Serat Sabdajati

0 83

Serat Sabdajati

  1. Aywa pegat ngudia ronging budyayu, margane suka basuki, dimen luwar kang kinayun, kalis ing panggawe sisip, ingkang taberi prihatos.
  2. Janganlah berhenti mencari pusat dari tekad selamat, (itulah) jalan (menuju) keselamatan dan kesenangan, agar tercapai yang dikehendaki, hindar dari perbuatan salah, (maka) hendaknyalah rajin berprihatin.
  3. Ulatana kang nganti bisa kapangguh, geledhahen kang sayekti, talitinen aywa kleru, larasan sajroning ati, den tumanggep dimen manggon.
  4. Carilah (tekad selamat itu) hingga ketemu (tercapai), selidikilah dengan sungguh-sungguh, telitilah jangan sampai keliru, sesuaikanlah di dalam hati, supaya (dapat) menerimanya hingga mendapat tempat yang tepat (dalam hati).
  5. Pamanggonane aneng pangesthi rahayu, angayomi ing tyas wening, eninging ati kang suwung, nanging sajatine isi, isine cipta kang yektos.
  6. Tempat (tekad selamat itu) ada pada cita-cita selamat, (yang) melindungi hati jernih, (yaitu) kejernihan hati yang kosong, tapi sesungguhnya berisi, isinya (ialah) cita-cita yang besar.
  7. Lakonana kalawan sabaring kalbu, yen den obah neniwasi, kasusupan setan gundhul, ambebedhung nggawa kandhi, isine rupiyah keton.
  8. Laksanakanlah dengan hati sabar, (sebab) kalau (sampai) goyah (cita-citanya tentu) mencelakakan, (karena lalu) kerasukan setan gundul, (yang) menggoda (dengan) membawa kantong, isinya rupiah (dan) ringgit.
  9. Lamun kongsi korup mring panggawe dudu, dadi pakuwoning eblis, klebumring alam pakewuh, ewuh pana ninging ati, temah wuru kabesturon.
  10. Bilamana sampai terjerumus dalam perbuatan salah, (hatinya) menjadi tempat iblis, masuk ke alam (yang) berbahaya, (menyebabkan) sulit untuk (dapat) melihat jelas (dengan) ketenangan hati, akhirnya mabok (lalu) lengah.
  11. Nora kengguh mring pamardi reh rahayu, ayuning tyas sipat kuping, kinepung panggawe rusuh, lali pasihaning Gusti, ginuntingan kaya mernos.
  12. (Lalu) tidak tergerak oleh tuntunan keselamatan, (maka) tekad keselamatannya lari tunggang langgang (menjauhinya), (kemudian dia) dikerumuni oleh perbuatan kotor, (hingga) lupa kepada kasih sayang Tuhan, (akhirnya mudah) digunting-gunting seperti kardus (yang tak berdaya).
  13. Parandene kabeh kang samya andulu, ulap kelilipen wedhi, akeh wong kang padha sujud, kinira yen Jabaril, kautus dening Hyang Manon.
  14. Meskipun demikian orang yang melihatnya, silau matanya (seperti) kemasukan pasir, (bahkan) banyak orang yang menyembahnya, (karena orang itu) dikira malaikat Jibril, (yang) diutus oleh Tuhan.
  15. Yen kang uning marang sajatining kawruh, kewuhan sajroning ati, yen tan niru ora arus, uripe kaesi-esi, yen nirua dadi asor.
  16. Jika (orang) yang mengerti ilmu yang benar, (menjadi) canggung dalam hatinya, (sebab) kalau tidak meniru tidak berharga, hidupnya disia-siakan, (tetapi) kalau meniru (tentu) menjadi hina.
  17. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, anggelar sakalir-kalir, kalamun temen tinemu, kabegjane anekani, kemurahaning Hyang Manon.
  18. Tidak percaya kepada rahasia Tuhan Maha agung (yang) membentangkan segala-gala (di bumi dan langit) bilamana bersungguh-sungguh (cita-citanya tentulah) tercapai, kebahagiaan tiba, (ialah) kemurahan Tuhan Maha Tahu.
  19. Anuhoni kabeh kang duwe panyuwun, yen temen-temen sayekti, Allah aparing pitulung, nora kurang sandhang bukti, saciptanira kalakon.
  20. (Tuhan) menepati (janji-Nya) kepada semua yang mempunyai permohonan, jika bersungguh-sungguh tentulah, Allah memberi pertolongan, (sehingga dia) tidak kekurangan sandang pangan, semua yang dicita-citakan (dapat) terkabul.
  21. Ki Pujangga nyambiwara weh pitutur, saka mangunahing Widdhi, ambuka waramipun, aling-aling kang ngalingi, angalingkap temah katon.
  22. Ki Pujangga (dengan) menyamar memberi nasihat, (dengan) pertolongan Tuhan, (sang pujangga) membuka tirai, (yaitu) tirai yang menutupi, (sesudah) tersingkap akhirnya tampak.
  23. Para janma sajroning zaman pakewuh, kasudranira andadi, daurune saya ndarung, keh tyas mirong murang margi, kasetyan wus ora katon.
  24. Orang-orang di zaman sulit, kerendahan budinya menjadi-jadi, tindak rusuhnya berlarut-larut, banyak tekad sesat (dan) salah jalan, kesetiaan sudah tidak tampak.
  25. Katuwone winawas dahat matrenyuh, kenyaming sasmita yekti, sanityaseng tyas malatkung, kongas welase kapati, sulaking zaman prihatos.
  26. Kenyataannya terlihat amat mengharukan (hati sang Pujangga), dirasakan tanda-tandanya benar, (maka) selalu membikinnya sedih, tampak sekali belas kasihan (sang pujangga) (oleh karena) tampak sorot zaman sengsara.
  27. Waluyane benjing yen wis ana Wiku, memuji ngesthi sawiji, sabuk lebu lir majenun, galibedan tudang-tuding, anacahken sakehing wong.
  28. Pulihnya kembali (zaman sengsara itu) kemudian sesudah ada Wiku, memuji ngesthi sawiji, (ia) berikat pinggang debu seperti orang sinting, berseliweran menunjuk-nunjuk, menghitung-hitung semua orang.
  29. Iku lagi sirep zaman Kalabendu, Kalasuba kang gumanti, wong cilik bisa gumuyu, nora kurang sandhang bukti, sedyane kabeh kalakon.
  30. (Waktu) itu barulah reda (keadaan) zaman terkutuk, zaman senang yang menggantikannya, orang kecil (rakyat jelata) dapat tertawa, (karena) tidak kekurangan sandang pangan, semua kehendaknya (dapat) terlaksana.
  31. Pandulune Ki Pujangga dereng kemput, mulur lir benang tinarik, nanging kaserang ing umur, andungkap kasidan jati, mulih sajatining enggon.
  32. (Sesungguhnya) penglihatan sang pujangga belum selesai sama sekali, (masih) memanjang seperti benang ditarik, tetapi terserang oleh umur, (telah) dekat dengan ajalnya, kembali ke tempatnya yang benar.
  33. Amung kurang wolung ari kang kadulu, emating pati patitis, wus katon neng lokilmakpul, angumpul ing madya ari, amerengi ri Buda Pon.
  34. Hanya kurang delapan hari (yang) terlihat (oleh sang pujangga), nyamannya ajal (yang) tepat, telah tampak di dalam suratan takdir, (segala hitungan) kumpul di waktu tengah hari, jatuh pada hari Rabu Pon.
  35. Tanggal kaping lima antaraning Luhur, Selaning taun Jimakir, Tolu Uma Aryang Jagur, Sangara winduning pati, netepi kumpul saenggon.
  36. Tanggal lima kurang lebih waktu Dhuhur, bulan Dulkangidah tahun Jimakir, Wuku Tolu-Padewan Aryang – Paringkelan Jagur, Windu Sangara (itulah saat) wafatnya (sang pujangga), (semua hitungan) tetap jatuh bersamaan.
  37. Cinitra ri Buda kaping wolulikur, Sawal ing tahun Jimakir, candraning warsa pinetung, Nembah muka pujangga ji*), Ki Pujangga amit layon.
  38. Kitab ini dikarang pada hari Rabu tanggal dua puluh delapan, bulan Sawal tahun Jimakir, bercandrasengkala, Nembah muksa pujangga ji, Ki Pujangga mohon diri meninggal dunia.
Source https://catatanwongndeso.wordpress.com https://catatanwongndeso.wordpress.com/2014/10/20/serat-sabdajati/
Comments
Loading...