Serat Jangka Sabdo Palon

0 75

Salah satu buku berbahasa Jawa yang sering dengan tujuan memunculkan ruang berjarak antara Islam dan Jawa adalah kitab “Jangka Sabda Palon”. Umumnya, upaya-upaya yang mengarahkan untuk memicu lebih banyak disebabkan penafsiran yang kurang memperhatikan pemahaman komprehensif terhadap keseluruhan teks. Kitab jangka tersusun dari rangkaian tembang macapat ini sering disebut secara lengkap sebagai Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon, selanjutnya diingkat sebagai Jangka Sabda Palon. Penamaan ini mungkin disebabkan konten buku ini selain memuat kisah tentang tokoh Sabda Palon, juga berisi tentang mitologi “Prabu Jayabaya”. Serat Jangka Sabdo Palon diyakini merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita. Moh. Hari Soewarno, seorang wartawan dan budayawan Jawa, dalam bukunya “Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon”, menjelaskan bahwa dalam jangka tersebut terdapat sandi asma yang menunjukkan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita.

Anggapan yang berkembang saat ini, umumnya, menyatakan bahwa “Jangka Sabda Palon” merupakan sebuah kitab jangka yang berbicara tentang kehancuran Islam di tanah Jawa dan digantikan oleh ajaran “pengganti Islam” setelah 500 tahun keruntuhan Majapahit. Opini ini rupanya telah diamini oleh sejumlah pihak tanpa mencoba bersikap kritis dan mempertanyakannya kembali. Kebanyakan orang yang turut mengiyakan pendapat ini, sering tidak memiliki akses membaca dari sumbernya secara langsung. Hanya ikut arus mengikuti wacana umum yang berkembang secara taken for granted.

Hal yang paling dirasakan, akibat kurang totalitasnya pemahaman terhadap substansi Jangka Sabda Palon adalah muncul sejumlah klaim atas penafsirannya. Klaim ini sudah tentu mewakili kepentingan tertentu untuk menjustifikasi bahwa ajaran yang dimaksud sebagai “pengganti Islam” adalah ajaran dari pemilik klaim tersebut. Terkait klaim-klaim yang muncul dari penafsiran Jangka Sabda Palon akan dibahas selanjutnya.

Kesalahpahaman yang telah terjadi ini, tidak jarang masih coba dipertahankan eksistensinya. Beberapa penulis belakangan ini berusaha memancing kembali perdebatan tentang Jangka Sabda Palon. Ruang yang selama ini telah tersekat, sepertinya hendak ditambah sekatnya kembali sehingga kenyamanan dialog yang harusnya terus dibina justru semakin jauh panggang dari api. Bambang Noorsena, misalnya, tokoh Kristen Ortodoks Syiria ini dalam bukunya “Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” merupakan salah satu penulis yang mencoba mengangkat kembali tema “marginalisasi Islam” dengan menggunakan “Jangka Sabda Palon”. Noorsena menggambarkan bahwa Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon ini merupakan salah satu gambaran bahwa Penolakan manusia Jawa yang direpresentasikan oleh tokoh Sabda Palon terhadap ajaran Islam karena agama ini dianggap memiliki corak keagamaan yang politis dan doktriner.

Selanjutnya, Noorsena membuat pernyataan bahwa Islam di Jawa pun pada akhirnya mengalami asimilasi dengan keyakinan agama terdahulu. Tentu saja, statemen Bambang Noorsena ini juga lahir dari membebek pendapat yang berkembang belaka, bukan didasarkan pada pengkajian secara langsung terhadap materi yang dibahasnya. Lebih jauh, sangat dimungkinkan Bambang Noorsena tidak membaca secara tuntas buku yang digunakan sebagai referensinya, termasuk Serat Jangka Sabda Palon. Perlu diketahui buku Bambang Noorsena ini seringkali menggunakan “Teori Pengaruh” yang tidak terstruktur dengan baik. Kelemahan paling umum yang sering dilakukan oleh penghasung teori pengaruh ialah kecenderungan membuat generalisasi secara terburu-buru, penarikan kesimpulan berdasarkan data yang belum lengkap, memaksakan data yang sebenarnya tidak relevan, dan pengamatannya hanya bersifat parsial.

Source https://susiyanto.wordpress.com https://susiyanto.wordpress.com/2010/01/24/jangka-sabda-palon-ramalan-kehancuran-islam-di-jawa/
Comments
Loading...