naskah ini merupakan salinan dari naskah yang lebih tua. Mungkin sekali naskah aslinya disusun paling tidak dalam abad ke-15 Masehi ketika anasir Hindu dalam kehidupan religi masyarakat Jawa Barat belum merosot terlalu jauh

Serat Sewaka merupakan ajaran tentang norma-norma yang sebaiknya dijalankan oleh seorang pegawai yang berhubungan dengan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pegawai. Amanat yang dapat diambil dari Serat Sewaka adalah yang pertama sebagai seorang pemimpin hendaknya berkepribadian menyenangkan, dermawan, pemaaf, pengayom, bijaksana adil, arif berwibawa dan mempunyai kepandaian.

Orang hidup diciptakan jadi orang miskin ataupun orang kaya hendaknya menyukuri keberadaannya, yang mendapatkan kemuliaan dari Hyang Widdi itu umumnya orang yang berasal dari rembesing madu wijiling tapa, yang dimaksud orang yang mendapatkan ilmu dari Tuhan bila kuat dan teguh bertapa, sedangkan yang kedua sebagai seorang pegawai hendaknya mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi,  tidak korupsi, dan mabuk-mabukan. sehingga dapat merugikan orang lain.

Source https://sasananuswantara.wordpress.com https://sasananuswantara.wordpress.com/2011/02/16/sewaka-dharma/
Comments
Loading...