Serat Jayusman, Jayustam, Jayustan

0 9

Serat Jayusman, Jayustam, Jayustan

Kisah bercorak Islam, yang teksnya dihiasi dengan gambar berwarna. Cerita dimulai dengan Kiyai Ngabdullah dari negri Kusmir, yang mempunyai Istri Nyai Ngadirah dan tiga orang anak Jayusman, Jayustam, Jayustan. Kiyai Ngabdullah sebagai tukang batu, sewaktu mau memecah batu besar, ternyata itu kratonnya raja jin, Jambayu. Oleh Raja Jambayu , Kiyai Ngabdullah diberi ayam yang dapat bertelor emas. Telor telor emas itu setiap hari dibeli oleh Raja Jambayu yang menyamar sebagai saudagar dari Hindustan. Dengan demikian Kiyai Ngabdullah menjadi kaya raya. Tetapi tidak berumur panjang dan setelah ia mati istrinya menikah dengan dengan saudagar Masngut yang jahat dan amalas. Ketiga anak tirinya dibuang ke hutan. Dihutan itu Jayustan diambil oleh Jin Kanindi, senopati perang dari raja jin Islam. Dalam peperangan Jayustan berhasil mengalahkan Jin Kafir bernama Jin Marawun, dan kemudian diambil anak oleh Raja Jin Islam.

Selanjutnya diceritakan bahwa Jayusman dikawinkan dengan putri dari Raja Senmah, karena dapat menemukan putri itu yang dicuri oleh Jin Makjun. Adapun Jayustam dalam pengembaraannya dapat menolong seekor ular yang diserang oleh seekor rajawali. Anak ular itu ternyata anak raja ular, Bujanggaraja, dari dasar laut.Kemudian Jayustam pergi mencari dua saudaranya hingga sampai dinegri Handrebat, dimana raja dari Handerbat sedang sakit yang setelah mati digantikan oleh raja muda Jayustan. Yang telah menjadi suwami dari Dewi Fatimmah, putri dari raja Handrebat.

Rupa rupanya para sarjana sastra jawa belum pernah meneliti cerita ini,sehingga tidak didapat sumber sumber reverensi cerita dengan versi semacam ini. Dlam penutup cerita ini (h.176) didapatkan sandiasma penyalinan berbunyi “Raden Harjadisastra;” pada halanman yang sama dinyatakan bahwa cerita ini dinyatakan bahwa cerita ini merupakan salinan alih bahasa dan sastra dari melayu, tanpa menyebutkan thariknya. Melihat jenis kertas yang dipakai, dapat diperkirakan naskah disalin sekitar awal abad ke-20.

Pada kebanyakan halaman bergambar,tertulis nama “Harjawirana” dengan pensil; nama kota Tegal juga sekali tertulis, yaitu pada h.1. Harjawirana itu kiranya bukan yang membuat gambar tetapi bekas pemilik naskah. Hlaman dengan gambar mungkin tambahan belakangan.atau paling tidak dibuat oleh lain orang (bukan penyalin) karena bentuk tulisan dalam keterangan yang terdapat pada tiap gambar ini sangat berbeda dan jauh lebih indah dibanding dengan tulisan teks pokok.

Naskah dilengkapi dengan dua buah ringkasan dari jaman Pnti Boedaja. Satu diantaranya, buatan M. Sinoe Moendisoera (6h.tulisan tangan, huruf jawa).

Source http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1636

Leave A Reply

Your email address will not be published.